Kecerdasan Masyarakat Minangkabau

em14(Padang)- Merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat disangkal, bila lahirnya kebiasaan dari individu dan masyarakat (custome) dapat membentuk tatanan kelakuan (behaviour) kemudian menjadi budaya (culture). Meleburnya tiga hal tersebut (custome, behaviour, culture) melahirkan satu tatanan yang disebut dengan konvensi/kesepakatan (convention). Di sisi lain ada pula makna suka atau arbitrer yang juga merupakan kesepakatan namun kesepekatan ini tak tertulis dan lebih spesifik.

Dalam disiplin ilmu semiotik (ilmu tentang tanda), hal-hal tersebut dijadikan ‘kacamata’ untuk menilik berbagai fenomena budaya di sekitar kita. Lain padang lain ilalang, demikian kiranya ungkapan yang pantas untuk menyatakan berbagai kesepakatan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat suku Jawa sepakat mengatakan bahwa bendera kuning adalah simbol dari kedukacitaan (ada warga yang meninggal dunia). Untuk menyatakan hal yang sama, suku Rejang (di Bengkulu) menggunakan bendera hijau tua dan di Minangkabau adalah bendera hitam.

Hubungan yang terlihat tersebut merupakan landasan pemahaman yang dijelaskan oleh Saussure (Bapak Linguistik Modern) sebagai penanda (signifiant) dan petanda (siginfie). Signifiant adalah aspek bunyi, kata tulisan, gambar bentuk atau aspek material dari bahasa (konkret), sedangkan signifie adalah konsep, gambaran mental, pikiran dan realitas (abstrak). Pertautan konsep tersebut juga menegaskan pembeda antara tanda (sign), simbol (symbol), kode (code) dan ikon (icon).

Dengan singkat dijelaskan bahwa tanda adalah hubungan yang bersifat langsung dengan keadaan. Tanda dibuat berdasarakan alam, dan telah dimaknai oleh manusia secara keseluruhan. Contohnya mendung adalah tanda akan hujan (baca Semantik Djajasudarma: 1993).

Simbol/lambang adalah hubungan yang tidak langsung dengan kenyataan. Simbol dimengerti oleh kelompok tertentu dalam arti luas dan bersifat makna suka. Contohnya adalah apa yang tertulis dan apa yang terdengar, yang tergambar dan lain sebagainya. Kode merupakan sesuatu yang telah dipermanenkan dan dimengerti oleh kelompok tertentu (khusus). Contohnya kode dalam suatu sistem ilmu. Jika dilihat dari pengertian Linguistik maka bahasa adalah kode.

Ikon dijelaskan sebagai hubungan yang mendekati kepada apa yang diwakilinya. Hubungan itu bersifat langsung. Contohnya foto seseorang dengan orangnya (pemilik), rekaan kejadian dan sebagainya (baca Semiologi Roland Barthes, 2001). Dari pengertian itu, dapat dikatakan bahwa yang biasa diperhatikan, dibicarakan, dipercaya (diakui ada) oleh sekelompok orang (bukan seorang) dan menyiratkan maksud tertentu adalah simbol. Simbol tak hanya jatuh padah hal konkret saja, tapi juga mengenai hal yang abstrak.

Masyarakat Minangkabau kaya akan simbol. Terlebih lagi pada daerah yang homogen. Simbol-simbol itu di antaranya memuat pengajaran, mencakup tiap sisi kehidupan, dijunjung tinggi ‘diamalkan’ seperti pepatah-petitih. Pengajaran yang terdapat dalam bidang sosial contohnya, dikatakan bahwa sebuah perkara tak boleh tarandam-tarandam indak basah, tarapuang-apuang indak anyuik yang bermaksud bahwa persoalan harus didudukkan secara tegas, tak boleh dilalaikan penyelesaiannya.

Simbol yang ada pada penanda (signifiant) tarandam-tarandam indak basah, tarapuang-apuang indak anyuik memunculkan petanda (signifie) yaitu kecerdasan sikap (dari penutur) dalam memperhatikan hal yang unik. Hal yang tak biasa diperhatikan oleh orang lain, atau hal yang kebanyakan diabaikan, karena mungkin ada yang menganggap bahwa peristiwa kecil berlangsung di air itu (sungai) tak berarti apa-apa.

Di Minangkabau peristiwa itu justru dijadikan pesan sekaligus peringatan. Referennya (objek) yang dijelaskan adalah air. Air memiliki sifat yang dapat menyerupai media yang ditempatinya. Air menyejukkan, sehingga bisa jadi, siapa yang mendapat peringatan seperti ini, ia akan tenang dan menjalankannya secara terus menerus sebagaimana aliran air. Bentuk lain adalah jika kita terlalu percaya kepada seseorang tanpa mengetahui maksud orang tersebut, maka kita tak lebih bak balam talampau jinak, gilo maangguak-angguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.

Penggambaran seekor balam yang minum di sungai, tapi air yang tak kunjung masuk ke dalam rongga mulutnya karena keasikan mengangguk adalah hal yang sia-sia. Hal ini Jelas tak mau ditiru oleh kita (individu Minangkabau). Balam (nama jenis burung) mematuk kili-kili (gelang yang dipasang di hidung kerbau), yang dianggapnya cacing, karena berada dalam tanah. Penjelasan itu merupakan kebodohan nyata seekor balam. Sehingga tak seorang pun masyarakat Minangkabau yang mau dikatakan bagai seekor balam. Apalagi seperti balam yang disebutkan dalam pepatah petitih itu.

Kepercayaan-kepercayaan tertentu, seperti tidur di muka pintu akan dilangkah hantu; Tidur telungkup dengan kaki ke atas dianggap menyumpah orang tua, cepat meninggal; Yang menduduki bantal maka ia akan bisulan; Wanita hamil tak boleh makan pisang berdempet (pisang kembar) karena akan susah melahirkan; Jika melangkahi teman yang sedang duduk atau tidur dianggap sama dengan menghisap darahnya dan masih banyak lagi. Contoh-contoh tersebut juga merupakan simbol.

Simbol tersebut adalah kemasan dari sebuah pesan yang sederhana, bahwa perbuatan tersebut tidak baik, tidak elok dipandang orang atau sumbang dilakukan. Namun penyampaiannya terasa lebih cepat dan ‘ampuh’ diterima. Inilah yang disebut sebagai kecerdasan lingual, yang mempercepat proses sampainya pesan serta memicu gerak hasrat (hati) untuk melakukan atau tidak melakukan. Kenapa hal itu terjadi? Jawabannya adalah kecerdasan yang dimiliki suatu simbol.

Dalam bidang pengobatan, masyarakat Minangkabau pun juga memperhatikan simbol. Jika ada salah seorang yang sakit, maka yang disediakan di alamlah (murni) sebagai bahan penyembuh, seperti sitawa, sidingin, cikarau, pucuk daun pandan, rumpuik dan lain sebagainya. Berdasarkan diskusi singkat dan pengamatan penulis, masyarakat Minangkabau sepakat bahwa berbagai bahan penyembuh itu memiliki maksud (khasiat) tersendiri (simbol). Sitawa adalah simbol penawar, yaitu menawarkan racun yang masuk atau melekat dalam tubuh. Sidingin berfungsi merubah atau menurunkan kadar badan yang panas. Sitawa dan sidingin adalah pasangan sejati dalam pengobatan tradisional di Minangkabau.

Cikarau merupakan tanaman yang cepat dan mudah tumbuh, menyimbolkan pribadi yang mudah dan cepat bergaul di tengah masyarakat. Pucuk daun pandan yaitu bagian ujung daun pandan muda, berbentuk segi tiga. Pucuk ini menyimbolkan keindahan yang tak menyakiti (tak berduri). Namun bila dewasa akan muncul duri yang tajam. Duri itu difungsikan saat datang si pengganggu. Rumpuik (rumput) adalah simbol dari kerendahan hati. Meski rendah, rumput memiliki akar yang kuat, tidak mudah dicabut. Hal ini dimaksudkan agar setiap individu memiliki pendirian yang teguh.

Simbol-simbol bidang pengobatan di atas, merupakan jalan mengambil berkah dari apa yang disediakan oleh alam. Alam telah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Yang menyediakan kelengkapan alam adalah Sang Pencipta. Sehingga simbol-simbol tersebut adalah wujud kepercayaan dan keyakinan kita pada Allah. Muatan lain dari simbol tersebut adalah sugesti.

Sugesti bagi si sakit agar tetap memegang sikap-sikap sebagaimana yang disimbolkan oleh masing-masing tumbuhan tersebut. Sugesti yang juga dijadikan doa sebagai pengharapan langsung kita pada Allah. Dari penjelasan simbol-simbol di atas, satu hal yang dapat kita lihat adalah masyarakat Minangkabau cerdas dalam menggunakan simbol. Kecerdasan masyarakat Minangkabau (pengguna simbol) yang meliputi kecerdasan sikap dan jati diri, (sebagaimana yang terkandung dalam petatah petitih), kecerdasan lingual (sebagaimana pesan-pesan kausatif yang hidup di tengah masyarakat) serta kecerdasan berhadapan dengan alam dan memposisikan dirinya sebagai mahluk (seperti yang ada dalam bidang pengobatan).

Kecerdasan ini tidaklah diajarkan sebagaimana guru dengan murid bertemu di kelas. Kecerdasan ini terbentuk melalui kesadaran memaknai diri, alam dan Tuhan. Dengan mengambil berkah pada alam, memunculkan sugesti yang kuat dan menanamkan budi baik, kita layak memupuk Alam Takambang Jadi Guru sebagai simbol kecerdasan scientific bukan primitif. (Andi Asrizal-dikutip dari Padang Ekspres/IOT-01)

About these ads

~ by Is Sikumbang on April 26, 2009.

2 Responses to “Kecerdasan Masyarakat Minangkabau”

  1. Dear sahabat
    Mau bertanya, dimana dapat memperoleh sumber informasi atau litelature dari kalaimat :

    Untuk menyatakan hal yang sama, suku Rejang (di Bengkulu) menggunakan bendera hijau tua dan di Minangkabau adalah bendera hitam.

    Karena saya ingin mendapatkan informasi yang jelas untuk blog tanah rejang sebelum mempublikasinya.

    terimakasih penjelasannya

  2. Sahabat,
    Artikel saya dapat dari media http://www.padangekspres.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 336 other followers

%d bloggers like this: