BATARAM: SASTRA LISAN MINANGKABAU

Oleh Zuriati

Bataram adalah salah satu ragam tradisi bakaba (menceritakan kaba, yakni satu jenis sastra lisan Minangkabau yang berisi cerita dan berbentuk prosa liris), yang khususnya terdapat di Pesisir Selatan, Sumatra Barat, dan dalam pertunjukannya memakai adok (rebana besar) sebagai alat musik pengiring.

Cerita yang dibawakan dalam tradisi bataram ini yaitu cerita Kaba Sutan Pangaduan. Kaba Sutan Pangaduan ini bercerita tentang Sutan Pangaduan sebagai tokoh utama cerita. Dia adalah anak dari Raja Gombang Patuanan dari Kerajaan Nagari Medan Baik dan Puti Andam Dewi dari Nagari Jerong Kampung Dalam. Sutan Pangaduan ini bernasib malang: Ayahnya dibunuh oleh Raja Unggeh Layang dari Nagari Taluk Sinalai Tambang Papan sewaktu dia masih dalam kandungan ibunya dan ibunya ditawan untuk dijadikan istri oleh Unggeh Layang. Kemudian, cerita berkembang dalam kerangka Sutan Pangaduan membebaskan ibunya dari tawanan Raja Unggeh Layang dan saudaranya.

Dalam membebaskan ibunya, Sutan Pangaduan dibantu oleh saudara-saudaranya yang seayah, yaitu Puti Sari Makah, Sutan Palampaui, dan Sutan Lembak Tuah. Semua tokoh yang hadir dalam cerita ini memiliki ilmu kebatinan yang sangat tinggi. Oleh karena kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Sutan Pangaduan dan saudara-saudaranya, maka pihak Raja Unggeh Layang menyerah kalah dan membiarkan musuh-musuhnya hidup dengan tenang dan damai.

Cerita Kaba Sutan Pangaduan ini dikenal juga dengan judul Kaba Gombang Patuanan. Judul tersebut pertama didasarkan pada nama anak dalam cerita, yakni Sutan Pangaduan (sebagai tokoh utama) dan judul tersebut kedua didasarkan pada nama ayah dari tokoh utama, yakni Gombang Patuanan. Kedua judul itu merujuk kepada cerita yang sama. Cerita ini didendangkan oleh seorang pendendang (singer) yang disebut dengan tukang taram. Pendendang atau tukang taram ini sekaligus berperan sebagai pemain musik adok. Biasanya, cerita diselesaikan dalam empat kali pertunjukan (empat malam).

Penamaan bataram didasarkan pada nama orang yang pertama kali memperkenalkannya, yaitu Angku ‘Engku’ Taram. Penamaan itu berbeda dengan penamaan pada ragam tradisi bakaba lainnya di Minangkabau, seperti si jobang, rabab pasisie, dan rabab pariaman. Penamaan si jobang didasarkan pada nama tokoh utama dalam cerita, yaitu Anggun nan Tongga Magek Jabang, yang dalam bahasa Payakumbuh menjadi Jobang; dan rabab pasisie serta rabab pariaman didasarkan pada gabungan nama alat musik yang dipakai dalam pertunjukannya, yaitu rabab (sejenis biola) dan nama daerah tempat asal ragam tradisi itu, yaitu Pesisir Selatan dan Pariaman.

Biasanya, bataram dipertunjukkan di rumah penduduk yang sedang menyelenggarakan helat perkawinan, di lepau, dan di lapangan (panggung) terbuka jika ada acara alek nagari ‘pesta adat’. Dalam pertunjukannya, tukang taram duduk bersila di atas kasur yang dilengkapi dengan dua bantal. Satu bantal dipergunakan tukang taram sebagai sandaran dan satu bantal lagi diletakkan di atas paha tukang taram yang dipergunakan sebagai alas adok. Tidak ada aturan khusus mengenai posisi tempat duduk tukang taram ini.

Bataram dipertunjukkan pada malam hari, selepas shalat Isya (kira-kira pukul sembilan malam) sampai menjelang Shubuh (kira-kira pukul lima pagi). Awalnya, pertunjukan berlangsung selama empat malam dan satu malam pertunjukan disebut dengan sakalawang (satu babak). Akan tetapi, biasanya, pertunjukan yang diadakan di lepau hanya berlangsung sampai pukul dua dini hari. Begitu juga, pertunjukan yang diadakan di pesta perkawinan atau di lepau hanya berlangsung selama satu malam atau sakalawang (satu babak) dari empat kalawang (babak) cerita. Cerita yang dipertunjukkan dalam satu babak itu dianggap selesai atau tamat oleh penonton (khalayak). Oleh karena itu, babak yang akan dimainkan atau dipertunjukkan dapat dipesan, terutama oleh pihak pengundang. Artinya, pihak pengundang boleh memesan satu babak cerita yang paling diminati dari empat babak yang ada dalam cerita.

Dalam satu kalawang pertunjukan, tukang taram beristirahat sebanyak tiga kali. Waktu istirahat itu dipergunakan oleh tukang taram untuk merokok dan menikmati jedah yang disediakan oleh tuan rumah, sambil bersenda gurau dengan para penonton mengenai tokoh-tokoh cerita yang baru saja didendangkannya. Lama waktu yang dipergunakan untuk beristirahat ini kira-kira lima belas sampai dua puluh menit.

Alat musik adok merupakan alat musik tunggal yang dipakai dalam pertunjukan bataram. Adok ini diletakkan di atas paha tukang taram yang duduk bersila, dengan posisi tegak. Jadi, adok itu terletak di antara paha dan dagu tukang taram. Tangan kanan tukang taram berfungsi untuk memukul adok bagian bawah dan menghasilkan bunyi atau irama tertentu. Tangan kiri memegang adok bagian atas dan menghasilkan bunyi atau irama peningkah.

Adok dipukul perlahan dan dipukul agak cepat dan keras pada saat tukang taram mengambil napas. Pukulan terhadap adok akan berhenti sejenak pada saat ratok ‘ratap’. Ratok ‘ratap’ ini merupakan bagian cerita yang mengungkapkan kesedihan para tokoh, yang disampaikan dengan cara meratap atau menangis oleh tukang taram.

Penonton atau khalayak dari bataram didominasi oleh laki-laki. Jika ada penonton dari kaum perempuan, itu hanya bersifat sementara, sebagai ungkapan rasa ingin tahu saja. Kaum perempuan ini hanya mancigok sabanta ‘melihat sebentar’ dari dapur. Artinya, bataram ini adalah suatu dunia milik kaum laki-laki. Hal itu sangat didukung oleh, antara lain waktu pertunjukan pada malam hari dan jenis kelamin tukang taram yang laki-laki pula.

Biasanya, pada awal pertunjukan, penonton terdiri atas anak-anak, remaja, pemuda, dan orang tua-tua. Semakin malam waktu pertunjukan, semakin berkurang pula penontonnya. Penonton yang bertahan sampai pertunjukan usai (sampai pagi) adalah penonton yang tua-tua. Bagi kaum muda, datang ke pertunjukan bataram bukanlah untuk menonton, tetapi terutama untuk bertemu dan berkumpul dengan teman-teman sebaya mereka.

Sebaliknya, bagi kaum tua, datang ke pertunjukan adalah untuk menikmati cerita. Mereka terus bertahan sampai cerita selesai (sampai pagi). Mereka merasa diikat oleh cerita, dalam arti bahwa mereka merasa terlibat dan hanyut dalam cerita serta menganggap cerita itu benar-benar pernah terjadi. Mereka akan terus bertahan, karena ingin tahu cerita selanjutnya dan selengkapnya. Ketertarikan mereka dengan pertunjukan, kadangkala, diselingi dengan sorakan-sorakan dan komentar-komentar kecil, terutama berkenaan dengan tokoh-tokoh dan jalan cerita. Kadang-kadang pula, mereka berdecak kagum dengan diiringi oleh gerakan gelengan kepala, ketika tukang taram melukiskan kehebatan ilmu yang dimiliki oleh para tokoh cerita.

Teks bataram berbentuk prosa liris dengan ciri rima akhir pada setiap larik bersajak bebas. Di samping itu, pada bagian-bagian tertentu dalam cerita dipergunakan pantun, yaitu pada bagian awal babak pertama, ketika tokoh-tokoh berpisah, dan ketika peralihan cerita dari satu tokoh kepada tokoh yang lain.

Contohnya:

Kaik bakaik rotan sago
nan takaik juo di aka baha
sampai ka langik tabarito
di bumi jadi kaba

(Kait berkait rotan sagar
terkait juga pada akar bahar
sampai ke langit terberita
di bumi jadi kaba)

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Minangkabau dialek Pesisir Selatan, dan kadangkala juga dipakai bahasa Minangkabau umum. Teks bataram ini menggunakan kata-kata kiasan, perumpamaan, dan perbandingan. Jadi, bahasa teks bataram ini berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Pesisir Selatan khususnya dan masyarakat Minangkabau umumnya. Namun begitu, kata-kata yang digunakan tidak sepenuhnya bersifat tradisional. Kadangkala, tukang taram mempergunakan istilah-istilah modern, misalnya kata boong ‘bohong’.

Dalam teks bataram terdapat banyak bunyi sisipan (filler sylables), yang berfungsi sebagai penerus atau penyempurna bunyi (irama). Contohnya:

Ndeh diak kanduang yo dek diri
dangalah bana di diak kanduang
rasian yo diak oi … kato rang kampuang
mimpi yo diak ei … kato kito

(Adik kandung badan diri
dengarlah oleh adik kandung
rasian kata orang kampung
mimpi kata kita)

Banyaknya ditemukan bunyi-bunyi sisipan (filler sylables) itu disebabkan oleh penciptaan larik-larik teks didasarkan pada kesatuan pengucapan dengan panjang yang relatif sama atau caessura. Pada dasarnya, caessura adalah penggalan di tengah baris -satu baris terdiri atas 8 – 12 suku kata — untuk kepentingan irama, dan ia juga merupakan penggalan penanda untuk bagian kedua. Bunyi penyisip itu akan muncul, bila jumlah suku kata atau kata dalam kesatuan pengucapan kurang dari yang diperlukan (untuk kepentingan irama). Sebaliknya, apabila suku kata atau kata berlebih, maka terjadi pelesapan suku kata, terutama di awal kata, seperti kata ‘teh, ‘ndeh, dan ‘ndak. Kata ‘teh berasal dari kata ateh ‘atas’ dan ‘ndeh berasal dari kata ondeh ‘aduh’ serta ‘ndak berasal dari kata indak ‘tidak’.

Pertunjukan bataram diawali dengan pembakaran kemenyan. Pembakaran kemenyan ini dilakukan sebagai tanda minta izin kepada arwah tokoh-tokoh cerita yang dianggap benar-benar ada pada masa cerita itu. Biasanya, setelah kemenyan terbakar dan mengeluarkan asap dengan baunya yang khas, ketika itu cecak yang ada di loteng akan berbunyi dengan keras. Lalu, suara cecak itu dibalas oleh tukang taram dengan cara mengetuk-ngetuk lantai dengan jarinya sebanyak tiga sampai lima kali. Hal itu dipercayai sebagai tanda bahwa arwah tokoh-tokoh cerita itu ‘hadir’ di tempat pertunjukan. Kemudian, barulah tukang taram melanjutkan pertunjukan.

Selama pertunjukan, tukang taram berkonsentrasi dengan cerita yang sedang dibawakan. Kadang-kadang, ia menutupkan mata, kadang-kadang melihat kepada penonton, dan kadang-kdang juga menekurkan kepala.

Pertunjukan yang berlangsung selama empat malam diakhiri atau disempurnakan dengan memotong kambing atau dua ekor ayam. Jika, kegiatan akhir ini (sebagai syarat yang harus dipenuhi pada akhir cerita) tidak dilaksanakan, maka tukang taram percaya, bahwa dia akan menjadi seorang pesakitan, atau sesuatu bencana (alam) akan terjadi menimpa masyarakat, terutama para nelayan di lautan.

* Dosen Sastra Indonesia Universitas Andalas

~ by Is Sikumbang on February 19, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: