PEREMPUAN MINANGKABAU

PEREMPUAN MINANGKABAU
OLEH : LINDA PURNAWATI, S.PD
Sumatra Barat boleh berbangga, jika dilihat dari pendidikan. Secara umum perempuan dan laki-laki Minangkabau memiliki tingkat pendidikan yang relatif berimbang. Data menunjukkan bahwa siswa dan mahasiswa yang berprestasi pada umumnya adalah perempuan. Artinya saat ini Sumatra Barat mempunyai perempuan potensial yang merupakan aset bagi keberlangsungan masyarakat Sumatra Barat.
Namun potensi ini belum menjamin mapannya kehidupan seorang perempuan Sumatra Barat. Banyak perempuan belum mendapat ruang dan kesempatan yang memadai dalam pembangunan. Berbagai dilema dalam lingkungan seorang perempuan membelenggu.
Figur perempuan dalam kekerabatan sebagai limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, pusek jalo kumpalan tali, kaunduang-unduang ka Madinah kapayuang panji ka sarugo, semakin memperkuat perempuan Minangkabau menjadi perempuan yang aktif, penuh inisiatif dan menjadi teladan dalam kampung.
Artinya secara sosial dan budaya terlindungi oleh sistem matrilinealnya. Secara sosial mereka terlindungi oleh sistem kekerabatan matrilinealnya. Secara budaya mempunyai posisi yang tinggi dan terhormat dalam keluarga, dan secara ekonomi memperoleh hak atas rumah, sawah ladang serta sumber-sumber ekonomi lainnya. Selain itu perempuan Minangkabau juga diakui mempunyai hak politik. Karena perempuan diakui mempunyai kedudukan sebagai nan gadang basa batuah, kok hiduik tampek banasa, kok mati tampek baniek.
Hal di atas adalah gambaran ideal posisi dan kondisi perempuan Minangkabau. Namun saat ini semua itu untuk sebagian besar perempuan hanya tinggal menjadi riwayat dulu.
Perubahan sosial yang terjadi secara perlahan telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Minangkabau. Lunturnya nilai adat dan budaya, semakin renggangnya hubungan kekerabatan, sumber-sumber ekonomi seperti sawah ladang yang semakin sedikit, kecenderungan kepada keluarga inti, model pembangunan paternalistic dan masih banyak faktor lain yang menyebabkan perempuan posisinya, baik secara sosial budaya, ekonomi dan politik. Hal ini perlu disadari karena masyarakat cenderung terbuai dengan posisi imajinatif perempuan yang tinggi dan terhormat karena sistem matrilinealnya.
Bertambahnya jumlah anggota keluarga yang tidak lagi berimbang dengan luas tanah dan rumah yang dimiliki menyebabkan perempuan dewasa ini setelah menikah meninggalkan rumah gadang dan membentuk keluarga inti. Selain itu fenomena jual beli tanah ulayat oleh mamak kepala waris menambah berkurangnya fungsi ekonomi tanah (sawah, ladang) sebagai modal perempuan Minangkabau, cenderung memiskinkan perempuan dan memaksa mereka mencari sumber-sumber ekonomi alternatif untuk kelangsungan hidupnya.
Sekian itu bila terjadi perceraian, anak otomatis ikut dengan ibunya. Sayangnya anak tidak hanya ikut ibunya, tetapi sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibunya. Dan belum ada hukum, aturan adat yang mewajibkan (ada saksi) ayah menafkahi anak-anak yang ditinggalkan. Oleh karena itu, perceraian terutama bagi perempuan miskin akan berdampak terhadap terlantarnya anak-anak, apalagi mereka sudah tercabut jauh dari kerabat matrilinealnya. Kondisi ini merupakan salah satu faktor penyebab perempuan menjadi pelacur dan anak-anak menjadi terlantar atau anak jalanan. Data terakhir pelacur yang di rehabilitasi di Panti Sosial Andam Dewi Solok 90% diantaranya adalah perempuan Minangkabau.
Bila ditinjau lebih jauh terdapat implikasi yang berbeda antara anak perempuan dan laki-laki yang putus sekolah. Anak perempuan yang putus sekolah umumnya dinikahkan pada usia muda, tidak hanya mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan, tetapi juga untuk mengurangi beban orang tua. Kawin muda, tanpa pendidikan yang memadai, tanpa pekerjaan, mereka sepenuhnya
tergantung pada suami, kondisi ini akan berdampak kurang baik bagi keberlangsungan keluarga. Tidak jarang terjadi perceraian pada usia perkawinan yang sangat muda, rata-rata mereka telah mempunyai 1 -3 orang anak.
Jika kita melihat anak jalanan yang kian hari kian bertambah, diberbagai tempat umum di kota-kota Sumatra Barat, kemanakah perginya falsafah “anak dipangku kemenakan dibimbing?” Apalagi yang menjadi anak jalanan tersebut anak perempuan, yang pada merekalah keberlangsungan sistem matrilineal ini digantungkan.
Anak perempuan adalah anak yang diharapkan dalam masyarakat Minangkabau, selain sebagai penerus keturunan, anak perempuan lazimnya adalah untuk menjamin dan memelihara orang tua di masa akan tuanya. Oleh karena itu sebenarnya sangatlah penting bagi orang Minangkabau untuk mempersiapkan anak perempuan untuk mempunyai pendidikan yang cukup dan sosial ekonomi yang lebih baik.
Lebih lanjut model berpakaian anak-anak remaja Minangkabau yang secara normatif jauh dari budaya dan adat Minangkabau. Dimana-mana kita dapat melihat anak perempuan berpakaian ketat dan terbuka, tidak hanya di tempat hiburan tetapi juga di tempat umum dan kampus-kampus. Kondisi ini mencerminkan longgarnya kontrol keluarga dan sosial. Dan tidak suatu Iembaga atau organisasi wanita yang mampu menjaring (merazia pakaian bikini/ketat ini) kalau ada hanya sebatas wacana. Lalu dimanakah letaknya Adat Basandi Syara’-Syarak Basandi Kitabullah? Bahwa perempuan Minangkabau itu ka unduang-unduang ka Madinah ka payuang panji ka sarugo.
Demikian juga halnya dengan pakaian jilbab, jilbab atau pakaian atau pakaian muslimah akhirnya tidak lebih sekedar mode yang membentuk pasar potensial baru, sebab itu dibarengi dengan baju yang ketat dan celana yang sempit hingga menampakkan pusar. Kemana perginya lembaga dan organisasi kewanita-an masyarakat Minangkabau? Tidakkah hal ini termasuk dalam program pemberdayaan perempuan?.
Satu hal lagi realitas perempuan Minangkabau saat ini adalah meningkatnya tindak kekerasan dan perkosaan terhadap anak perempuan. Bahkan
disinyalir tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumatra Barat tahun 2005 menduduki peringkat tertinggi di Indonesia. Baik pencabulan, pelecehan seksual, penganiayaan dan perkosaan, umumnya anak berusia 4-12 tahun (di bawah umur). Yang lebih memprihatinkan lagi umumnya pelaku adalah orang yang dekat dengan korban. Jika dilihat lebih lanjut umumnya terjadi pada lingkungan terdekat seperti di rumah, tempat bermain, sekolah bahkan tempat mengaji.
Peran politik perempuan Minangkabau saat ini juga masih relatif jauh dari apa yang diamanatkan di dalam adat, yaitu bahwa perempuan adalah pemimpin yang cerdik pandai. Di dalam keluarga masih relatif banyak perempuan Minangkabau yang belum berperan secara politis, apakah sebagai tempat bertanya, pemberi solusi, pengambil keputusan dan lain-lain.
Secara lebih khusus peran politik perempuan Minangkabau dalam pemerintahan masih relatif rendah. Kedudukan perempuan yang kuat secara politis sebagai pengambil keputusan tidak relevan dengan kenyataan dalam kehidupan politik di nagari saat ini. Sejauh ini perempuan lebih banyak terlibat dalam kegiatan sosial di nagari. Sementara dalam musyawarah dan pengambilan keputusan yang berkait dengan kehidupan lainnya seperti tanah ulayat, pembangunan, sering kali diputuskan dalam rapat adat yang hanya diikuti oleh laki-laki.
Realitas lain yang juga dikemukakan di nagari saat ini adalah bahwa keanggotaan BPRN sebagai lembaga legislatif di nagari yang terdiri dari lima unsur : (1) Alim Ulama, (2) Ninik Mamak, (3) Cadiak Pandai, (4) Bundo Kanduang, (5) Pemuda. Padahal sesungguhnya perempuan juga dapat mewakili unsur-unsur lainnya, seperti unsur alim ulama, cadiak pandai dan unsur pemuda. Hasil pemilu 2004 hanya mampu mengantarkan 8% perempuan untuk duduk di lembaga legislatif baik di tingkat kabupaten/kota, maupun provinsi.
Dari tulisan di atas terlihat bahwa saat ini perempuan Minangkabau sebagian besar tidak lagi berada pada posisi yang ideal menurut adat. Hampir seluruh modal sosial, budaya dan modal ekonominya relatif tidak lagi memberi
manfaat bagi keberlangsungan kehidupan dan kualitas peran Minangkabau menghadapi berbagai persoalan yang khas karena sistem matrilinealnya.
Meskipun data menunjukkan bahwa siswa dan mahasiswa yang berprestasi di Sumatra Barat pada umumnya adalah perempuan, asset yang sangat potensial ini belum mendapat ruang yang cukup untuk memberi manfaat bagi perbaikan kehidupan perempuan Minangkabau dalam pembangunan.

Sumber : Harian Singgalang.

About these ads

~ by Is Sikumbang on June 5, 2008.

2 Responses to “PEREMPUAN MINANGKABAU”

  1. riau terutama kuansing adalah etnis melayu tapi dengan kultur minangkabau.Sudah lama saya menduga tapi suami saya yg orang asli kuansing selalu menolak.Sementara dari ilmu yg saya pelajari membenarkan dan laporan Kompas membenarkan hal itu(forum mandat rakyat?).Saat ini rumah tangga kami diujung tanduk karena suami kawin lagi dan ketika ketahuan kemudian ingin menceraikan saya.Akhirnya dia pergi dan tidak menafkahi sudah hampir 9 tahun

  2. I like it :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 335 other followers

%d bloggers like this: