MENATA RUMAH TANGGA SAKINAH, DI DALAM ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN
UCAPAN SELAMAT sangat pantas kita sampaikan kepada kedua orang tua ayah jo bundo nan berbahagia, yang telah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab ibu-bapak di dalam tatanan adat basandi syarak-syarak basandi Kitabullah, yaitu mengazankan dan memberi nama yang baik di kala si anak lahir, kemudian memberi makanan, pakaian dan pelajaran/pendidikan secara cukup, baik dan halal, kemudian yang terakhir mengantarkan anaknya sampai ketangga pelaminan.

Demikian pula kepada Engku-engku, ninik mamak pangulu andiko nan gadang basa batuah, alim ulama cadiak pandai suluah bendang di nagari, bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang, rang mudo parik paga di nagari yang di dalam kehidupan sehari-hari telah menyumbangkan contoh tuladan yang baik sehingga tumbuh dengan itu generasi yang baik dan teguh memegang adatnya .

Alhamdulillah, baru saja kita saksikan pelaksanaan satu acara ibadah, yang disunnahkan Rasulullah SAW, “an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”, artinya, ” nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, maka tidaklah termasuk umatku”,

Dan kita bersama telah menjadi saksi atas aqad nikah dari pasangan anak kemenakan dan menantu kita tercinta, sebagai suatu ibadah mengikuti sunnah sangat sacral di dalam tatanan adat kita – adat nan basandi syarak, syarak nan basandi kitabullah”, Syarak nan mangato, adaik nan mamakai ;

Kita simak lafaz Ijab Kabul mereka sepatah demi sepatah dengan khidmat, kiranya mendapatkan berkah dari Allah.

Kita semuanya berharap kiranya rumah tangga mereka menjadi penghimpun yang terserak di antara keduanya, pembuka pintu hikmah dan ilmu, menjadi jembatan
rasa mawaddah wa rahmah, yang memberikan rasa aman bagi umat serta kesejahteraan di tengah kampung halaman. Amin Ya Mujibas Sailina.

Mulai detik itu, Anakdaro Putri telah menjadi seorang istri, urang rumah, induak bareh.

Insya Allah tidak lama lagi akan menjadi seorang IBU artinya Ikutan Bagi Umat, menjadi pemayung kasih sayang anak turunan, sesuai pesan Rasulullah SAW,

an nisak ‘imadul bilaad, idza shaluhat shaluhal bilaad kulluhu, wa idza fa sadat, fa-sadatil bilaad kulluhu,

artinya kaum ibu itu adalah tiang utama dalam nagari, kalau mereka baik akan baiklah seluruh nagari, dan kalau mereka rusak maka binasalah seluruh nagari.

Tugas seorang ibu rumah tangga tidak sekedar menyiapkan makanan dan minuman.
Akan tetapi menjadi sumber dari sakinah yakni bahagia dan ketenangan.

Karena itu sangat dituntut bersifat kreatif, ulet, tabah, sabar dan mampu menghidangkan keindahan dalam rumah tangga.

Ingatlah pesan Nabi SAW,
“Innallaha Ta’alaa jamiilun, yuhibbul jamaala”, artinya Allah itu indah dan sangat menyenangi keindahan (HR.Muslim dan Turmudzi) Hati-hatilah selalu, karena setiap langkah selalu di intai kerikil-kerikil tajam.

Apabila bertemu yang pahit, jangan cepat-cepat dimuntahkan, dan tidak selamanya pula yang manis mesti segera di telan.

“Barangkali ananda tidak menyukai sesuatu, padahal sebenarnya dibalik itu ada baiknya untukmu. Dan mungkin saja di balik yang ananda sukai ada kerugian untukmu. Allah semata yang tahu, dan kamu tidak mengetahui rahasia sesungguhnya – di sebalik satu kejadian–.” Begitu satu kearifan syara’ mangato dalam Kitabullah (QS.2, al Baqarah : 216).
Kearifan akan melahirkan kewaspadaan dalam bertindak dan berperangai.

Dalam awa akie mambayang,
Dalam baiak kanalah buruak,
Dalam galak tangih kok tibo,

Hati gadang utang kok tumbuah.
Artinya, sejak awal harus sudah diperhitungkan apa kiranya akibat akhir dari suatu perbuatan. Dikala melakukan kebaikan perlu dijaga kehati-hatian agar yang baik itu tetap terlaksana dengan baik. Karena hanya kelalaian jua yang akan membawa kepada keburukan.

Di sebalik itu tidak segera berbesar hati tatkala menerima kebaikan dengan tertawa, kalau-kalau nanti di belakang kegembiraan tersebut masih tersimpan kedukaan yang membawa tangis.
Sekali-kali jangan pula terlampau memperturutkan hati gadang, karena kesia-siaan seringkali menimbulkan hutang besar.

Yang perlu di ingat, jangan cepat berputus asa.

Riak jo galombang adolah permainan lauik.
Bagisia sampan jo pandayuang adaik nan alah biaso.
Usah rusuah jo putuih aso.
Kandalikan kamudi elok-elok,
nak ja-an ma-antak karang.
Kok itu nan sampai ta jadi,
karam sampan karam nakodo,
karamlah rumah tanggo ananda baduo.

Maka yang paling baik dilakukan, adalah selalu meminta pertolongan kepada Allah dengan shabar dan shalat.

Sesuai pesan Rasulullah SAW, “Apabila dikau memerlukan sesuatu mintalah kepada Allah. Dan bila engkau memerlukan pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah “.

Jangan meminta kepada segala yang di keramatkan, seumpama kepada kuburan ataupun jimat, apalagi kepada paranormal yang kadangkala banyak pula yang tidak
normal. Akibatnya ananda berdua bisa terseret kepada mensyarikatkan Allah, satu dosa besar, ujung-ujungnya doamu tidak akan di kabulkan Allah.

Pesan Rasulullah sangatlah jelas, …. yang lima waktu jangan engkau lalaikan apalagi
di tinggalkan. Doamu akan di nilai dari sini !!!. Allah tidak akan memperhatikan permintaan seorang hamba jika hamba itu tidak mau memenuhi kehendak tuhannya.

Nabi Muhammad SAW meningatkan perkataan dari Allah SWT, “Aku tidak akan memperhatikan apa yang menjadi hak hamba-Ku, sebelum ia memenuhi kewajibannya
kepada Ku”. (Hadist Qudsi)

Seorang istri, di dalam adat nan basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, diminta untuk selalu mernjaga diri dan muruah-nya ;

1). Hendaklah pakaianmu menutup aurat bila keluar rumah dan bepergian sesuai adat mamakai raso jo pareso, mampunyai malu dengan sopan. Kitabullah menyebutkan perintah Allah, “Wahai Nabi, sampaikan kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu serta istri orang yang beriman, hendaklah bila mereka
berpakaian menutupi seluruh tubuh mereka”( QS. Al Ahzab, ayat 59).

2). Jangan berkata keras, apalagi bersikap kasar membangga diri, bagaikan di kacak batih bak batih, di kacak langan bak langan yang di arahkan kepada suami
junjungan diri.

3). Apabila ingin menyampaikan sesuatu kepada suami, carilah waktu dan saat yang tepat.

4). Jangan menolak panggilan atau suruhan suami kepada yang baik. Bahkan jangan berpuasa sunat tanpa seizing suami (kecuali puasa yang wajib).

5). Jangan berpergian meninggalkan rumah tanpa seizing suami.

6). Jangan berhias berlebih-lebihan hanya untuk di lihat orang lain, lupa berbenah diri bila suami pulang ke rumah.

7). Jangan menerima tamu laki-laki kalau bukan keluarga sendiri (muhrim) di saat suami tidak di rumah.

8). Simpanlah rahasia rumah tangga ananda berdua dengan baik. Karena menceritakan rahasia rumah tangga, sungguh satu aib besar.

Larangan-larangan ini, pertanda kuatnya budi dan malu.
Fatwa adat kita di Ranah Minang menyebutkan,

Dek ribuik rabahlah padi,
di cupak Datuak Tumangguang.
Hiduik kalau indak ba budi,
duduak tagak kumari tangguang.

Rarak kalikih dek mandalu,
tumbuah sa rumpun di tapi tabek,
Kok hilang raso jo malu,
bak umpamo kayu lungga pangabek.

Innama umamul akhlaqu maa baqiyat,
Wa inhumuu dzahabat akhlaquhum dzahabuu.
Kuaik rumah karano sandi,
rusak sandi rumah binaso,
Kuaik bangso karano budi,
rusak budi hancua-lah bangso.

Seterusnya, budi dan malu itulah pakaian bundo kanduang di ranah bundo.
Bundo kanduang adalah,

limpapeh rumah nan gadang,
umbun puro pegangan kunci,
hiasan di dalam kampuang,
sumarak dalam nagari,
nan gadang basa batauah,
kok hiduik tampek ba nasa,
jikok mati tampek ba niaik,
ka unduang-unduang ka tanah suci,
ka payuang panji ka sarugo.

Alangkah mulia dan besarnya tanggung jawab bundo kanduang itu ?

Maknanya menjadi tiang rumah yang besar, menjadi umbun puro pegangan kunci, menjadi perhiasan kampung dan sumarak nagari, menjadi ikutan yang bertuah, tempat
bernazar bagi anak turunan di masa hidup, menjadi tempat berniat di kala mati telah menjemput, menjadi teman ke tanah suci dan pengganti payung ke sorga, al jannatu tahta aqdamil ummahaat, sorga terletak di bawah telapak kaki ibu.

Rasulullah SAW telah bersabda,
“Seorang istri yang taat melakukan shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga diri (kehormatan faraj-nya), setia kepada suaminya, — dia akan di
masukkan ke dalam sorga dari pointu mana saja yang dia ingini” Hadist dari Anas bin Malik.

Alangkah mulia dan tingginya penghargaan Allah SWT
bagi seorang istri, bila ia dapat melakukan empat
macam ibadah di tambah dengan ibadah-ibadah lainnya
yang cukup banyak. Bila mau mengamalkannya.

(II). Nasehat Petaruh untuk seorang suami.

Tadi ananda mengucapkan Ijab Kabul, artinya ikrar
timbang terima tanggung jawab antara ayah bunda dari istri dengan diri ananda (suami).

Detik ini, ananda marakpulai telah menjadi suami putri dan keluarga di rumah ini.

Nan ka di-bao jadi kawan sa-iriang, tagak ka di-bao ba-iyo, duduak ka di-bao ba-rundiang.

Patut ananda ketahui, bahwa si Putri adalah, urang gadih nan jolong gadang, umua nan balun sa tahun jaguang, darah nan balun sa tampuak pinang, pangatahuan nan balun sa cabiak daun.

Sudah menjadi Hukum Allah bahwa perempuan di ciptakan sebagai makhluk lemah fisik dan sifatnya. Bila terbentur masalah sulit, pertahanan terakhirnya mudah runtuh. Air mata penyudahi.

Karena itu Allah perintahkan kepada setiap suami, wa ‘a-syiruu-hunna bil ma’ruf,
artinya pergaulilah istrimu dengan dengan ma’ruf, lemah lembut.

Itulah yang ananda baca dalam sighat talak ta’lik tadi.

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda, “khaiyru-kum bi-ahlihi”
artinya sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya.

Selanjutnya Rasulullah SAW menasehatkan, “Ar Rahimuuna yarhamuhum ur-Rahmanu, Irhamuu man fil-ardhi yarhamkumullahu man fissama.”, artinya “Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu.” (HR.Abu Daud)

Ketahuilah, bahwa perempuan itu lebih banyak berbicara dengan perasaannya ketimbang fikirannya.

Kewajiban setiap suami, laki-laki adalah pelindung terhadap perempuan, karena Allah telah memberikan kelebihan kepada kaum lelaki (suami) membelanjakan hartanya untuk membahagiakan perempuan (istrinya).

Umar bin Khattab RA, pernah menceritakan tentang bakti istri beliau itu,

1. Sebagai Pendamping, istriku adalah benteng bagiku dari api neraka, yang setia mendampingi di saat senangdan susah.

2. Sebagai penjaga rumah dan harta, istriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku.

3. Sebagai ibu dari anak-anak ku, saya tahu betul betapa beratnya tugas ibu, mengandung, melahirkan menyusukan dan men-jaga anak.

4. Sebagai tukang cuci dan masak, tanpa mengenal lelah setiap hari mencuci, memasakkan makanan untuk ku dan anak-anak ku.

Karena itu, aku selalu memaafkan kata-katanya, karena mungkin ada hak-haknya yang belum aku penuhi. Begitu sahabat Nabi SAW mempergauli istri dan membina
rumah tangga berkualitas “baiti jannati”, rumahku adalah sorgaku.

Kiat Umar bin Khattab ini mesti ananda tiru.
KEBAHAGIAAN DATANGNYA DARI ALLAH

Allah telah memberikannya kepada yang dikehendaki-Nya.

Kebahagiaan rumah tangga hanya bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah, maka hindarilah sifat mau menang sendiri dan memaksakan kehendak.

Bina rumah tangga dengan penuh kasih sayang. Hindari sifat tertutup dan saling curiga. Hadapi masalah dengan bersama.
Caranya,

Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito.

Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya,
kullukum raa-‘in wa kullukum mas-ulun ‘an ra-‘yyatihi,

artinya, setiap pemimpin akan diminta pertanggungan jawab atas pimpinannya.

Hukum Syarak menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani. Sesungguhnya rohani-mu berhak atasmu. Jasmanimu pun
berhak atasmu.

Rumah tangga wajib di bina. Masyarakat kelilingmu mesti di tenggang.
Keduanya wajib di jaga.

Mancari kato mufakaik,
ma-nukuak mano nan kurang,
mam-bilai mano nan senteng,
ma-uleh sado nan singkek,
Man-jinaki mano nan lia,
ma-rapekkan mano nan ranggang,
ma-nyalasai mano nan kusuik,
Ma-nyisik mano nan kurang,
ma-lantai mano nan lapuak,
mam-baharui mano nan usang.

Inilah keseimbangan hidup berumah tangga dalam masyarakat adat kita.

Alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang di nan rumik.
BEBERAPA PETUAH PERLU DIPERPEGANGI

a) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”. (Hadist).

Firman Allah menyebutkan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS.28, Al Qashash:77).

Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan,

“Handak kayo badikik-dikik,
Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji,
Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari,
Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.”

Untuk mencapai semuanya itu amatlah diperlukan kematangan dan kecermatan diri dan keteguhan hati di dalam melaksanakan setiap langkah dan perbuatan,

Di hawai sa habih raso,
Di karuak sa habih gauang.

Yakni berpikir sebelum bertindak, karena menurut kata bijak berpikir itu pelita hati.

Di sinilah terletak sesungguhnya kedewassan di dalam memimpin satu keluarga, negeri ataupun negara.

Mancancang ba – landasan,
Ma lompek ba – situmpu.

Artinya, setiap langkah mesti mempunyai alasan yang tepat, program yang jelas dan dapat di pertanggung jawabkan.

Seorang kepala rumah tangga tidak boleh bertindak semena-mena, apalagi melangkah tanpa berpikir lebih dahulu baik dan buruknya.

Karena setiap kebijakan yang diambilnya selaku seorang suami kepala rumah tangga adalah untuk kepentingan seluruh anggota keluarganya.

Dalam arti yang lebih luas, berkorong berkampung dan bertaratak bernagari.

Kerukunan adalah modal yang sangat besar, di samping materi yang harus di pelihara dengan menjauhi pemborosan di mana-mana.

Dek sakato mangkonyo ado,
Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh,
Dek padi mangkonyo manjadi.
Jangan di lupakan pesan Nabi SAW,
“Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).

Selanjutnya Rasulullah SAW menasehatkan, “Ar Rahimuuna yarhamuhum ur-Rahmanu, Irhamuu man fil-ardhi yarhamkumullahu man fissama.”, artinya “Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu.” (HR.Abu Daud)

Ketahuilah, bahwa perempuan itu lebih banyak berbicara dengan perasaannya ketimbang fikirannya.

Kewajiban setiap suami, laki-laki adalah pelindung terhadap perempuan, karena Allah telah memberikan kelebihan kepada kaum lelaki (suami) membelanjakan hartanya untuk membahagiakan perempuan (istrinya).

Umar bin Khattab RA, pernah menceritakan tentang bakti istri beliau itu,

1. Sebagai Pendamping, istriku adalah benteng bagiku dari api neraka, yang setia mendampingi di saat senangdan susah.

2. Sebagai penjaga rumah dan harta, istriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku.

3. Sebagai ibu dari anak-anak ku, saya tahu betul betapa beratnya tugas ibu, mengandung, melahirkan menyusukan dan men-jaga anak.

4. Sebagai tukang cuci dan masak, tanpa mengenal lelah setiap hari mencuci, memasakkan makanan untuk ku dan anak-anak ku.

Karena itu, aku selalu memaafkan kata-katanya, karena mungkin ada hak-haknya yang belum aku penuhi. Begitu sahabat Nabi SAW mempergauli istri dan membina
rumah tangga berkualitas “baiti jannati”, rumahku adalah sorgaku.

Kiat Umar bin Khattab ini mesti ananda tiru.
KEBAHAGIAAN DATANGNYA DARI ALLAH

Allah telah memberikannya kepada yang dikehendaki-Nya.

Kebahagiaan rumah tangga hanya bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah, maka hindarilah sifat mau menang sendiri dan memaksakan kehendak.

Bina rumah tangga dengan penuh kasih sayang. Hindari sifat tertutup dan saling curiga. Hadapi masalah dengan bersama.
Caranya,

Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito.

Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya,
kullukum raa-‘in wa kullukum mas-ulun ‘an ra-‘yyatihi,

artinya, setiap pemimpin akan diminta pertanggungan jawab atas pimpinannya.

Hukum Syarak menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani. Sesungguhnya rohani-mu berhak atasmu. Jasmanimu pun
berhak atasmu.

Rumah tangga wajib di bina. Masyarakat kelilingmu mesti di tenggang.
Keduanya wajib di jaga.

Mancari kato mufakaik,
ma-nukuak mano nan kurang,
mam-bilai mano nan senteng,
ma-uleh sado nan singkek,
Man-jinaki mano nan lia,
ma-rapekkan mano nan ranggang,
ma-nyalasai mano nan kusuik,
Ma-nyisik mano nan kurang,
ma-lantai mano nan lapuak,
mam-baharui mano nan usang.

Inilah keseimbangan hidup berumah tangga dalam masyarakat adat kita.

Alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang di nan rumik.
BEBERAPA PETUAH PERLU DIPERPEGANGI

a) “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya”. (Hadist).

Firman Allah menyebutkan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS.28, Al Qashash:77).

Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan,

“Handak kayo badikik-dikik,
Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji,
Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari,
Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.”

Untuk mencapai semuanya itu amatlah diperlukan kematangan dan kecermatan diri dan keteguhan hati di dalam melaksanakan setiap langkah dan perbuatan,

Di hawai sa habih raso,
Di karuak sa habih gauang.

Yakni berpikir sebelum bertindak, karena menurut kata bijak berpikir itu pelita hati.

Di sinilah terletak sesungguhnya kedewassan di dalam memimpin satu keluarga, negeri ataupun negara.

Mancancang ba – landasan,
Ma lompek ba – situmpu.

Artinya, setiap langkah mesti mempunyai alasan yang tepat, program yang jelas dan dapat di pertanggung jawabkan.

Seorang kepala rumah tangga tidak boleh bertindak semena-mena, apalagi melangkah tanpa berpikir lebih dahulu baik dan buruknya.

Karena setiap kebijakan yang diambilnya selaku seorang suami kepala rumah tangga adalah untuk kepentingan seluruh anggota keluarganya.

Dalam arti yang lebih luas, berkorong berkampung dan bertaratak bernagari.

Kerukunan adalah modal yang sangat besar, di samping materi yang harus di pelihara dengan menjauhi pemborosan di mana-mana.

Dek sakato mangkonyo ado,
Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh,
Dek padi mangkonyo manjadi.
Jangan di lupakan pesan Nabi SAW,
“Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).

Selanjutnya pesan Nabi Muhammad SAW,
” Man laa yarhamun-naasa. Laa yarhamuhul-llahu”,
artinya, “Yang tidak bisa menyangi sesama manusia
tidak akan disayangi oleh Allah”.

Tugas seorang suami adalah bekerja sepenuh hati.
Ka lauik riak mahampeh,
Ka karang rancam ma-aruih,
Ka pantai ombak mamacah.
Jiko mangauik kameh-kameh,
Jiko mencancang, putuih – putuih,
Lah salasai mangko-nyo sudah.

Artinya bekerja mengerahkan semua potensi yang ada, tidak menyertakan lalai dan enggan, tidak berhenti sebelum benar-benar sampai, bacarai hanyo dek tumbilang.

b) Di sisi lain tidak boleh dilupakan sikap saling menghargai keluarga kedua belah pihak.

Kedua belah pihak mempunyai kedudukan sama. Ketahuilah bahwa ananda berdua ini, sepertinya, ibarat tingga maneteng nasi masak, kana lah dari mano datangnyo padi. Ibarat tingga manimang buah ranum, kanalah ka tampuak tampek bagantuang.

Artinya yang nikah memang ananda berdua, tapi yang kawin adalah seluruh keluarga kedua belah pihak.
Peliharalah selalu,
Adat hiduik tolong manolong,
Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang.

Basalang tenggang, artinya saling meringankan
dengan
kesediaan memberikan pinjaman untuk mendukung
kehidupannya.

c) Pandai-pandai hidup bermasyarakat. Agama maupun
adat mengajarkan, hormati nan tuo, sayangi nan
ketek.

Akhirnya,
Seumpama sebuah pelayaran, maka kami lepas ananda berdua mengharungi bahtera kehidupan berbekal budi luhur.

Ibarat kata orang,

Kok pai anak marantau,
ma-nyauak di hilie-hilie,
bakato di bawah-bawah,
ba-rundiang sapatah di pikiri,
di agak duri nan ka manggaruih,
di agak rantiang nan ka manyangkuik,
gapuak usah mambuang lamak,
cadiaek usah mambuang kawan,
gadang usah malendo,
tinggi usah ma himpok.

Artinya,
hasibuu anfusakum qabla an tuha sabuu,
wa zinuu a’malakum qabl;a an tuuzana ‘alaikum ,
maknanya,
hitung-hitunglah diri, ukurlah bayang-bayang sapanjang badan, sebelum di hitung oleh yang lain, dan
timbang-timbanglah amal perbuatan – karena kelak Allah akan melakukan timbangan atas dirimu – sebelum engkau mengadakan penilaian terhadap amalan orang-orang
lainnya. (Atsar Shahabat).

Ingek sabalun kanai,
Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga.

Namun, memelihara prinsip hidup dengan akidah yang benar dan istiqamah (konsisten) menjadi tugas setiap anak nagari di Minangkabau.

Disini terletak ‘izzah martabat diri.
Namun ….,

kok di anjak urang banda sawah,
jikok di aliah urang batu pasupadanan,
jikok di ubah urang kato pusako,
jikok di anjak urang kato nan bana,
Busuangkan dado padek-padek,
paliek-kan tando laki-laki,
ja-an takuik nyawo malayang,
ja-an cameh darah taserak,
aso hilang duo tabilang,

Tanamo anak laki-laki,
sabalun aja ba pantang mati,
baribu saban mandatang,
namun mati hanyo sakali,

Namun di dalam kabanaran,
bago di pancuang lihie putuih,
satapak ja-an namuah suruik,
kato bana di anjak jangan.

Disini terpatri muruah kita.
Selalu berpegang kepada kebenaran. Jangan
terpengaruh
primordialisme, jangan pula berperangai penjilat.

Dahulukan kepentingan negeri (negara) di atas dari
kepentingan diri. Walau nyawa menjadi tantangannya.

Tanah sa bingkah alah ba punyo,
rumpuik sa halai lah ba miliak,
malu nan balun di agiah,
suku nan tak buliah di anjak.

Kebahagian hidup bermasyarakat itu akan terasa apabila
kita ada orang merasa bertambah dan bila kita pergi
orang merasa kehilangan, karena itu hiduplah dengan
saling mengingatkan kepada hidayah Allah.

Kebenaran (al-haq min rabbika), datangnya dari Tuhanmu, artinya yang di gariskan oleh syari’at agama Islam wajib kita menjalankannya.

Tatanan masyarakat kita di Minangkabau, tetap menghormati kebenaran itu.

Kamanakan barajo ka Mamak,
Mamak barajo ka Pangulu,
Pangulu barajo ka mupakaik,
Mupakaik barajo ka nan bana,
Nan bana ba-diri sandirinyo.

Di atas segala penghormatan kepada tatanan masyarakat,
maka mufakat sangatlah di utamakan.

Mufakat bertujuan hanya untuk menegakkan kebenaran dengan pedoman tunggalnya adalah hidayah dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “siapapun yang membawa seseorang kepada petunjuk hidayah Allah – kemudian di ikutinya petunjuk itu –,
maka dia akan mendapatkan balasan sebagaimana balasan yang diterima oleh orang yang mengikutnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh”
(H.R. Imam Muslim dan Ash-habus-Sunan)

Bismillah, dengan pedoman hidup ini layarkanlah bahtera hidup, hati-hati memegang kemudi, Insya Allah terjejak tanah tepi.

Kami bersama mendoakan, Semoga Allah akan senantiasa melimpahkan berkah
yang banyak kepada ananda berdua yang telah mengumpulkan ananada berdua ke dalam kebaikan. Amin Ya Mujibas Sailina.

Wabillahittaufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,

H. Mas’oed Abidin
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar
Ketua MUI Sumbar Membidang Dakwah

Padang, 11 Safar 1422 H/ 5 Mei 2001

~ by Is Sikumbang on March 16, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: