Kursus Adat Minangkabau

•January 5, 2012 • 7 Comments

Kursus  Adat dan Budaya Minangkabau

Kerjasama : LAKM – MAPPAS – RN – CIMBUAK –SMM

Kepada Yth :

Dunsanak yang berbahagia.

ABS-SBK, tentu tidak hanya untuk diperbincangkan

Adat dan Budaya Minangkabau tentu tidak hanya dibaca-baca tanpa kita berusaha untuk paham akan makna.

Untuk itulah,

InsyaAllah kami dari (LAKM-MAPPAS-RN-CIMBUAK-SMM) berencana untuk mengadakan Diskusi lebih tepatnya Kursus Adat dan Budaya Minangkabau yang diasuh oleh Mamak Azmi Dt. Bagindo (Sekretaris LKAM) . Kursus ini akan diadakan pada Minggu ke III tiap bulannya.

Untuk Kursus I ini akan kita adakan

-          Hari/ Tanggal      : Rabu  18 Januari 2012, jam 19.00-21.00

-          Tempat                : Sekretariat LAKM (Lembaga Adat dan Kebudayaan Minangkabau) sekaligus

kediaman Mamak Azmi Dt. Bagindo  Jl . Maramba No.5 Kelapa Gading Jakarta Utara,

-          Topik I                   : Dasar dan Pengertian Adat Minangkabau.

 

Bagi para dunsanak yang berminat silahkan  menghubungi panitia :

  1. M. Habdi (081388673063)
  2. Dewis Natra (HP : 08567521234)
  3. Arief Rangkayo Mulie (081316007756)
  4. Dedi Yusmen Dt RPN Tinggi (HP : 08111770719)

Demikian kami sampaikan, terimakasih atas perhatiannya

Salam

a.n Penyelenggara Kursus Adat dan Budaya Minangkabau

Kerjasama LAKM-MAPPAS-RN-CIMBUAK-SMM

Dewis Natra

KEJAYAAN (PENDIDIKAN) SURAU

•January 2, 2012 • 1 Comment

Oleh: Nelson Alwi (harian Haluan online)

KEBERADAAN surau dan atau sum­­bangsih­nya bagi kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Minang, tak bakal tergerus dari ingatan. Surau pernah berperan besar lagi sangat signifikan. Selain sebagai tempat beri­badah, ia menampung kakek-kakek uzur tiada berdaya, para duda, musafir atau anak dagang. Apalagi anak-anak serta remaja yang hendak menuntut ilmu: dunia dan akhirat.

 

Di surau, seorang anak terutama remaja putra akilbalig tidak hanya diwajibkan mengaji-mendalami Al-Quran atau seluk-beluk agama Islam, tetapi juga dibekali ilmu bela diri pencak silat dan kesenian. Kecuali itu, mereka pun dilatih menyimak dan menuturkan berbagai pengalaman sehari-hari, serta mendiskusikan permasalahan hidup dan kehi­du­pan.

 

Demikianlah arti kebera­daan surau, setidaknya, pada beberapa dekade akhir abad XIX hingga penggalan kedua abad ke-20. Tak heran kalau dari surau kemudian muncul banyak tukang kaba yang piawai berkisah, yang keprofe­sionalan­nya diperhitungkan di berbagai ajang seperti acara alek nagari, pesta perkawinan, khitanan dan juga di stasiun-stasiun kereta api atau di lepau-lepau kopi. Artinya adalah, surau turut serta mengukuh-kembangkan tradisi sastra(wan) lisan Mi­nang­kabau. Bahkan ada yang meng­klaim, bahwa benang merah peralihan dari sastra lisan ke sastra tulis pada etnik yang tak punya aksara ini, bisa ditelusuri melalui sejarah pertumbuhan pendidikan surau. Orang-orang surau, pada kurun tertentu, dengan gemilang berhasil membudidayakan huruf Arab menjelma menjadi aksara Arab-Melayu untuk mengkonkretkan buah pikiran mereka dalam bentuk tulisan atau buku. Dan sebagaimana diketahui, setelah mengenal huruf Latin, sederetan panjang (nama) pengarang asal daerah ini mendominasi paling tidak tiga dasawarsa awal perjalanan kesusastraan Indo­nesia modern.

 

Namun sesungguhnyalah, hampir semua tokoh kenamaan di berbagai bidang mengawali segalanya di dan dari surau. Sebutlah para intelektual (ekonom, ahli hukum, politikus, jurnalis, sejarawan, negarawan maupun diplomat ulung) seka­liber H Agoes Salim, Bung Hatta, Moh. Yamin, Tan Mala­ka, Natsir, Hamka dan lain sebagainya. Demikian pula tokoh pembaharu Sumatera Thawalib seperti H Abdul Karim Amrullah alias Inyiak Rasua (dikenal sebagai Doktor HC pertama di Indonesia) dan Zainuddin Labay El Yunusiy, atau Abdullah Ahmad pendiri perguruan Adabiah ketiganya murni berpendidikan surau dan, untuk sekian lama meng­ajar atau berkiprah di Surau Jambatan Basi Padang Panjang.

 

Continue reading ‘KEJAYAAN (PENDIDIKAN) SURAU’

Kaba Anggun Nan Tongga

•November 15, 2011 • 2 Comments

Kaba Anggun Nan Tongga adalah sebuah cerita atau kaba yang populer di lingkungan masyarakat Minangkabau. Di daerah-daerah berbahasa Melayucerita ini dikenal dengan nama Hikayat Anggun Cik Tunggal.

Kaba ini bercerita tentang petualangan dan kisah cinta antara Anggun Nan Tongga dan kekasihnya Gondan Gondoriah. Anggun Nan Tongga berlayar meninggalkan kampung halamannya di Kampung Dalam, Pariaman. Ia hendak mencari tiga orang pamannya yang lama tidak kembali dari merantau. Sewaktu hendak berangkat Gondan Gondoriah meminta agar Nan Tongga membawa pulang 120 buah benda dan hewan langka dan ajaib.

Meskipun pada awalnya dikisahkan secara lisan beberapa versi kaba ini sudah dicatat dan dibukukan. Salah satunya yang digubah Ambas Mahkota, diterbitkan pertama kali tahun 1960 di Bukittinggi.

Jalan Cerita

Di jorong Kampung Dalam, Pariaman hiduplah seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga, yang juga dipanggil Magek Jabang dan bergelar Magek Durahman. Ibunya Ganto Sani wafat tak lama setelah melahirkan Nan Tongga, sedangkan ayahnya pergi bertarak ke Gunung Ledang.Ia diasuh saudara perempuan ibunya yang bernama Suto Suri. Sejak kecil Nan Tongga sudah dijodohkan dengan Putri Gondan Gondoriah, anak mamaknya. Anggun Nan Tongga tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir berkuda, silat, dan pandai mengaji Quran serta dalam ilmu agamanya.

Pada suatu hari terdengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang Nangkodoh Baha membuka gelanggang untuk mencari suami bagi adiknya, Intan Korong. Nan Tongga minta izin pada Mandeh Suto Suri untuk ikut serta. Pada awalnya Mandeh Suto Suri tidak setuju, karena Nan Tongga sudah bertunangan dengan Gondan Gondoriah. namun akhirnya ia mengalah.

Continue reading ‘Kaba Anggun Nan Tongga’

MEMBACA ULANG KAJIAN TENTANG MINANGKABAU : WACANA DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN

•November 14, 2011 • Leave a Comment

MEMBACA ULANG KAJIAN TENTANG MINANGKABAU : WACANA DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN

Oleh : Zainal Arifin[1]

A. PENDAHULUAN

Alam takambang jadi guru adalah salah satu filosofi kehidupan yang sangat terkenal di masyarakat Minangkabau. Filosofi ini sering dianggap sebagai pijakan dasar bagi masyarakatnya dalam mengembangkan diri baik dalam kekinian maupun di masa yang akan datang. Taufik Abdullah (1966) mengartikan alam dalam konteks masyarakat Minangkabau ini, tidak hanya sekedar lingkungan biotis, tetapi juga dipandangnya sebagai lingkusan sosial-budaya dan lingkungan pemimiran (ideasional). Dengan kata lain, alam lebih dipandangnya sebagai ranah (dunia) tempat dimana pergulatan kehidupan dan pemikiran masyarakatnya ditemukan dan disarikan. Adaik nan ampeksebagai landasan aturan utama dalam kehidupan bermasyarakatnya, adalah salah satu cerminan bagaimana masyarakatnya menyadur sifat alam nan takambang tersebut sebagai landasan aturan dalam adaik tersebut. Begitu juga dalam aplikasinya, dimana “perubahan” dalam masyarakatnya dianggap legal (sakali aia gadang sakali tapian barubah), juga adalah cerminan bagaimana masyarakat Minangkabau begitu kuat belajar dengan alamnya. Bahkan Umar Yunus (1964) mensinyalir bahwa sebahagian besar nama-nama suku dan kaum di masyarakat Minangkabau terinspirasi dari alam.

Tulisan ini juga terinspirasi dari begitu kuatnya ajaran alam nan takambang pada masyarakat Minangkabau tersebut, sebagai pijakan dasar yang memotivasi saya untuk lebih menggali lebih dalam adat yang dikembangkan dan berkembang dalam masyarakat Minangkabau tersebut. Lebih jauh lagi, motivasi ini diharapkan bisa memancing para akademisi untuk dapat menjadikan masyarakat Minangkabau — yang telah begitu banyak dijadikan sebagai lahan kajian — sebagai pijakan untuk menggali lebih jauh dasar-dasar keilmuan baru. Keilmuan yang saya maksudkan disini tidak saja sekedar upaya menjadikan Minangkabau sebagai lahan mengasah kajian-kajian terbaru, tetapi menurut saya sangat memungkinkan bisa menjadi lahan untuk melakukan modifikasi dan penemuan teori serta metodologi baru. Walaupun cita-cita ini terlalu ambisius — bahkan mungkin terlalu “kurang ajar” untuk orang seukuran saya — namun bukan berarti hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Walaupun ini mungkin masih terlalu dini untuk disampaikan, namun sebagaimana yang saya tuliskan dalam judul diatas, bahwa ini hanyalah sebuah wacana dari saya yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan diskusi lebih jauh lagi bagi para akademisi (dan ilmuwan) lain yang menjadikan Minangkabau sebagai salah satu lahan kajian mereka. Oleh sebab itu sekali lagi saya mohon maaf atas kelancangan tulisan saya ini, namun bukan berarti saya tidak memiliki dasar untuk mengutarakannya. Dari beberapa fenomena yang terlihat di masyarakat Minangkabau sendiri, dan dari segelintir literatur yang baru sempat saya baca, sedikit banyak telah menggelitik saya untuk mengeluarkan apa yang terpikir oleh saya di saat ini tentang hal tersebut.

Continue reading ‘MEMBACA ULANG KAJIAN TENTANG MINANGKABAU : WACANA DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN’

Suku Suku di Minangkabau

•October 21, 2011 • 8 Comments

Oleh : Elmirizal Chanan St Lenggang Basa

Dikompilasi dari artikel-artikel Chatti Bilank Panday & Syafroni Gucci di Wikipedia Berbahasa Indonesia

 

Sebagaiman suku-suku lainnya di nusantara terutama Suku Batak, Suku Mandailing, Suku Nias dan Suku Tionghoa, Suku Minang juga terdiri atas banyak marga atau klan tapi menganut sistem matrilineal, yang artinya marga tersebut diwariskan menurut ibu. Di Minangkabau marga tersebut lazim dikenal sebagai ‘suku’. Pada awal pembentukan budaya Minangkabau oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, hanya ada empat suku induk dari dua kelarasan. Suku-suku tersebut adalah[4]:

  • Suku Koto
  • Suku Piliang
  • Suku Bodi
  • Suku Caniago

Dan jika melihat dari asal kata dari nama-nama suku induk tersebut, dapat dikatakan kata-kata tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta, sebagai contoh koto berasal dari kata kotto yang berarti benteng atau kubu, piliang berasal dari dua kata pele (baca : pili) dan hyang yang digabung berarti banyak dewa. sedangkan bodi berasal dari katabodhi yang berarti orang yang terbangun atau tercerahkan, dan caniago berasal dari dua kata cha(ra)na dan niaga yang berartiperjalanan anak dagang.

Demikian juga untuk suku-suku awal selain suku induk, nama-nama suku tersebut tentu berasal dari bahasa sansekerta dengan pengaruh agama Hindu dan Buddha yang berkembang disaat itu. Sedangkan perkembangan berikutnya nama-nama suku yang ada berubah pengucapannya karena perkembangan bahasa minang itu sendiri dan pengaruh dari agama Islam dan pendatang-pendatang asing yang menetap di Kerajaaan Pagaruyung.

Sekarang suku-suku dalam Minangkabau berkembang terus dan sudah mencapai ratusan suku, yang terkadang sudah sulit untuk mencari hubungannya dengan suku induk. Di antara suku-suku tersebut adalah:

  • Suku Piboda
  • Suku Pitopang
  • Suku Tanjung
  • Suku Sikumbang
  • Suku Guci
  • Suku Panai
  • Suku Jambak
  • Suku Panyalai
  • Suku Kampai
  • Suku Bendang
  • Suku Malayu
  • Suku Kutianyie
  • Suku Mandailiang
  • Suku Sipisang
  • Suku Mandaliko
  • Suku Sumagek
  • Suku Dalimo
  • Suku Simabua
  • Suku Salo
  • Suku Singkuang
  • Suku Rajo Dani

Sedangkan orang Minang di Negeri Sembilan, Malaysia, membentuk 13 suku baru yang berbeda dengan suku asalnya di Minangkabau, yaitu:

  • Suku Biduanda (Dondo)
  • Suku Batu Hampar (Tompar)
  • Suku Paya Kumbuh (Payo Kumboh)
  • Suku Mungkal
  • Suku Tiga Nenek
  • Suku Seri Melenggang (Somolenggang)
  • Suku Seri Lemak (Solomak)
  • Suku Batu Belang
  • Suku Tanah Datar
  • Suku Anak Acheh
  • Suku Anak Melaka
  • Suku Tiga Batu

Continue reading ‘Suku Suku di Minangkabau’

Pasan Mamak V

•September 23, 2011 • Leave a Comment

Oleh : Y. Majo Basa
Kamanakan mamak pamenan mato
Buah hati limpo bakuruang
Lah ampek surek kamanakan tarimo
Nan carito mamak masih tangguang

Dek sabab karano itu
Simak dek kamanakan sabuah lai
Umpamo nan indak patuik ditiru
Toloang disimak dipalajari

Disurek ka tigo jo ka ampek
Lah mamak cubo manyampaikan
Contoh umpamo nan tasirek
Santano jadi tanaman

Usah manjadi kacang miang
Gatanyo labiah bak biluluak
Lain asiang jo jilatang
Sakuliliang urang nan mabuak

Kok dicaliek sapinteh lalu
Baiak bantuak maupun rono
Banyak urang nan tatipu
Takicuah pandangan mato

Lagak bak cando kacang panjang
Manggagai tagak jo junjuang
Badaun babungo kambang
Babuah samo tagantuang

Continue reading ‘Pasan Mamak V’

NAGARI SEBAGAI UNIT KESATUAN KEAMANAN DAN PERTAHANAN

•September 8, 2011 • 1 Comment

Oleh : Mochtar Naim

I

 

D

ARI empat fungsi utama Nagari yang terlembaga di Minangkabau dan Sumatera Barat sekarang ini, termasuk Nagari sebagai unit kesatuan Keamanan dan Pertahanan. Tiga yang lainnya adalah: (1) Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan di tingkat terendah seperti Desa di Jawa dalam konteks NKRI sekarang ini; (2) Nagari sebagai unit kesatuan Adat dan Sosial-Budaya; dan (3) Nagari sebagai unit kesatuan ekonomi.  

       Nagari sebagai unit kesatuan keamanan dan pengamanan serta pertahanan merupakan bahagian yang tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dari Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan dan dua yang lainnya. Sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan maka Nagari pun mengatur aspek keamanan dan pengamanan serta pertahanan secara otonom sesuai dengan sifat Nagari yang coraknya juga otonom seperti selama ini. Karenanya orang tidak akan menemukan ada perangkat kepolisian apalagi kemiliteran sebagai aparat dari Nagari di Nagari. Orang baru menemukan aparat kepolisian dan kemiliteran di Kecamatan dan Kabupaten dst ke atas. Hanya karena Nagari seperti juga Desa adalah bahagian dari wilayah Resor Kecamatan dan Kabupaten, maka Kepolisian di mana diperlukan akan turun ke Nagari seperti juga ke Desa yang sifatnya ad hoc dan insidental. Bantuan pada Kepolisian dimintakan kalau sudah tidak bisa ditangani langsung sendiri. Secara internal di Nagari urusan keamanan dan pertahanan dilakukan sendiri oleh Nagari sebagai bahagian dari sistem berNagari. Prinsip yang dipakai adalah: “Padi dikebat dengan daunnya.”

Dalam keadaan rutin sehari-hari, karenanya, orang tidak akan melihat ada tanda-tanda bahwa keamanan dan juga pertahanan di Nagari diatur secara khusus tersendiri – kecuali bahwa di samping kantor Wali Nagari atau Jorong biasa ada “pondok rundo” tempat para pemuda atau orang kampung pria lainnya suka berkumpul sambil bersenda-gurau seperti di lepau, sembari menjaga keamanan kampung sampai larut malam. Dan di dalamnya tidak ada apa-apa kecuali tempat untuk bersantai dan minum-minum, dan, sekali-sekali, ‘bagadang,’ atau tidur di sana sampai besok pagi. Tapi coba kalau terjadi ada insiden kegaduhan, kemalingan, kebakaran rumah, atau huru-hara apapun, para pemuda dan orang lelaki sekampung lainnya akan bergeduru secara spontan turun tangan menyekap dan menyelesaikan persoalannya secara kolektif bersama-sama.

Continue reading ‘NAGARI SEBAGAI UNIT KESATUAN KEAMANAN DAN PERTAHANAN’

Menguatkan Peran Generasi Muda di Nagari

•September 2, 2011 • 1 Comment

Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.

Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW. Kepada beliau telah diberikan wahyu,  yang  mengajar berbagai program ilmu, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam aspek-aspek tertentu mengenai Islam dan kehidupan.

 

Mukaddimah

 

Para pemuda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa. Maka sepatutnya diberi amanah berbagai peran pelopor perubahan (agent of changes), dengan bekal keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Mereka harus tumbuh  menjadi kelompok :

 

إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى

Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi)

 

Pemuda-pemudi yang ingin menjernihkan akal budi dari tantangan kontemporer, mesti dibekali jati diri sesuai fitrah anugerah Allah. Tantangan kontemporer antara lainpenetrasi budaya dan sekularisme yang menjajah mentalitas manusia utamanya generasi muda bangsa di abad ini.

 

Disamping itu the globalization life style didominasi sikap yahudis serta suburnya budaya lucah (sensate culture) yang memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang dilihat (ditonton), didengar, dirasa, disentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani).dengan kebiasaan menengggak miras, pergaulan bebas dan kecanduan madat dan narkoba.

 

 

Gaya hidup globalisasi

 

Masalah besar hari ini, terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media informasi dan makin berkembang budaya pengagungan materi berlebihan (materialistik), dengan memisah dunia dari supremasi agama (sekularistik). Memuja kesenangan indera, mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Satu gejala penyimpangan budaya luhur turun temurun, yang serta merta memunculkanKriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.

 

Continue reading ‘Menguatkan Peran Generasi Muda di Nagari’

Rendang Padang Ikon Kuliner Dunia

•August 13, 2011 • 2 Comments

Jakarta - Akhirnya, pengakuan tentang kehebatan kuliner Indonesia datang dari CNN. Lembaga berita dunia ini menobatkan 50 ikon kuliner dunia, di antaranya adalah rendang padang yang didudukkan di peringkat ke-11. Tidak cukup jelas kriteria penilaiannya. Tentu saja segera muncul banyak diskusi hangat tentang pemeringkatan ini. Misalnya, kenapa justru yang didudukkan pada peringkat tertinggi adalah gaeng massaman dari Thailand? Bukankah gaeng massaman alias gulai encer daging sapi ini bahkan belum dapat menyamai kegurihan kalio alias “rendang setengah matang” kita?

OK-lah, sementara ini kita terima saja dulu. Bagi kita warga Indonesia, rendang padang adalah lauk paling populer yang disukai segenap masyarakat. Secara garis besar, rendang padang adalah gulai daging sapi yang terus dimasak sampai terkaramelisasi. Semua cairan menguap, tinggal bumbu pekat yang harum dan lemak nian. Sementara dagingnya telah menjadi empuk sekalipun tetap bertekstur. Karena itu saya sangat setuju dengan nomenklatur dalam bahasa Inggris – caramelized beef curry – seperti yang selalu di-advokasi oleh William W. Wongso. Artinya, bila belum terkaramelisasi – seperti: kalio – belum boleh disebut rendang.

Rendang tidak selalu dibuat dari daging sapi. Masakan khas kapau, misalnya, mengenal rendang ayam. Di Payakumbuh banyak dijual rendang telur sebagai oleh-oleh. Ada juga rendang jaring (jengkol) yang sebetulnya masih merupakan kalio. Rendang daging sapi orang Kapau juga unik, karena biasanya ditambahi kacang merah, atau potongan kecil singkong goreng, atau kentang kecil.

Continue reading ‘Rendang Padang Ikon Kuliner Dunia’

Menempatkan Diri Dalam Berbagai Peran Menurut Adat Dan Budaya Minangkabau

•July 28, 2011 • 1 Comment

 

 Padang Ekspres •  Puti Reno Raudha Thaib •

 

Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di Indonesia di samping suku-suku bangsa lainnya; Melayu, Bugis, Jawa, Batak dan sebagainya. Mempunyai kawasan, bahasa dan adat budaya sendiri.

Kawasan penganut budaya Minangkabau sangat luas, mencakup sebahagian daerah Riau, Jambi, Bengkulu, Negeri Sembilan dan sebagian pantai barat Aceh. Sedangkan adat dan budayanya disebut adat dan budaya Minangkabau. Adat dan budaya Minangkabau mempunyai spesifikasi dan karakteristik tersendiri. Memakai sistem kekerabatan matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu (samande, saparuik, sakaum, sasuku).
Setiap orang Minangkabau laki-laki maupun perempuan mempunyai dua bentuk keluarga.

1. Keluarga kaum (extended family)
Setiap anggota kaum, akan selalu menjaga kaumnya dari segala hal. Di bawah pimpinan mamak kepala kaum. Komunalitas yang kuat seperti ini menyebabkan terpeliharanya anggota kaum dari berbagai penyimpangan, baik penyimpangan dalam hukum adat maupun agama Islam yang dianutnya. Mereka yang berada dalam satu kaum/suku tidak boleh kawin.
2. Keluarga batih (nuclear family)
Kesatuan keluarga terkecil yang terdiri dari suami, isteri dan anak. Keluarga batih adalah ”sarana” bertemu dan berinteraksinya antara kaum suami dan kaum istri. Suami atau isteri adalah ”duta” dari kaumnya masing-masing.
Continue reading ‘Menempatkan Diri Dalam Berbagai Peran Menurut Adat Dan Budaya Minangkabau’

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 192 other followers