ASAL DATANGNYA NAGARI

Tersebut ungkapan tambo : dari banja jadi taratak, dari taratak jadi dusun, dari dusun jadi koto, dari koto jadi nagari. Konon, begitulah terbentuknya nagari-nagari di Minangkabau.

Nenek moyang orang Minangkabau, katanya, turun dari Gunung Merapi. Dalam perkembangbiakannya mereka tak pernah pupus dari semangat petualangan sebagai pionir, pencari dan peneruka. Mereka menyebar, berkelompok-kelompok, besar dan kecil, sehingga masing-masing menemukan daerah terukaan baru.Di tempat baru, setiap keluarga bercocok tanam, berladang, dan berburu. Setiap ladang yang terbentuk berderet berbanjar itu dilengkapi dangau. Inilah yang disebut banja.Kelompok ladang-ladang itu disebut taratak. Disini tak ada penghulu. Mereka dipimpin tuo taratak, seorang yang dipilih dan dituakan diantara peladang itu, dibebani tanggung jawab persoalan bersama.Penduduk bertambah banyak, karena keturunan maupun pendatang baru. Rumah-rumah dibangun. Taratak berkembang menjadi dusun atau kampung kecil. Penghulu masih belum diperbolehkan disini. Mereka dipimpin tuo dusun. Bila dusun menjadi besar atau bersatu dengan beberapa dusun lain, terbentuklah koto (kampung besar). Koto dari bahasa Sanskerta, kota berarti benteng. Maka kota dilingkari aur berduri dan parit sekelilingnya. Sudah ada penghulu beserta kapakrambainya (pembantu tugas sehari-hari). Tapi balairungnya tak berdinding. Penghulu bertugas legislatif dalam peradatan, eksekutif dan yudikatif dalam kaum masing-masing, sekaligus anggota yudikatif dalam persoalan hukum bersama.Perkembangan selanjutnya, rumah dan kampung sudah melampaui batas benteng, terbentuklah nagari.

Undang Undang Nagari

Undang-undang Nagari menentukan persyaratan terbentuknya nagari serta kelengkapannya, sekaligus memperlihatkan sistem kekerabatan yang mendasari sistem pemerintahan.Persyaratan terungkap dalam mamangan : nagari ba-kaampek suku, dalam suku babuah paruik, kampuang ba nan tuo, rumah ba tungganai.

Sedangkan kelengkapannya : basasok bajarami, balabuah batapian, basawah baladang, bakorong bakampuang, babalai bamusajik, bagalanggang bapamedanan, bapandam pakuburan.Nagari ba-kaampek suku mengisyaratkan bahwa pembentukan sebuah nagari harus memiliki setidaknya 4 suku. Keempatnya berasal dari dua rumpun, sehingga diantara mereka bisa terjadi kawin-mawin. Masing suku mempunyai penghulu andiko.Keempat suku harus pula masing-masingnya memenuhi syarat : dalam suku babuah paruik. Artinya, dalam satu suku sudah harus ada beberapa orang nenek yang sudah bercucu-berpiut, sudah ada beberapa paruik. Ini yang disebut babuah paruik. Saparuik (seperut) ada empat generasi, yakni seorang perempuan beranak (turunan pertama/generasi kedua), lalu bercucu (turunan kedua/generasi ketiga), kemudian berpiut (turunan ketiga/generasi keempat).

Kampuang ba nan tuo, maksudnya setiap kampung (dusun) sudah mempunyai tuo kampuang. Yakni kampung yang didiami satu suku dengan beberapa paruik, atau beberapa suku dengan banyak paruik. Jadi patokannya bukan paruik, tapi suku. Disebut sasuku (sesuku), setidaknya bila sudah lima generasi; beranak, bercucu, berpiut dan bercicit (turunan keempat/generasi kelima). Pada taraf koto (kampung besar) sudah dihuni lebih dari satu suku, dan terjadi suku baru yang berasal dari pecahan suku pertama, mereka disebut sapayuang (sepayung), dipimpin oleh penghulu payung. Penghulu inilah yang biasa menjabat tuo kampuang.

Rumah batungganai menyatakan bahwa setiap rumah gadang atau rumah tuo (bisa juga ditambah beberapa rumah disekitar yang seketurunan) mempunyai seorang pemimpin yang disebut tungganai. Tungganai, biasa disebut mamak kapalo warih (mamak kepala waris), adalah kakak atau adik lelaki tertua dari nenek. Dapat pula dijabat oleh anak lelaki tertua dari si nenek bila kakak/adik lelakinya sudah tiada.Bila keempat syarat itu sudah terpenuhi, nagari boleh dibentuk. Namun harus pula terpenuhi kelengkapannya, sebagaimana tersebut diatas.Basasok bajarami, maksudnya tanah ulayatnya mempunyai batas-batas yang jelas dengan nagari-nagari tetangga dengan statusnya sebagai pusaka tinggi. Babuah batapian, lengkapnya balabuah nan golong, batapian tampek mandi. Artinya, mempunyai jalan utama yang menghubungkan dengan nagari yang lain serta jalan penghubung antar kampung. Dan memiliki tepian tempat mandi untuk memelihara kebersihan dan kesehatan.Basawah baladang; sudah mempunyai persawahan dan perladangan sebagai sumber kehidupan masyarakatnya, sekaligus sudah ada aturan pertaniannya. Bakorong bakampuang berarti penduduknya bertali adat dalam korong maupun kampung yang telah terbentuk.Babalai bamusajik merupakan unsur tempat beribadah maupun menyampaikan hasil musyawarah. Keduanya menyimbolkan penuntun kegiatan kehidupan sebagai camin nan indak kabua, palito nan indak padam.Bagalanggang bapamadenan, yakni mempunyai gelanggang (tanah lapang) tempat kegiatan berjual beli (pasar), pesta keramaian/hiburan, berandai dan berpencak silat, dll. Bapandam pakuburan dimaksudkan tempat khusus sebagai pandam pekuburan bagi penduduk yang meninggal, dan sudah ada ketentuan-ketentuannya menurut persukuan.Kelengkapan nagari ada pula yang menambahkannya dengan beberapa hal seperti bauma babendang, basuku banagari, barumah batanggo.

Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan di masa silam adalah wujud dari sistem kekerabatan. Mamangannya : kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mupakaik, mupakaik barajo ka nan bana, nan bana badiri sandirinyo.Di rumah, kamanakan saparintah mamak. Mamaklah yang berkuasa, tampek baio batido. Diatas mamak ada tungganaiyang menjadi mamak kepala waris. Bila lingkungan kediaman masih berupa taratak, maka yang dituakan diatas mamak adalah tuo taratak. Bila sudah berbentuk dusun, maka yang dituakan adalah tuo dusun. Sampai taraf ini, jika permasalahan anak kemenakan tak terselesaikan, maka tuo dusun berhubungan dengan penghulu di koto atau nagari asal.Sistem pemerintahan berdasar kekerabatan itu, dikoto sudah mirip dengan nagari. Koto dan nagari cuma beda persyaratan dan kelengkapan. Artinya, pada taraf ini fungsi tertinggi sudah dipegang oleh penghulu yang berbasis pada kekerabatan suku.Pimpinan suku adalah penghulu suku. Bila suku yang dimaksud adalah empat suku pertama peneruka sebuah negeri, maka tiap penghulu disebut penghulu andiko.Kedudukan penghulu beragam ditiap nagari. Dalam sistem Bodi Caniago, para penghulu empat suku itu disebut juga penghulu kaampek suku. Ada pula yang menyebutnya penghulu pucuk, atau penghulu tuo, tapi dalam sistem pucuak tagerai. Bersama penghulu dari suku-suku yang datang belakangan, penghulu tuo menyelenggarakan dan menjaga kelangsungan hidup nagari. Tapi, penghulu tuo memerintah untuk kaumnya serta kaum pendatang baru, sedangkan penghulu pendatang baru (yang diangkat oleh penghulu tuo) hanya berkuasa di dalam kelompoknya.Pada sistem Koto Piliang, penghulu pucuknya disebut bapucuak bulek baurek tunggang. Artinya, dalam memerintah, penghulu pucuk tidak langsung berhubungan dengan masyarakat kaumnya, tapi melalui urek tunggangnya, yakni para penghulu yang menjadi pembantu penghulu pucuk.Di bawah penghulu pucuk atau penghulu andiko, ada penghulu payung, dan penghulu indu. Penghulu indu adalah kelompok yang berasal dari belahan kaum sapayuang. Disisi lain, di bawah penghulu suku ada pula penghulu paruik.Menjalankan pemerintahan nagari, para penghulu itu mempunyai mitra kerja, yaitu panungkek (wakil), malin atau imam, manti dan dubalang.Pada sistem Bodi Caniago, di atas kerapatan penghulu-penghulu nagari terdapat kerapatan penghulu luhak. Masing-masing Luhak Tanah Datar, 50 Kota dan Agam. Kerapatan atau permusyawaratan tertinggi adalah kerapatan luhak nan tigo atau kerapatan tigo luhak. Inilah luhak bapangulu.Bila permasalahan tidak selesai di tingkat kerapatan nagari, diselesaikan di kerapatan luhak. Masih kusut, penyelesaian akhir ada di tangan kerapatan luhak nan tigo. Pada tingkat tertinggi ini berlaku pancuang putuih galangan rabah, indak bapucuak bakucambah lai, kato putuih rundiangan sudah, indak batukuak batambah lai. Maknanya, silang abih sangketo ilang, indak dapek dibantah lai.Sedangkan pada sistem Koto Piliang, nagari sakato rajo. Maksudnya nagari seperintah raja, yakni Rajo Alam di Pagaruyuang, Rajo Adat di Buo, Rajo Ibadat di Sumpukuduih. Rajo Alam ditinggikan seranting sebagai penghormatan. Ketiganya disebut rajo tigo selo. Di bawah ketiganya terdapat dewan menteri yang disebut Basa 4 Balai, terdiri dari Bandaro di Sungai Tarab, Indomo di Saruaso, Makhudum di Sumanik, Tuan Khadi di Padang Gantiang, dan Tuan Gadang di Batipuah.Pada kedua sistem Bodi Caniago dan Koto Piliang walau ada lembaga/badan yang lebih tinggi dari nagari, tapi nagarilah yang benar-benar berdaulat (otonom).Sistem pemerintahan yang telah di cancanglatiah oleh nenek moyang orang Minangkabau itu, sangatlah demokratis, terutama pada sistem Bodi Caniago. Karena berawal dari kekerabatan, maka ia menjadi egaliter dan terbuka. Sumber : Kaba Nagari

~ by Is Sikumbang on February 18, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: