L A L O K

Oleh : Yusrizal KW
Dalam bahasa Minang, lalok sama dengan tidur. Kalau tidurnya nyenyak, maka itu disebut lalok lamak. Lain pula halnya dengan lalok-lalok ayam, ini tentu maksudnya kita tidur tapi telinga kita masih bisa mendengar sesuara atau masih memasang kesadaran orang bangun. Kadang dari lalok ayam, angin berhembus sepoi pula, kita bisa talalok; tertidur. Nah, lain pula kalau seseorang berkata, dia takalok sehingga tak menepati janji rapat pagi. Ini namanya, rencana bangun subuh, entah karena letih atau badan sehat bugar, malah terbangun pukul tujuh. Namanya juga dihanyutkan nyenyak.
Nan lalok makan nan jago. Ini kiasan, peringatan juga. Walau terkadang ada nuansa “pemangsaan” di ungkapan itu, tetapi ia mengingatkan jangan sampai kita lengah dalam hidup ini. Kalau makanan maling yang bagaimana? Orang lamak lalok atau takalok lamak, salah satu kebahagian bagi maling yang ingin mengupak rumah kita. Ada pula kita dengar orang berkata, bahwa dia datang bagai orang jago lalok. Kita bisa senyum, karena itu perumpamaan untuk penampilan kita yang tak rapi dan kusut urakan. Bagai orang tak lalok, ini sama dengan dia mengatakan mata kita tampak lelah, badan letih dan sering ngawang. Sesekali ngelantur.
Kalau ada teman atau orang lain kita dengar, bahwa dia membenci seorang palalok, itu bisalah kita maklumi. Karena orang palalok, bagi kita yang suka kerja keras, palalok adalah mitra yang buruk. Tidurnya paling banyak, kerjanya paling sedikit. Kalau sudah tidur susah membangunkannya. Kalau tak dibangunkan atau ditegah, tidur saja kerjanya. Oya, kadang juga kita lihat di televisi wakil rakyat, lalok di ruang sidang. Bisa saja karena letih, atau bisa pula karena otak dan hati tak digerakkan untuk memikirkan tugas yang maslahat bagi umat. Entahlah. Yang jelas, orang palalok banyak menjengkelkan. Lalok, kata itu, memiliki sugesti untuk kesehatan. Kurang lalok, bisa sakit atau kurang darah, Banyak lalok bisa bikin malas. Lalok yang tepat, sesuai anjuran ahli kesehatan, inilah yang mesti dilakukan. Wajah tampak segar. Tubuh terasa segar. Mata tampak berbinar. Karena itu, orang dianjurkan lalok kalau letih, sakit, kurang sehat. Karena dengan demikian, terjadi pemulihan energi dalam diri dan pikiran.
Yang paling ironis, ada orang yang bikin otak kita lalok. Diajak berpikir pusing, terus ngantuk yang datang. Ada pula nurani kita yang takalok karena ada subsidi politis, sehingga ketika harus mengkritik atau mengatakan kebenaran, kita malah pejam. Lain pula kalau dilalokan jin, dia saja yang benar, mimpinya saja yang indah. Orang lain buruk dan tak becus olehnya. Ehem, kalau lalok-lalok cayang, apa pula namanya. Istilah lainnya, ngamar dengan selingkuhan, istilah orang kini bobo-bobo siang. Ini terjadi karena pengawal diri kita, nilai-nilai, pun sudah lalok. Kenapa? Karena kita pun sering malalokan diri karena merasa terlalu banyak yang telah kita urus. Letih. Dan, akhirnya, untuk banyak persoalan, apakah besar atau kecil yang membutuhkan partisipasi kita, ya tindakan nyata untuk memperbaiki kelemahan yang ada, kita sering menjawab dengan kuap. Lalu takalok!

Sumber : 

http://www.padangekspres.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1102&Itemid=59

~ by Is Sikumbang on March 24, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: