Menyusuri Jejak Syekh Sulaiman Arrasuli atau Inyiak Canduang, Ajarkan Kitab Kuning dari Surau Hingga

•September 2, 2008 • No Comments

Oleh : Padang Ekspres
Mengunjungi Nagari Canduang kurang afdol rasanya jika tak singgah di Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang. Di kawasan ini terdapat makam Syekh Soelaiman Arrasulli atau Inyiak Canduang dan surau tua; tempat awal ia mengajarkan ilmu agama.
Memasuki gerbang pondok pesantren, nuasan Islami begitu kental terasa. Didukung suhu yang sejuk dengan latarbelakang pemandangan Gunung Merapi, rasa sejuk terus merasuki jiwa. Di gerbang pesantren, tepat di Pos Satpam terlihat, Warning: Kawasan Wajib Berbusana Muslim!. Lepas dari gerbang, langsung terlihat sebuah makam, persis di halaman Pesantren berbentuk leter U dan berlantai III itu.Itulah makam Inyiak Canduang. Letaknya agak ke pojok halaman dekat dengan kantor pesantren. Mendekati makam, di nisannya tertulis Syekh Soelaiman Arrasulli bin Muhammad Rasoel, lahir 10 Desember 1871, wafat 1 Agustus 1970, atau wafat di usia 99 tahun. Di batu yang lain juga tertulis; 30 tahun menjadi guru besar dalam agama Islam (1908-1938).

Continue reading ‘Menyusuri Jejak Syekh Sulaiman Arrasuli atau Inyiak Canduang, Ajarkan Kitab Kuning dari Surau Hingga’

Akidah dan Akhlak Ruh Dakwah Pendidikan, Strategi Menghidupkan Pembinaan Madrasah, di Sumatera Barat

•August 20, 2008 • 1 Comment

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan
Upaya dan usaha umat Islam di Sumatera Barat di dalam menghidupkan perguruan Islam yang disebut Madrasah (kini lazim disebut Pesantren) sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Khusus untuk daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, upaya itu tampak jelas sejak dari mula pendiriannya oleh ulama di nagari dan masyarakat selingkarannya. Demikian pula dengan pengembangan madrasah-madrasah itu, sejak dari surau, mulai dari wirid ke madrasah, sampai ke perguruan tinggi, selalu dengan perlibatan dan pemberdayaan semua potensi masyarakat, sejak dari kampong sampai ke rantau.

Usaha-usaha terpadu ini, telah melahirkan berbagai tingkat pendidikan, sejak dari tingkat awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, ‘aliyah, hingga ketingkat kulliyah. Hasilnya, hingga saat ini, kita temui sebagai upaya bersama masyarakat, yang sesungguhnya sudah melalui rentang waktu yang panjang.

Selama dua abad sampai sekarang, sejak kembalinya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, lazim dikenal bergelar Tuanku Lintau. Ketiga mujahid dakwah ini telah membawa penyadaran pemikiran dan memacu semangat umat mengamalkan agama Islam yang benar di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Jalan yang mesti ditempuh adalah menggiatkan masyarakat menuntut ilmu.

Continue reading ‘Akidah dan Akhlak Ruh Dakwah Pendidikan, Strategi Menghidupkan Pembinaan Madrasah, di Sumatera Barat’

Pengertian Alur, Pasambahan dan Pidato dalam Adat Minangkabau

•August 16, 2008 • No Comments

Oleh : R. St. Tandiko dan M.I. Rajo Batuah
Wednesday, 16 February 2005

Alur
Biasanya dipakai di didalam penuturan ninik mamak dan cerdik pandai pada upacara adat di Minangkabau. Isinya banyak mengandung kiasan, pepatah-petitih sesuai dengan bunyi pepatah Minangkabau :
Tembak dibari ba alamat, kato dibari bakiasan
Kilek baliuang alah ka kaki, kilek camin alah kamuko
Kilek kasai masuak ayie, kilek kato masuak hati
Bagarih samo taraso, bagumik samo katuju

Pasambahan,
Biasanya dipakai oleh orang muda pada upacara adat. Isinya mengandung ibarat anak mudo, seperti pantun yang menjadi permainan anak muda dalam nagari, dan merupakan bunga adat bagi ninik mamak.

Pidato,
juga biasa dipakai oleh para pemuda pada upacara adat yang sifatnya lebih besar, seperti pada acara pengankatan penghulu, atau Alek Badatuak. Isinya banyak mengandung Tambo adat lama pusaka usang Alam Minangkabau.

Continue reading ‘Pengertian Alur, Pasambahan dan Pidato dalam Adat Minangkabau’

Kato Pusako : Raso jo Pareso

•August 10, 2008 • 1 Comment

Oleh A.B. Dt. Majo Indo 

nan dimakan raso
Nan diliek rupo
Nan didanga bunyi
Nan rancak di awak
Nan katuju di urang

Nak tahu dipadeh lado
Nak tahu di asin garam
Mangauik sahabih gauang
Mamakan sahabih raso

Elok diurang katuju dek awak
Disinan baru dijalankan

Nasi dimakan raso sakam
Aie diminum raso duri

Continue reading ‘Kato Pusako : Raso jo Pareso’

Mencermati Seni Tradisi Bernafaskan Islam di Minangkabau

•August 9, 2008 • No Comments

Oleh Ediwar Chaniago / Singgalang
MASYARAkat Minangkabau dikenal sebagai penganut sistem kekerabatan yang berbentuk matrilineal (garis keturunan berasal dari pihak ibu) yang hidup secara bersuku-suku dan Islam sebagai agama mayoritasnya. Sistem kekerabatan inilah yang dianggap sebagai salah satu unsur yang memberi identitas kuat terhadap kebudayaan Minangkabau. Adat bagi orang Minangkabau dipandang sebagai suatu kebudayaan yang utuh dan juga sesuatu yang dapat berubah, di dalamnya meliputi cara-cara hidup, tata tertib, kesenian dan filsafat.Pada kebudayaan Minangkabau cukup banyak jenis kesenian yang berkembang, dan tersebar di nagari-nagari. Diantara sekian banyak kesenian yang hidup dan berkembang adalah, seni bernafaskan Islam etnik Minangkabau. Eksistensi kesenian bernafaskan Islam pada masyarakat Minangkabau merupakan salah satu unsur penting untuk kesempurnaan adat. Oleh karena itu, kesenian harus dikembangkan secara piawai dan berkelanjutan oleh masyarakatnya.

Dilihat dari segi sejarah, seni bernafaskan Islam pada awalnya berkembang di surau-surau, yaitu berfungsi sebagai media dakwah dalam pengembangan agama dan ajaran Islam oleh ulama-ulama kepada murid-murid di surau. Kesenian gaya surau yang cukup populer misalnya, salawat dulang, dikie rabano, albarzanji, indang dan sebagainya. Kesenian ini berawal dari lingkungan murid-murid surau dalam mempelajari agama Islam. Lewat kesenian itulah dipantulkan pula ajaran Islam, seperti puji-pujian kepada Allah, sanjungan kepada Nabi dan riwayatnya, sanjungan pada Alquran dan sebagainya.

Continue reading ‘Mencermati Seni Tradisi Bernafaskan Islam di Minangkabau’

Transformasi Nilai-nilai Budaya Minangkabau

•July 29, 2008 • No Comments

Oleh : Novi Yulia / Padang Ekspres

Setuju atau tidak, proses transformasi nilai dan budaya itu dilakukan melalui proses pendidikan. Pendidikan merupakan sarana dalam pengembangan dan pemeliharaan kebudayaan. Melalui pendidikan dilakukan suatu aktifitas pentransformasian atau penurunan kebudayaan. Dengan sendirinya akan meretas segala bentuk ketidaktahuan terhadap nilai-nilai budaya. Masyarakat yang terdidik akan melahirkan masyarakat yang berbudi.

Bebicara tentang budaya, di Minangkabau tidak akan bisa lepas dari membicarakan adat, syarak dan seni. Pada kata adat mengandung kearifan, terkait habbluminannas. Karena adat merupakan strata yang menata hidup dan kehidupan suatu masyarakat dalam bingkai humanisasi atau kemanusiaan. Dengan adat masyarakat Minangkabau menjadi masyarakat yang memiliki landasan dan pijakan dalam mengeksisitensikan diri di tengah kehidupan bersosial.

Strata-strata adat manata dan memanajemen baik secara pribadi maupun secara kolektif di tengah kehidupan bermasyarakat. Sehingga adanya suatu rasa untuk menghargai keberadaan orang lain. Pengaplikasian ini salah satunya dengan menjalankan suatu aturan dalam berkomunukasi dan berinteraksi yang sopan. Dengan menggunakan kata yang empat:

Continue reading ‘Transformasi Nilai-nilai Budaya Minangkabau’

Pernikahan Adat Minang Lubuk Jantan

•July 28, 2008 • No Comments

oleh : Buchyar/www.pelaminanminang.com

Setiap daerah di Minangkabau memiliki adat pernikahan yang sedikit banyak berbeda dari daerah lain. Pada hari kedua Ragam Pernikahan Nusantara 2007 tanggal 15 November, Pelaminan Minang Buchyar menampilkan prosesi pernikahan adat Minang Lubuk Jantan, Lintau - Kabupaten Tanah Datar di provinsi Sumatera Barat. Dalam prosesi pernikahan adat Minang khas Lubuk Jantan ini dipandu oleh Ibu Nusye sebagai pembawa acara dan disaksikan oleh wakil dari Bupati Tanah Datar.

Pelaminan khas Lubuk Jantan

Pelaminan khas minang ala Lubuk Jantan yang diperagakan oleh Pelaminan Minang Buchyar ini bertaburkan kain bersulamkan benang emas dengan warna yang mendominasi hitam, warna yang mewakili kalangan datuk. Singgasana pengantin di buat untuk bersila dan bersimpuh, dan bukan duduk di kursi yang melambangkan bahwa semua orang sederajat.

pelaminan minang pada ragam pernikahan nusantara
(Gambar 1.1 Pelaminan minang dengan setajuak pada acara Ragam Pernikahan Nusantara, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Continue reading ‘Pernikahan Adat Minang Lubuk Jantan’

Andok

•July 28, 2008 • No Comments

Oleh : Yusrizal KW/Padang Ekspres

Kata andok atau ondok, bagi orang Minang, memiliki arti endap, sembunyi, simpan. Atau, mengelak dari pandangan atau penglihatan orang agar tak tampak. Dia berangkat maandok-andok (mengendap-endap), agar tak tampak oleh yang lainnya. Tapi, tanpa sadar dia bagaikan maandok di balik ilalang sehelai. Artinya, sia-sia saja sembunyi, orang melihat dia. Cuma orang maandokan pandangan, pura-pura tak melihat dia pergi maandok-andok.

Bermain dan berkilah di balik atau dengan (kata) “andok”, kita bisa melahirkan ungkapan-ungkapan yang kesannya main-main, tapi ada arti dan makna yang bisa direnungkan. Maandokan kuku, betapa ungkapan itu, memberi arti kepada seseorang yang tak ingin pamer kekuatan, ingin tampak biasa-biasa saja. Maandokkan muko, ungkapan ini, bisa saja kita artikan, orang yang tak mampu menatap orang lain, karena suatu perbuatan yang memalukan di masa lalu. Walau, sedalam-dalamnya dia maandokan muko, orang tetap tahu.

Karena itu, orang demikian, punya ungkapan sendiri: Kama muko kadiandokkan, arang alah tacoreang di kaniang (kemana muka akan disembunyikan, arang sudah tercoreng di kening). Tentu, kalau kita buat ungkapan, begini misalnya: suko maandokkan muko (suka menyembunyikan wajah), artinya lebih mengarah kepada dia seorang pemalu. Suka memerah mukanya kalau ditatap orang di depannya.

Continue reading ‘Andok’

Cioteh WH :Tatolong Ai Jadi Calon Dek Lampu Mati

•July 28, 2008 • No Comments

Oleh : Wisran Hadi/Padang Ekspres

“Ai paralu tando tangan tigopuluah ribu,” kato Sabai Nan Aluih kutiko Mangkutak malapehan tarangah duduak di ateh lapiak purin di ruang tangah rumah gadang lamo nan ka hampia runtuah.
“Lah bara dapek dek aciak?” tanyo Mangkutak sambia lalu. Inyo indak paduli apo guno tando tangan tu dek Sabai.
“Tujuah,” jawek Sabai.
“Sia sia tu nan tujuah?” tanyo Mangkutak.

“Bako, anak pisang, andan pasumandan, sumando manyumando, pambayan rusuak, kamanakan di bawah luruik, kamanakan di bawah tapak,” jawek Sabai Nan Aluih.?
“Bilo musti dikumpuan tando tangan tu?” tanyo Mangkutak.
“Dedlen nyo tanggal tujuah, pukua tujuah, bulan tujuah, musti dianta tujuah urang, musti dibuek tujuah rangkap,” jawek Sabai.

“O, jadi aciak ka sato pulo mandaftar?” tanyo Mangkutak sambia bakipeh, padohal hari indak angek bagai doh.
“Ai musti sato mampajuangan nasib rakyat. Cubo caliak kini Mang. Listrik mati. Bak kato inyo se mamatian jo maiduik an. Nan rakyat tatap mambaie panuah, indak buliah telat. Nan ka lamak dek kukuran se,” kato Sabai.
“Baa caro aciak mampajuangan supayo peelen tu indak balanteh angan ka masyarakat? Ka aciak tuntuik perusahaan negara tu?” tanyo Mangkutak pulo.

Continue reading ‘Cioteh WH :Tatolong Ai Jadi Calon Dek Lampu Mati’

MEMBANGUN KARAKTER MASYARAKAT MINANGKABAU

•July 19, 2008 • No Comments

OLEH : H MAS’OED ABIDIN
MUKADIMAH
Visi propinsi Sumatera Barat adalah ingin menjadikan masyarakat Sumatera Barat sejahtera dunia akhirat.
Visi tersebut akan sulit dicapai bila tidak dirumuskan misi yang jelas, tujuan yang akan dicapai, dan sasaran yang hendak diraih, serta cara yang akan ditempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut secara tepat.
Berhasilnya teknik pencapaian tujuan dimaksud, di antaranya adalah pemahaman masyarakat dan para ninik mamak pemangku adat Minangkabau terhadap nilai-nilai adat dan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Ninik mamak sebagai pemimpin masyarakat adat Minangkabau sebagian besar berada di propinsi Sumatera Barat kini, sedang menghadapi perubahan besar, sebagai akibat dari proses globalisasi dan dunia informasi.
Minangkabau sejak dahulu hingga sekarang, tatanan kehidupan masyarakatnya sangat ideal karena didasari nilai-nilai, norma-norma adat dan agama Islam yang menyeluruh, dalam satu ungkapan adat berbunyi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Adat dan syarak di Minangkabau merupakan benteng kehidupan dunia akhirat yang disebutkan dalam petatah adat “kesudahan adat ka balairung, kasudahan syarak ka akhirat. Mamangan ini menyiratkan teguhnya benteng orang Minangkabau yang terkandung di dalam adat dan kokohnya perisai Islam yang di pagar oleh syarak.

PEMAHAMAN ADAT MINANGKABAU TERHADAP NILAI-NILAI ABSSBK.
Nilai-nilai universal dalam masyarakat Minangkabau berkaitan dengan nilai-nilai adat dan syarak dapat dikategorikan ke dalam 6 kelompok, yaitu:

1. nilai-nilai ketuhanan,
2. nilai-nilai kemanusiaan,
3. nilai-nilai persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah, kesatuan dan persatuan,
4. nilai musyawarah dan demokrasi,
5. raso pareso / akhlak / budi pekerti,
6. gotong royong / sosial kemasyarakatan.

Continue reading ‘MEMBANGUN KARAKTER MASYARAKAT MINANGKABAU’