7 Habits of Highly Effective People dalam Masyarakat Minang

Oleh: H.Yerli Yendril  (IKM Duri – Riau). Saya percaya mungkin banyak diantara kita telah membaca buku ” 7 Habits” Karya Stephen R Covey (buku # 1 Terlaris Internasional ). Sebuah buku terkenal mengenai kepemimpinan, keefektifan dan perubahan pribadi. Buku tersebut sering dijadikan rujukan pada setiap kursus-kursus: kepemimpinan, kepribadian, psikologi dan-lain-lain.

Kalau kita lihat dan pahami apa yang dibeberkan oleh Dr. Stephen R Covey dalam buku “7 Habits of Highly Effective People ” (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Effektif ), sebenarnya dalam masyarakat Minang 7 kebiasaan tersebut sudah lebih dulu dipraktekan oleh nenek moyang kita orang Minang jauh sebelum buku 7 Habits yang ditulis oleh Mr.Covey. Banggakan? jadi orang Minang.

Sayangnya tidak ada orang Minang yang mencoba menulis dan meformulasikan kebiasaan masyarakat yang paling effektif tersebut, dalam bentuk tulisan seperti Mr.Covey. Jika ada tentu buku ini akan lebih sempurna dari karya Mr. Covey itu karena kemungkinan akan didapati tidak saja 7 tetapi bisa 10 atau 11 kebiasaan yang effektif.

Pembahasan.

Baiklah sekarang kita lihat satu persatu 7 Kebiasaan yang paling effektif dalam buku Mr.Covey yang juga dianjurkan dalam kehidupan bermasyarakat di Minang Kabau.

1.Be proactive = menjadi proaktif. (Duduak Marauik Ranjau Tagak Maninjau Jarak).

Bagaimana proactive nya masyarakat Minang seperti anjuran ungkapan diatas. Proaktif tidak saja digambarkan untuk perencanaan, kerja sama saja, tetapi lebih menyeluruh pada pengaturan waktu. Tidak ada waktu yang terbuang percuma.

Waktu duduk/istirahat digunakan untuk mencari solusi hal-hal yang pelik, waktu berdiri sebelum berjalan digunakan membuat perencanaan(planning) yang matang ke depan sebelum memulai pekerjaaan.

2. Begin with the end in mind = mulai dengan akhir dalam pikiran. ( Walau kaie nan dibantuak ikan dilauik nan diadang).

Dalam melaksanakan suatu pekerjaaan masyarakat dituntut mengetahui lebih dulu apa tujuan pekerjaan tersebut dilakukan. Tidak saja harus mempunyai visi/pandangan yang jelas tentang tentang pekerjaan tersebut, tetapi juga dibayangkan proses pekerjaan yang dilakukan dan apa hasil yang akan diperoleh.

3. Put first things first = dahulukan yang harus didahulukan. ( Mangaji dari alif, babilang dari aso).

Dalam hal prioritas melakukan sesuatu dalam masyarakat Minang telah ada aturannya mana yang harus didahulukan. Makna mangaji dari alif dan babilang dari aso mempunyai arti yang lebih lengkap. Apa saja aktifitas yang kita lakukan, apakah aktifitas yang menyangkut organisasi, pribadi, ada abc urutan prioritasnya. Tidak saja menganalisa pekerjaan/pelaksanaan pekerjaan duniawi, tetapi juga untuk urusan ukhrawi/akhirat.

Kalau mengurusi pekerjaan duniawi ada urutannya mulai dari aso dan bila mengurusi pekerjaan yang berhubungan dengan ukhrowi juga ada urutannya kita harus mulai dari a l i f. Disini jelas sekali pengaruh agama Islam mewarnai kehidupan masyarakat Minang, sesuai dengan pepatah adat: Adat basandi sayarak, syarak kitabullah.

4. Think win – win = berfikir menang-menang. ( Lamak dek awak katuju dek urang ).

Ungkapan lamak dek awak katuju dek urang, menurut hemat penulis jauh lebih komplit dari pengertian yang hanya menang-menang yang terfokus pada hasil saja. Lamak dek awak katuju dek urang,tidak saja memberikan pengertian menang-menang saja tetapi lebih dari itu yaitu suatu kemenangan yang enak, proses pencapaian kemenangan tersebut sampai hasil yang dicapai enak bagi siapa saja..Lamak dan katuju disini memberikan pengertian yang mendalam, yaitu dapat memberikan kesejahteraan semua pihak lahir-bathin.

5. Seek first to understand, then be understood = berusaha mengerti lebih dulu baru dimengerti. (Iyoan nan dek urang, baru laluan nan dek awak).

Banyak orang Minang salah mengartikan ungkapan ini dengan memberi pengertian ungkapan ini sebagai suatu sikap keras kepala,licik dll. Karena ungkapan ini dipelesetkan menjadi: Iyoan nan dek urang, laluan nan dek awak, tanpa kata sambung: b a r u . Iyoan nan dek urang baru laluan nan dek awak, mempunyai pengertian yang indah sekali. Bagaimanapun dalam suatu masalah sebelum kita melontarkan pemikiran/ide, kita mengiyakan/mengerti dulu jalan pikiran orang yang kita ajak bicara. Sebelum memberikan sesuatu ide kita perlu memposisikan diri kalau kita diposisi penerima, dan buatlah kondisi dimana kalau kitapun dapat meng IYA kan bila kita dihadapkan pada kondisi seperti itu.. Kemudian baru kita lalukan/lontarkan pemikiran kita pada orang tersebut..

Jadi bukanlah menjalankan program kita tanpa peduli orang lain setuju atau tidak setuju. Tetapi buatlah orang mengerti sampai meng “i ya”kan dulu, dan coba berdiri dipihak orang penerima sebelum menyampaikan sesuatu.

6. S y n e r g i z e = wujudkan sinergi (Ka mudiak sa antak galah, ka hilia sarangkuah dayuang. Sasuai lahie jo bathin, sasuai muluik jo hati).

Bagaimana taktis dan praktisnya orang Minang mengambarkan suatu kerja sama yang komplit. Kerja sama tidak saja digambarkan ke “gotong-royongan” nya saja tetapi lebih dari itu juga segi taktisnya. Mengambarkan suatu kerja sama yang mendahulukan mengerjakan pekerjaan yang “berat” dulu (ka mudiak), kemudian baru menyelesaikan yang ringan-ringan (ka hilia). Kerja sama ini juga perlu didukung oleh sikap moral yang baik: Sasuai lahie jo bathin, sasuai muluik jo hati.

7. Sharpen the Saw = asahlah gergaji. Pasa jalan dek batampuah lanca kaji dek baulang).

Ini adalah falsafah urang Minang tentang perlunya mempertajam dan mempermahir keilmuan. Pada ungkapan ini tidak saja tergambar ilmu untuk jalan dunia saja, tetapi juga untuk bekal akhirat. Sesuai dengan falsafah adat: Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah. Adalah suatu keharusan untuk mempertajam ilmu baik ilmu dunia maupun akhirat, bila tidak ingin ilmu tersebut hilang. Seperti jalan bila tak sering dilewati, akan tumbuh rumput, begitu juga ilmu bila tak digunakan, kita akan lupa dan tidak mahir bila mempergunakan ilmu tersebut.

Disamping sifat-sifat diatas ada lagi beberapa beberapa kebiasaan yang effektif bagi orang Minang yang selalu diingatkan dari generasi ke generasi.

Sifat/kebiasaan yang efektif itu meliputi semua sisi kehidupan orang Minang diantaranya adalah:

1. Hiduik baraka, mati ba iman. ( mempunyai rencana )

Dalam perencanaan/planning kehidupan , orang Minang dituntut untuk selalu mempunyai persiapan. Disamping perlu perencanaan untuk kebutuhan dunia dengan memakai akalnya, juga perlu mempersiapkan untuk kebutuhan kehidupan akhirat dengan mempunyai iman/keyakinan terhadap Allah S.W.T.

2. Tahu condong ka maimpok, tahu lantiang ka manganai. Tahu dibayang kato sampai, alun takilek lah ba kalam. Pandai maminteh sabalun anyuik ( waspada, arif bijaksana ).

Orang Minang diingatkan dimanapun berada diingatkan agar selalu waspada (alert) pada keadaan sekitar. Mempunyai kemampuan menangkis setiap bahaya yang mungkin datang dalam setiap aktifitas serta dapat mencari jalan keluar dengan pikiran yang jernih. Orang Minang adalah orang yang arif bijaksana, yang dapat memahami pandangan orang lain. Dapat membaca yang tersurat dan tersirat serta tanggap terhadap masalah yang akan dihadapi.

3. Elo karajo jo usaho, elo etongan jo mupakat.

( kepemimpinan).

Pemimpin dalam masyarakat Minang diharuskan memberi contoh dengan mengerjakan pula apa yang diperintahkan untuk orang lain ( do by example).Pemimpin juga harus menghargai pendapat yang telah dibuat dengan musyawarah.

Hal ini sesuai dengan AlQur’an kita juga dilarang (dibenci Allah) bila mengatakan/ memerintahkan sesuatu tetapi kita sendiri tidak engerjakannya.

Surat Ash Shaff, (ayat:2) ” Hai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”. Ayat berikutnya (ayat:3) “Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.

4. Kok cupak dituka urang manggaleh. jalan dianjak urang lalu. Jan cameh nyawo malayang, jan takuik darah taserak. Sakali kato rang lalu, anggap angin lalu sajo. Duo kali kato rang lalu, anggap garah samo gadang. Tigo kali kato rang lalu , jan takuik darah taserak. ( keberanian )

Begitulah keberanian dan prinsip hidup orang Minang yang di ilustrasikan oleh ungkapan diatas. Dalam pepatah diatas nampak keberanian orang Minang yang berdasar, dan mempunyai format yang jelas. Tidak asal berani dan membabi buta, orang Minang mau mempertahankan sesuatu bila punya dasar, tahu duduk masalahnya. Bila telah melanggar prinsip-prinsip yang ditetapkan, dan melewati batas yang dapat ditolerir, orang Minang tidak ada merasa takut. Keberanian tersebut juga digambarkan dalam pepatah seperti berikut:

Asalkan lai dalam kabanaran, basilang tombak jo parang. Sabalun aja bapantang mati, baribu sabab mandatang. Namun mati hanyo sakali, aso hilang duo terbilang.
Penutup

Demikianlah, semoga tulisan singkat ini dapat menambah pengertian tentang tatanan kehidupan yang telah dibangun oleh nenek moyang kita orang Minang sejak dulu.

Ini hanya sebagian kecil prinsip kehidupan orang Minang yang dapat saya paparkan disini. Saya tambahkan 4 sifat effektif lagi pada masyarakat Minang selain yang telah diformulasikan oleh Dr. Stephen R. Covey.

Tetapi bila kita bandingkan dengan bukunya Stephen R .Covey, rasanya apa yang telah dipraktekkan dan dianjurkan pada orang Minang jauh lebih lengkap.

Satu lagi kenapa prinsip-prinsip kehidupan effektif Masyarakat Minang lebih cocok pada kita terutama orang Minang, karena prinsip kehidupan orang Minang bersendikan aturan agama yaitu hukum Islam. Sedangkan Stephen Covey mendasari pemikirannya pada Al Kitab (Injil).

Saya sadar tentu tulisan ini jauh dari sempurna, karena keterbatasan ilmu saya mengenai filsafat adat istiadat dan pengaruhnya pada pada masyarakat kita orang Minang.Oleh sebab itu saya menerima kritik maupun pembetulan, bila pada tulisan ini ada yang salah kutip atau salah menafsirkan. Semoga ada manfa’atnya untuk menambah kecintaan kita warga Minang pada tata kehidupan/kebudayaan Minang yang kita banggakan.

Referensi:

1. Amir MS, Adat Minang Kabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, PT MUTIARA SUMBER WIDYA , Jakarta 1999.

Covey, Stephen, The Seven Habits of Highly Effective People, Simon & Schuster Inc. New York,1990

~ by Is Sikumbang on March 16, 2008.

One Response to “7 Habits of Highly Effective People dalam Masyarakat Minang”

  1. Dalam awa akie mambayang,
    Dalam baiak kanalah buruak,
    Dalam galak tangih kok tibo,
    Hati gadang utang kok tumbuah.

    Sejak awal, diperhitungkan apa mudharat dan manfaat dari suatu. Hati-hati dalam bertindak. Jangan perturutkan hati gadang, sehingga lupa nasehat orang tua-tua.

    Di balik gembira, bisa menanti duka membawa tangis. Sia-sia hutang tumbuh, kurang awas nagari kalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: