Ranah Minang Berduka

•October 9, 2009 • Leave a Comment

Menyalurkan bantuan lewat www.cimbuak.net

Written by hendry

minangberdukaAssalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh

Innalillaahi Wainnailaihirooji’uun

Tanggal 30 September 2009 pukua 17:16 Wib, Gampo dengan kakuatan 7,6 SR kumbali mangguncang Ranah Minang.

Untuak mambantu dunsanak kito di kampuang,cimbuak memfasiltasi dengan mambuka Dompet Bantuan Musibah Gampo untuak di serahkan ka kampuang halaman.

Bagi dunsanak nan akan memberikan sumbangan, dapek di salurkan melalui :

Untuk Penyaluran Sumbangan

Bank Mandiri :

Yayasan palanta Cimbuak

Bank mandiri cab. Sarinah

No.rek. 103-0004.9210-17

Kode SWIFT Bank Mandiri (untuk sanak yang berada diluar negeri) : BEIIIDJA

atau

Bank BCA :

RENY MUSTIKA

No Rek :777 0402 802

BCA KCU DAGO

Untuk memudahkan bagi Panitia, bagi penyumbang yang melalui Bank BCA dan Bank Mandiri, mohon di tambahkan angka 009, sebagai indetifikasi Sumbangan Bantuan Gempa Sumbar, contoh : Anda akan menyumbangkan Rp. 10.000,- maka mohon di transfer sebanyak Rp. 10.000,009. Terima Kasih

atau melalui

paypal

Paypal melalui email webmaster [at] cimbuak. net

* untuk yang mengirimkan lewat paypal harap konfirmasi di comment dibawah

Untuk konfirmasi donasi :

Lelo : 0818-274 670

Bagi dunsanak nan alah mengirim sumbangan mohon ditulih katerangan “Bantuan Gempa Sumbar”

Mari berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang

Kedudukan Dan Peranan Bundo Kanduang Di Minangkabau

•September 22, 2009 • 5 Comments

Oleh : Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Panghulu

bundokanduangSecara kodrati perempuan dan laki-laki disisi adat Minangkabau tidak dapat disamakan. Sebab bila kodrati perempuan dan laki-laki disamakan bertentangan dengan ajaran “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (ABS,SBK). Namun kedudukan dan peran perempuan dapat diberdayakan seoptimal mungkin. Dalam adat Minang, kedudukan dan peranan perempuan itu sangat besar dan sangat diharapkan keberadaannya. Adat Minangkabau sejak dulu mendudukkan perempuan pada sisi yang besar. Peranan perempuan terlihat pada asas Sistem Kekerabatan Matrilinial (SKM) di Minangkabau. Nenek moyang orang Minang sudah beretetapan hati menghitung garis keterunannya berdasarkan garis keturunan ibu. SKM itu sulit dibantah karena SKM ini merupakan dalil yang sudah hidup, tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Asas SKM itu mengandung tujuh ciri kekerabatan menurut ajaran adat Minangkabau, dimana ciri ciri matrilineal di Minangkabau adalah :

1. Garis keturunan dihitung menurut garis keturunan ibu

2. Suku anak menurut suku ibu Basuku kabakeh ibu Babangso kabakeh ayah Jauah mancari suku Dakek mancari ibu Tabang basitumpu Hinggok mancakam

3. Pusako tinggi turun dari mamak ka kamanakan, pusako randah turun dari bapak kapado anak. Dalam hal ini terjadi “ganggam bauntuak” hak kuaso pada perempuan hak mamaliharo kapado laki laki. Dan hak menikmati secara bersama sepakat kaum, ayianyo nan buliah diminum, buah nan buliah dimakan, nan batang tatap tingga, kabau pai kakbuangan tingga, luluak dibawok sado nan lakek di badan.

4. Gelar pusaka tinggi turun dari mamak kepada kemenakan laki laki.

5. Matrilokal (suami kerumah istri)

6. Exogami (kawin diluar suku

7. Sehina semalu, seraso separesao.

Continue reading ‘Kedudukan Dan Peranan Bundo Kanduang Di Minangkabau’

Kembali Ke Surau Membina Umat

•September 20, 2009 • 1 Comment

Oleh: H Mas’oed Abidin

hmasoed-96Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari.

Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim).

Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يِحْذَرُوْنَ.

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship).

Sanggup menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)

Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Musajik tampek ba ibadah,

tampek balapa ba ma’ana,

tampek balaja Alquran 30 juz,

tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya, Masjid dan Surau menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum

Continue reading ‘Kembali Ke Surau Membina Umat’

Martabat Seorang Penghulu

•September 17, 2009 • 1 Comment

Written by Amir M.S.

Seorang yang telah diangkat menjadi Penghulu oleh kaum anak kemenakannya, akan berwibawa dan disegani kalau dia sebagai seorang pemimpin lebih bisa memimpin dirinya sendiri yang dapat dicontoh dan ditauladan oleh masyarakat anak kemanakan yang dipimpinnya dalam segala tingkah laku dan perbuatannya.

Penghulu atau pemimpin yang demikian akan merupakan pemimpin yang dicintai oleh anak kemenakan dan masyarakatnya. Maka dalam ajaran adat Minangkabau perlu pemimpin itu dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengangkat martabat dan prestise penghulu tersebut, yaitu :

1. Ingek dan Jago pado Adat

Ingek di adat nan ka rusak

Jago limbago jan nyo sumbiang

urang inget pantang Takicuah

Urang jago pantang ka malingan

Continue reading ‘Martabat Seorang Penghulu’

Tujuan Hiduik

•September 5, 2009 • 2 Comments

Ditulis oleh A. B. Dt. Majo Indo

rumahadatPulai batingkek naiak
Maninggikan rueh jo buku
Manusia bapangkek turun
Maninggakan adaik jo limbago

Hiduik balingkuang adaik
Mati balingkuang tanah
Hiduik untuak mati
Dunie untuak akiraik

Hiduik baraka
Mati bariman
Hiduik bakarilaan
Mati batungkek budi

Gadjah mati maninggakan gadiang
Harimau mati maninggakan balang
Manusia mati maninggakan jaso
Continue reading ‘Tujuan Hiduik’

Barangin

•August 26, 2009 • 1 Comment

Oleh : Yusrizal KW/padangekspres.co.id

kw_baruAda yang menarik di orang Minang ini. Menggelari atau menyebut orang “barangin”, arti yang ditawarkannya bisa membuat kita mengangguk (kalau memang dia barangin), tersenyum simpul (kalau ungkapan itu sindiran gurau) atau kita sendiri yang dikatakan “barangin” dan mendengarnya malah cengengesan, sembari mengumpat, “Kurang ajar!”

Barangin ternyata sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka asyik dengan diri dan pikiran sendiri. Barangin boleh juga sebutan orang yang nekat (Hati-hati, dia barangin itu…) Suka diasung. Ada pula orang, kalau ada temannya yang tidak punya rasa malu, tidak pernah pakai etika di mana pun dia ada, maka enak saja dibilang, “dia barangin”. Kalau ada yang marah, maka akan ada pula yang menyela, “Biar sajalah, dia barangin…. Kalau marah kita ke dia, kita pula yang barangin namanya….”

Orang-orang yang mendapatkan sebutan barangin, secara tidak langsung, tindakan mereka mendapatkan permakluman. Tetapi, tentu ada pula yang tidak. Gelar barangin, kadang panggilan “sayang” komunitas atau kelompok tertentu terhadap temannya, mungkin, disebabkan sensasi yang pernah ekstrem dilakukannya. Tidak semua panggilan barangin untuk peremehan atau pemastian identitas seseorang. Dalam kehidupan bermasyarakat, pada lingkungan tertentu, umumnya ada yang orang, apakah disadari atau tidak, dikatakan barangin untuk senda gurau.

Continue reading ‘Barangin’

Gurindam Minangkabau : Pasan Mamak I

•August 23, 2009 • Leave a Comment

Yanto Jambak (gurindampusako.blogspot.com)

Rumah adatNan kanduang kamanakan mamak

Buah hati ayah jo bundo

Dek kamanakan cubolah simak

Dangakan mamak bacurito

Kok indak salah mamak mahituang

Di agak agak sampai kini

Takalo kamanakan ka dibaduang

Mamak maliek partamo sakali

Ditanggal samo bulan nan samo

Sakian tahun maso dulu

Dihituang sampai kiniko

Indak taraso wakatu balalu

Dihari baiak bulan nan baiakko

Tanggal kalahiran kamanakan

Mamak tulih gurindam ka ganti kado

Pitih tak mungkin mamak kirimkan

Mamak bukanlah urang kayo

Cadiak indak pandaipun bukan

Hanyo sabagai tandonyo cinto

Apo nan ado nan mamak barikan

Sapanjang sara’ nan mangato

Di adapt ka mamak pakaikan

Kok senteang bilai di bundo

Kok kurang ayah ka mancukuikkan

Continue reading ‘Gurindam Minangkabau : Pasan Mamak I’

Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso

•August 18, 2009 • 1 Comment

Oleh : Ekadj. Dt. Endang Pahlawan

rumahadatrumah basandi batu

adat basandi alua jo patuik

mamakai anggo jo tanggo

sarato raso jo pareso

Norma adat dibentuk oleh tungku nan tigo sajarangan : alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso. Norma ini terkristalisasi di dalam adat Minangkabau, dan digunakan dalam berbagai pertimbangan adat.

Ketiga hal ini merupakan tungku bagi pemasakan adat, sedangkan apinya adalah para pemangku adat. Setiap penghulu adat hendaknya memahami dan menguasai ketiga norma tersebut, sehingga kepemimpinan adat yang dimilikinya dapat menanak rasa keadilan dan kesejahteraan terhadap kaum yang dipimpinnya. Sedangkan bagi anak Minangkabau pada umumnya, pemahaman terhadap alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso berguna untuk menumbuhkan jatidiri dan memahami batasan-batasan hidup dalam bermasyarakat. Pasar jalan karono dilalui.

a. Alua jo Patuik

Pengertian alua (alur) adalah sesuai dengan prosedur atau tata cara yang berlaku di dalam adat. Sedangkan pengertian patuik (patut) adalah kepantasan sesuatu terletak pada tempatnya. Dengan demikian pengertian alua jo patuik adalah kesesuaian sesuatu berdasarkan prosedur adat dan terletak pada tempatnya.

Continue reading ‘Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso’

Penghulu

•July 24, 2009 • Leave a Comment

 Written by Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu.

panghuluTiap tiap Penghulu dalam nagari wajib melakukan dan memakai akal yang baik, begitu juga membawa kaum kerabatnya dan orang banyak kepada kebajikan, dan mencari ikhtiar akan menolak jalan kejahatan.

Jikalau penghulu itu menggunakan akal budinya, wajiblah dengan sidik midiknya dalam segala pekerjaan sekedar kuasa dirinya masing masing. Ditambah lagi suatu akal, penghulu wajib tahu dengan hereang dan gendeang, basa basi serta makna kata-kata kias, yakni kata kata yang mengandung arti didalamnya.

Timbang Penghulu

Penghulu itu wajib baginya menimbang baik buruk dengan baik, mudarat dan mamfaat, tinggi rendah, jauh dekat dalam segala pekerjaan yang akan dikerjakan, oleh anak buahnya.

Continue reading ‘Penghulu’

Fenomena Surau di MInangkabau

•July 22, 2009 • Leave a Comment

oleh: Drs. Bastiam, MM*/Padangmedia

padang luaBagi masyarakat Minangkabau atau Sumatera Barat pada umumnya surau tidak saja berfungsi sebagai tempat beribadah atau shalat tetapi sejak dari dulu sudah menjadi tempat/pusat kegiatan masyarakat dalam banyak hal (serba guna). Mulai dari rapat/pertemuan, peringatan hari-hari bersejarah dan kegiatan sosial lainnya.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah surau dijadikan tempat kegiatan yang edukatif bagi para remaja putra khususnya dimalam hari, yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

Kalau kita melihat sejarah masa lalu boleh dikatakan Sumatera Barat dan Minangkabau khususnya banyak melahirkan para tokoh nasional bahkan berkaliber internasional, sederet daftar panjang nama para tokoh yang berasal dari Sumatera Barat, diantaranya Mohammad Hatta, M. Yamin, H. Agus Salim, Hamka, Sutan Sjahrir. Mereka mempunyai andil besar dalam menegakkan kemerdekaan RI dimasa lalu.

Continue reading ‘Fenomena Surau di MInangkabau’