Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan Minangkabau

Berbeda dengan banyak masyarakat tradisional di Nusantara ini, masyarakat dan kebudayaan Minangkabau memiliki filosofi dan pandangan hidup (weltanschauung) yang sesungguhnya mengandung nilai-nilai global yang langgeng ” tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan”. Melalui petatah-petitih serta pantun-pribahasa itu, orang akan menemukan sejumlah prinsip dasar kehidupan yang padanannya hanya ditemukan dalam kebudayaan Yunani lama dan dalam khazanah kebudayaaan Islam. Ketiganya yakni adat Minangkabau, kebudayaan Barat yang berasal Yunani (melalui pengaruh modernisme dari Barat), dan Islam, dalam prosesnya telah terjalin dalam satu jalinan ajaran yang harmonis dalam kebudayaan Minangkabau.
Dengan pendekatan dialektik tesis-antitesis dan sintesisnya, masyarakat dan kebudayaan Minangkabau telah memadu ketiga unsur budaya itu, seperti yang dipusakakan oleh masyarakat di sana saat ini. Sejumlah ciri budaya yang lekat dengan nama Minangkabau adalah: demokratis, terbuka, resiprokal (timbal balik), egaliter, sentrifugal, kompetitif, kooperatif, dan mengakomodasi konflik. Setelah itu meletakkan “nan Bana” (yang benar) sebagai raja dan hukum tertinggi. Raja yang sesungguhnya dalam kebudayaan Minangkabau bukanlah orang, melainkan “hukum yang benar itu” – suatu hukum yang di atasnya tak lain adalah Kitabullah (Alquran). Hal ini dikaitkan dengan perlambang utama kebudayaan Minangkabau yang bercoral Islami: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.
Seperti juga diungkapkan dalam tatanan masyarakat dan kebudayaan Minangkabau dikatakan:

Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka panghulu
Panghulu barajo ka mufakat
Mufakat barajo ka nan bana
Nan bana badiri sandirinyo

“Nan benar, yang berdiri sendirinya” itu adalah sebuah ungkapan budaya Minangkabau yang sangat jitu dan mendasar sekali. Ungkapan ini hanya bisa ditemukan padanannya dalam ajaran Islam dan filsafat Yunani. Terdapat tiga aspek yang dapat ditinjau dalam sajak Minang di atas, yakni:
1. Kemenakan (warga negara) yang bebas merdeka
2. Penghulu (pemimpin) yang arif dan bijaksana, dan mendasarkan semua semua kearif-bijaksanaannya itu kepada kata mufakat.
3. “nan bana” (hukum atau undang-undang) yang berdiri sendiri dan berdiri di atas segala kepentingannya.
Karena kemenakan (warga) dan para penghulu (pemimpin) itu adalah manusia-manusia yang bebas dan merdeka, maka kata mufakat melalui proses musyawarah dengan cara baio-batido (beria-bertidak: mutual deliberations) yang mengutamakan kepentingan bersama di atas yang lainnya adalah tuntunan logisnya. Yang dituntut dengan sendirinya adalah prinsip demokrasi atas dasar “duduk sama rendah, tegak sama tinggi” di antara sesama dalam menyelesaikan semua persoalan dengan semangat musyawarah: “tiada kusut yang tidak terselesaikan dan tiada keruh yang tidak terjernihkan”. Tapi perbedaan pendapat dan konflik sekalipun diakomodasikan tetap saja ada, sehingga keputusan mufakat ada yang “bulat nan boleh digolongkan” dan ada pula yang ” pecak yang boleh dilayangkan”.
Prinsip untuk beroposisi dan dominasi mayoritas atas minoritas dengan pertimbangan kekuasaan tidaklah dikenal ataupun dibenarkan. Bersandar kepada yang benar memungkinkan suara orang atau sekelompok kecil orang yang berdiri di atas kebenaran diterima oleh sekelompok yang lebih besar. Oleh karena itulah, demokrasi Minangkabau adalah demokrasi yang meletakkan kekuasaan (kedaulatan) pada rakyat atas dasar menegakkan kebenaran itu.
Demokrasi egaliter dengan “duduk sama rendah tegak sama tinggi” ini diperkuat lagi dengan sifat-sifat hubungan yang terbuka, kompetitif, kooperatif dan resiprokal dengan prinsip: lamak di awak katuju di urang (disukai oleh kedua belah pihak; win-win solution).
Prinsip yang sama adalah menerima perbedaan pendapat dan mengakomodasi konflik.
Semua ini diungkapkan oleh adat dalam bentuk pantun-peribahasa, pepatah-petitih. Adat dan kebudayaan Minangkabaupun menerima prinsip-prinsip pembaruan dengan orientasi: change and stability. Yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan itu adalah filosofi dasar dan prinsip-prinsip dasar- yang kalau dibubut layu, diasak mati. Seperti prinsip-prinsip dasar yang dikemukakan di atas, tanpa itu dia tidak bernama Minangkabau lagi. Ini yang dinamakan dengan: Adat nan sebenar adat.
Bagaimanapun juga adat kebudayaan Minangkabau telah mengalami nasib yang sama seperti dialami Islam sesudah masa keemasannya. Nasib yang sama sekarang juga cenderung dialami oleh konstitusi 1945, yang dari satu sisi sesungguhnya adalah refleksi dari budaya sintesis Minangkabau. Ide-ide tentang kedaulatan rakyat, musyawarah, kebersamaan, keadilan, ekonomi kekeluargaan, dan sebagainya banyak diilhami ataupun ditimba dari khazanah kebudayaan Minangkabau melalui suara dan pemikiran tokoh-tokoh pendiri negara.
Namun, masyarakat Minangkabau sendiri sekarang sudah tidak lagi tertarik dengan prinsip-prinsip kehidupan yang sifatnya demokratis, egaliter, terbuka, resiprokal, sentrifugal tersebut. Di samping itu, proses degradasi nilai budaya pun terjadi, sehingga yang dipraktekkan oleh orang-orang Minang terhadap adat dan kebudayaan mereka sendiri hanya yang bersifat seremonial ketimbang melaksanakan inti hakikat dari ajaran adat dan kebudayaan tersebut. Apalagi wilayah-wilayah permasalahan yang tadinya diatur oleh adat dan agama, kini rata-rata telah diambil alih oleh negara dan pemerintahan formal. Kata-kata demokrasi, kebersamaan, keadilan, keterbukaan, hanya menjadi formalitas belaka, namun sebenarnya terorientasi kepada sumber budaya yang lebih dominan yang sesungguhnya adalah feodal, paternalistis, nepotis, sentripetal, etatis, dan sebagainya. Budaya yang lebih dominan itulah yang sekarang menyebar ke seluruh Indonesia bersamaan dengan sistem birokrasi pemerintahan yang tersentralisasi dan terkonsentrasi secara hikarkis ke pusat.
Disamping munculnya gelombang yang bernuansa feodal dan paternalistis-nepotis dari pusat kekuasaan, muncul pula gelombang besar berupa proses globalisasi yang membawa serta ide-ide demokratisasi, kompetisi pasar bebas, serta akses langsung melalui media-media telekomunikasi dan informasi, yang dengan derasnya masuk menerobos ke dalam masyarakat kita. Arus globalisasi tersebut merupakan keniscayaan dan tidak bisa dibendung. Hal yang terpenting adalah banyak dari unsur-unsur yang bersifat global tersebut serasi dan sejalan dengan alur dan jalur berpikir kebudayaan Minangkabau. Jika ekses-ekses negatif dari globalisasi tersebut ditiadakan, ataupun diarahkan ke arah yang lebih bersifat konstraktif, maka sebenarnya ketahanan budaya dapat terjaga.
Dengan orentasi budaya yang ada pada dirinya sendiri sejak semula sudah berorietasi sentrifugal (diri untuk yang lebih banyak), global dan universal, maka tidak ada yang harus dikhawatirkan oleh orang Minang dan dengan sikap orang Melayu dalam arti yang lebih luas. Bagaimanapun juga orang Minang dan orang Melayu, harus menyikapi diri dengan sikap yang positif menghadapi arus budaya globalisasi. Justru mereka harus merebut sains dan teknologi dan menjadikan diri sebagai subjek menghadapi arus globalisasi. Mereka harus dapat berinteraksi secara aktif dengan masyarakat dunia karena mereka pun adalah bagian dari masyarakat dunia itu.

Notes:

Bulat yang boleh digolongkan adalah konsensus bulat, sementara pecak yang dilayangkan adalah kesepakatan menerima pendapat suara mayoritas dengan kesediaan minoritas untuk mengalah.
“Indonesia Perlu Siap Hadapi Globalisasi Ketiga” diakses melalui http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/ pada tanggal 12 Desember 2004 pukul 14.22 WIB

Sumber : http://stayaware.wordpress.com/2008/06/12/pengaruh-globalisasi-terhadap-kebudayaan-minangkabau/

About these ads

~ by Is Sikumbang on July 2, 2008.

2 Responses to “Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan Minangkabau”

  1. Pak, awak numpang baraja all about minang yo pak, dalam bana isi blog ko mah, salam kenal & hormat awak Pak…

  2. mokasi banyak yo pak!!!!!!!!

    by:Sulaimanzt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 336 other followers

%d bloggers like this: