ARTI PENTING PENDIDIKAN TINGGI MENURUT AGAMA DAN BUDAYA MINANGKABAU

Oleh :H. MAS’OED ABIDIN
Visi Misi Pendidikan Indonesia ;
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan
“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.
(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

MUKADDIMAH
Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an), yakni tidak tersentuh proses belajar mengajar dan enggan pula untuk mendengar. Pendidikan dan menuntut ilmu adalah satu kewajiban asasi anak manusia.
Bimbingan agama menyebutkan, “menuntut ilmu adalah wajib, bagi setiap lelaki dan perempuan muslim” (Al-Hadist). Dan pesan Rasul SAW juga mengingatkan, “siapa yang inginkan mendapat keberhasilan di dunia, hanya didapat dengan ilmu, dan siapa yang inginkan akhirat juga dengan ilmu, dan siapa yang inginkan keduanya juga dengan ilmu” (Al-Hadist). Dengan ilmu, seseorang akan mengabdikan kehidupannya dengan ikhlas, cerdas dan pintar, berilmu dan berakhlak, serta beramal shaleh dengan ilmunya yang menjelmakan hasanah pada diri, kerluarga, dan di tengah umat di kelilingnya.

FENOMENA GLOBAL YANG MENCEMASKAN
Di tengah kehidupan kini, tampak ada satu fenomena mencemaskan. Infiltrasi budaya asing terasa berat menghimpit. Pengaruhnya tampak kepada perubahan perilaku masyarakat. Pengagungan kekuatan materi (materialistic) secara berlebihan, sangat kentara. Kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik) mulai menjadi-jadi. Pemujaan kesenangan indera, mengejar kenikmatan badani (hedonistik), mulai susah menghindari. Secara hakiki, perilaku umat menjauh dari nilai-nilai budaya luhur.
Di Minangkabau, kaedah-kaedah – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah -, mulai terabaikan. Keadaan makin diperparah, dengan kemalasan menambah ilmu, dan enggan berprestasi. Akhirnya, rela atau tidak, situasi tersebut telah ikut mengundang maraknya kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.
Paradigma giat merantau dalam menuntut ilmu , telah bergeser kepada semata menumpuk materi, mengabaikan ilmu dan keterampilan. Akibatnya, tumbuh ketidakberdayaan generasi. Ketertinggalan dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan lemahnya minat menyerap informasi dan komunikasi. Kondisi ini telah menjadi penghalang pencapaian keberhasilan di segala bidang. Hilang network, menjadi titik lemah penilaian terhadap generasi bangsa.
Tantangan berat dapat diatasi dengan kejelian menangkap peluang. Memacu peningkatan kualitas diri, mendorong ke proses pembelajaran terpadu (integrated). Memacu diri memasuki pendidikan di tingkat perguruan tinggi, dan pengamalan contoh baik (uswah) dari akhlak agama (syari’at, etika religi), serta nilai luhur adat istiadat Minangkabau.

MENGHADAPI ARUS KESEJAGATAN
Arus kesejagatan (globalisasi) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian-penyesuaian. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya.
Arus kesejagatan (globalisasi) mesti dirancang untuk dapat ditolak mana yang tidak sesuai, dan dipakai mana yang baik. Tidak boleh ada kelalaian dan berpangku tangan di tengah mobilitas serba cepat, dan modern. Persaingan tajam kompetitif, tidak dapat dielakkan, ketika laju informasi dan komunikasi efektif tanpa batas.
Pertanyaannya, apakah kini siap menghadapi perubahan cepat penuh tantangan?. Tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas, lulusan perguruan tinggi, yang berani menerapkan ilmu, dengan kekuatan budaya, teguh (istiqamah) beragama, maka terjangan globalisasi itu, amat sulit dihadapi. Karenanya, semua elemen dalam masyarakat harus mampu bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik di era ini. Globalisasi akan mengait ke semua aspek kehidupan manusia. Salah satunya, melalui penguasaan iptek, ICT dan akhlak yang teguh.

HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH
Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.
Hapusnya panutan, lemahnya peran tokoh, dan pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, serta pupusnya wibawa keilmuan di dalam mengamalkan syariat agama Islam, selama ini, telah memperlemah daya saing anak nagari.
Lemahnya tanggung jawab masyarakat, juga berdampak kepada tindak kejahatan yang meruyak secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang, telah ikut melumpuhkan kekuatan budaya luhur di nagari Dalam struktur kekerabatan, terasalah pagar adat budaya mulai melemah. Fungsi lembaga pendidikan mulai bergeser ke bisnis. Dan, generasi mulai malas menambah ilmu.
Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah. Tatanan masyarakat berhadapan dengan berbagai kemelut. Krisis nilai ikut menggeser akhlak Tanggungjawab moral sosial mengarah ke tidak acuh (permisiveness).
Perilaku maksiat, aniaya dan durjana, mulai payah membendung. Pergaulah di tengah kehidupan juga mengalami gesekan-gesekan. Dalam menerapkan ukuran nilai, terjadi pula pergeseran tajam. Ini amat membahayakan. Krisis kridebilitas dan “erosi kepercayaan” jadi sulit dihindari. Peran orang tua, di mimbar kehidupan juga mengalami kegoncangan wibawa.
Membiarkan terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri, telah menyisakan malapetaka budaya. Bahaya mengancam ketika lemahnya jati diri. Keadaan ini terjadi karena kurang komitmen kepada nilai luhur, nilai agama (syarak), yang sejak lama sesungguhnya telah menjadi anutan bangsa.
Lemahnya jati diri dipertajam tindakan isolasi diri, dan tidak mampu menguasai “bahasa dunia” dalam politik dan ekonomi, paham agama dan tatanan social, serta budaya. Generasi bangsa mulai di jajah budaya asing di negerinya sendiri. Tertutuplah peluang peran-serta dalam kesejagatan. Hilangnya percaya diri, lebih banyak disebabkan oleh,
a. Lemah penguasaan teknologi dasar penopang perekonomian bangsa,
b. Lemah minat menuntut ilmu.
Kesenjangan sosial dan kemiskinan telah mempersempit peluang pendidikan dan kesempatan mendapatkan pekerjaan secara merata. Idealisme generasi muda tentang masa depan mulai kabur. Berawal dari terseoknya perjalanan budaya (adat) dengan mengabaikan nilai agama (syarak). Penyakit sosial yang kronis, mulai menggerogoti sendi-sendi kehidupan, di antaranya kegemaran berkorupsi. Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat menjadi cerminan perilaku yang tidak Islami. Umat mulai senang melalaikan ibadah.

MENGOPTIMALISASIKAN PERAN RUMAH TANGGA
Jati diri bangsa dibentuk oleh kuatnya peranan ibu bapa di rumah tangga, yang menjadi kekuatan inti dalam masyarakat. Semangat dan dorongan cita-cita besar, kekayaan kearifan, dimulai menanam di persemaian rumah tangga (extended family). Kedalaman pengertian dan pengamalan perilaku beradat dan beragama, kejelian melihat perubahan situasi – alun bakilek alah ta kalam -, mendorong minat lebih kuat untuk meraih pendidikan tinggi.
Untuk itu, perlu di dahulukan nelakukan ;
a. penguatan lembaga keluarga (extended family),
b. pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif, “singkek ba uleh, kurang ba tukuak”
c. peneguhan komitmen menjaga perilaku hidup beradat berbudaya.
Setiap generasi yang lahir di satu rumpun bangsa (daerah) wajib dijadikan ;
1. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa.
2. Kekuatan mewujudkan kesejahteraan yang adil merata dalam program-program pembangunan.
3. Sadar akan manfaat menjadi penggerak pembangunan dengan jelas berkesinambungan, menggerakkan partisipasi yang tumbuh dari bawah dan di payung dari atas. Setiap individu di dorong untuk maju, rasa aman yang menjamin kesejahteraan.
4. Generasi penerus yang sadar dan taat hukum.
Upaya ini dapat dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga, melalui pemeranan orang tua, ibu bapak, ninik mamak, unsur masyarakat dalam kekerabatan adat Minangkabau, yang lebih efektif.

GENERASI PENYUMBANG
Membentuk generasi penyumbang (innovator) dalam bidang pemikiran (aqliyah) harus menjadi sasaran utama. Keberhasilan didapat dengan keunggulan institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan, dengan kemampuan identifikasi masalah yang dihadapi, mengarah kepada kaderisasi, dengan penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.
Generasi baru mesti dibentuk melalui perguruan tinggi (ma’had al ‘aliy), dengan kemampuan mampu mencipta, sebagai syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya dalam masyarakat akan menyatukan semua potensi yang ada. Generasi muda berilmu harus menjadi aktor utama di pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan “nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di masa ini. Mesti memiliki budaya luhur (tamaddun), bertauhid, kreatif dan dinamik.

PENDIDIKAN DENGAN PENGUATAN NILAI BUDAYA (TAMADDUN)
Masyarakat maju yang tamaddun, adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi).
Pengkaderan melalui strategi pendidikan mesti berasas akidah agama (Islam) yang jelas tujuannya. Membuat generasi dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik, sifatnya bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan.
Generasi bangsa dapat berkembang dengan pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Akhlak karimah adalah tujuan sebenar dari proses pendidikan. Akhlak adalah wadah diri menerima ilmu-ilmu yang benar, membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh. Sesungguhnya akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.
Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, akan lahirlah saintis tak bermoral agama, dengan ilmunya banyak, tetapi imannya tipis, dengan kepedulian di tengah bermasyarakat sangat sedikit. Ilmu tanpa agama lebih menjauhkan kesadaran tanggung jawab akan hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, sebagai nilai puncak budaya Islami yang sahih.
Sikap penyayang dan adil, mengikat hubungan harmonis dengan lingkungan, ulayat, dan ekosistim, menjadi lebih indah dan sempurna. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Budaya berakhlak mulia adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Memperkaya warisan budaya dengan aqidah tauhid, istiqamah pada syari’at agama Islam, akan menularkan ilmu pengetahuan yang segar, dengan tradisi luhur.

MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS
Kita wajib membentuk sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan generasi masa depan. Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, melalui melalui gerakan pendidikan tinggi.
Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus di dalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, perlu dirancang kualita murabbi yang sedari awal dibina terpadu, dengan metodologis berasas tamaddun yang holistik. Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) berasas iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.
Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Maka, perlu domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh.

MENGUATKAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan secara sederhana adalah membina anak didik agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup menghadapi tantangan hidupnya di masa yang akan datang dengan kecerdasan yang dimilikinya.
Pada saat ini lembaga pendidikan kita belum dapat menghasilkan apa yang diharapkan karena proses pendidikan belum berjalan dengan benar. Di antaranya ;
• Pendidikan terlalu akademis, kurang menghubungkannya dengan kenyataan dalam kehidupan.
• Pendidikan masih saja menekankan pada jumlah informasi yang dapat dihafal, bukan bagaimana menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
• Pendidikan kurang menekankan pada berfikir kritis dan kreatif.
• Pendidikan kurang memberi tekanan pada pembentukan nilai dan sikap yang mencerminkan agama dan budaya serta etos kerja yang baik.
• Orientasi pendidikan pada lulus ujian dan ijazah, bukan pada kemampuan nyata yang dimiliki.
Longgarnya evaluasi belajar telah menimbulkan dampak negatif yakni kurang terdorong anak didik untuk belajar serius, karena mudah lulus walau kurang belajar.
Perlu ada kepastian pemerintah di daerah, dengan satu political action yang mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal. Political will ini sangat menentukan dalam membentuk generasi masa datang yang kuat. Beberapa langkah nyata dapat ditempuh ;
• Memperbaiki proses belajar mengajar sehingga tekanan tidak lagi hanya pada penguasaan jumlah informasi, tetapi bagaimana mencari dan mengolah informasi secara kritis dan kreatif, pembentukan kepribadian dan sikap yang baik.
• Sekolah perlu memiliki perpustakaan yang menyediakan sumber belajar yang lengkap untuk memperluas wawasan siswa dan tidak mencukupkan hanya pada buku teks.
• Keberhasilan sekolah di ukur dari kemampuan siswanya memenuhi standar
• Dorong sekolah untuk bersaing secara sehat dengan mengutamakan mutu.
• Perlu pembudayaan nilai-nilai budaya Minangkabau yang berakar ke Islam dalam keseharian di sekolah oleh seluruh warga tanpa kecuali.
Pemerintah daerah perlu mengontrol pertumbuhan sekolah swasta melalui penetapan standar yang ketat. Sosialisasi pengetatan standar mutu sekolah-sekolah secara terus menerus, mesti dilakukan secara konsisten.
Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi Menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur. “Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.

MEMBANGUN SAHSIAH GENERASI
Generasi bangsa mesti hidup mempunyai sahsiah (شخصية) yang baik. Sahsiah atau keperibadian terpuji melukiskan sifat yang mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak, akan mampu menghadirkan kesan positif dalam masyarakat bangsa dan Negara.
Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan perilaku yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang. Ciri kepribadian yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,
1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
a. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
b. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
c. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.
2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
a. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
c. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.
e. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.
3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,
3.1. Sikap Mental,
a. Cerdas teori, amali, dan sosial, menguasai hal takhassus,
b. Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih, bijak penyampaian.
c. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari
3.2. Sifat Kejiwaan,
a. emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,
b. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
c. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.
3.3. Sifat Fisik,
a. sehat tubuh,
b. berpembawaan menarik, bersih, rapi (kemas)
c. penampilan watak menyejukkan.
Semua sikap utama itu dapat dibentuk melalui pendidikan, dan mengamalkan agama dengan benar, dan tidak menyimpang dari ruh syari’at.
Maknanya, dengan pendidikan tinggi, generasi bangsa mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah dalam upaya membuat generasi yang bertanggung jawab.

MENETAPKAN LANGKAH KE DEPAN
Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan.
Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan untuk mewujudkan delapan tanggung jawab hidup;
1) Tanggungjawab terhadap Allah, dengan iman kukuh, dan ibadah istiqamah.
2) Tanggungjawab terhadap Diri, baik dari aspek fisik, emosional, mental maupun moral, dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.
3) Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam ilmu pengetahuan untuk tujuan kesejahteraan manusia.
4) Tanggungjawab terhadap Profesi, yang selalu menjaga kepercayaan dan memelihara maruah diri dengan amanah.
5) Tanggungjawab terhadap Nagari, menjaga keselamatan anak Nagari dengan ikhlas.
6) Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang mencemarkan, dan selalu menjaga kemajuan bersama karena Allah.
7) Tanggungjawab terhadap Bangsa dan Negara, menjaga kerukunan dalam syari’at Allah.
8) Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.
Generasi muda ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat maju, berteras keadilan sosial yang terang.
Strategi pendidikan maju, dan berperadaban, menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

KESIMPULANNYA ;
Ajaran tauhid mengajarkan, agar kita senantiasa menguatkan hati dengan iman dan taqwa, serta berperilaku dengan akhlak mulia. Ketahuilah, bahwa Allah selalu beserta orang yang beriman.
Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, generasi terpelajar mesti bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.
a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
b. Menggerakkan integrasi aktif,
c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.
Sebagai penutup, mari kita lihat perubahan di tengah arus globalisasi ini sebagai satu ujian, yang mendorong kita untuk selalu dapat berbuat lebih baik.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)
Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bisa menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077].
Ketika bangsa ini sedang meniti cobaan demi cobaan, di tengah arus kesejagatan yang melanda, mari tanamkan keyakinan kuat, bahwa di balik itu semua, pasti ada tangan kekuasaan Allah SWT, yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik untuk kita, sesudahnya ……. , (inna ma’al ‘ushry yusraa).
Sebagai bangsa kita mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin Allah Yang Maha Kuasa.
Maka sikap terbaik dalam menghadapi ujian demi ujian ini, adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha.
Mari kita tingkatkan kekuatan iman dan taqwa.
Amalkan akhlak mulia sesuai adat istiadat bersendi syarak.
Jaga ibadah dengan teratur, dan menguatkan diri sambil berdoa ;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى
“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa mendapatkan redha-Nya.
A m i n.
Bukittinggi , 22 Maret 2008.

 Catatan Akhir
      “Karatau madang di ulu, babuah babungo balun, marantaulah buyuang dahulu, dek di rumah paguno balun.” Dan pelajaran yang berisi, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian”, telah mulai hilang, sehingga generasi sekarang tumbuh menjadi generasi instant yang malas. Satu kekayaan merantau, di bawah tahun 1970-an, umumnya generasi Minang merantau untuk menuntut ilmu dengan kerja sambilan berdagang, agar terbentuk peribadi mandiri yang tidak memberati orang lain. Sekarang, kondisi seperti itu, menurun tajam.
    Pepatah Arab meyebutkan     لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم     artinya,  Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah, karena perbuatan demikian aibnya amatlah parah.
     Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80.
     Lihat QS.30:41
   Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.
    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya dapat menjaga diri (antisipatif).
     Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105. 
    Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8)
   QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.
    Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia). 
    Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.
  Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).
   Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.
   “wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7.
   Berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)
  Dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan, bahwa ridha terhadap qadha’, tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi nikmat, dan sabar atas bala’ (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara’a man qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam setiap tindakan keseharian.

 

 

About these ads

~ by Is Sikumbang on April 10, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 335 other followers

%d bloggers like this: