POSISI GEOGRAFIS BENTENG MARAPALAM CATATAN SINGKAT KE ARAH STUDI GENEALOGI ABS-SBK

Oleh : Suryadi
Munculnya kini euphoria ABS-SBK di Sumatera Barat, langsung atau tidak, tentu menimbulkan pertanyaan dalam masyarakat, terutama generasi muda, tentang sejarah pembentukan falsafah hidup kebanggaan orang Minang itu. Siapa yang merumuskan, bagaimana rumusannya, apakah rumusan itu tertulis atau lisan saja, tak ditemukan penjelasan yang komprehensif dalam buku sejarah.Generasi Minangkabau kini tidak memperoleh warisan tertulis apapun mengenai falsafah ABS-SBK, “dasar negara” etnis Minangkabau itu. Akibatnya, muncul berbagai interpretasi dan implementasinya dalam masyarakat. Memang ada semacam ‘TOR’ lisan ABS-SBK itu yang diciptakan oleh cerdik-pandai Minangkabau di zaman dulu: “syarak mandaki, adat manurun; syarak mangato, adat mamakai; syarak babuhua mati, adat babuhua sentak; syarak balinduang, adat bapaneh; syarak basisampiang, adat ‘batilanjang'”. Akan tetapi ‘TOR’ yang penuh ciri kelisanan (orality) itu mungkin susah dipahami dan dijabarkan oleh generasi Minangkabau kini yang sudah tidak lagi paham bahasa Minangkabau ragam sastra yang penuh kata malereng itu.

Oleh karena itu kini muncul gagasan untuk menyusun kompilasi tertulis ABS-SBK. Ini antara lain dikemukakan oleh Dr. Saafroedin Bahar dalam Semiloka Inventarisasi dan Perlidungan Hak Masyarakat Hukum Adat di Universitas Andalas pada 19-21 Juli 2007. Ide di balik gagasan itu adalah agar generasi Minangkabau ke depan memiliki acuan tertulis ABS-BSK, sehingga implementasinya dalam kehidupan masyarakat tidak lagi bersifat manasuka (arbitrer).

Tulisan singkat ini tidak mendiskusikan gagasan penyusunan kompilasi ABS-SBK, tapi membicarakan sedikit sejarahnya. ABS-SBK otomatis mengingatkan kita kepada Piagam Bukit Marapalam (atau “Sumpah Sati Bukik Marapalam” dalam bahasa Minangkabau). Konon momen historis yang amat penting bagi etnis Minang itu terjadi tahun 1837, usai Perang Paderi. Tapi rujukannya kurang jelas juga. Kalau Piagam itu memang dituliskan, masih adakah tersimpan di satu perpustakaan atau koleksi pribadi di dunia ini? Mungkin ini tugas sejarawan kita untuk terus mencarinya. Atau mungkin juga “Piagam” itu hanya ikrar yang bersifat lisan saja.

Yang kita ketahui hanyalah bahwa Piagam Bukit Marapalam lahir sebagai solusi untuk ‘mempertautkan’ kembali Minangkabau yang ‘terbelah dua’ akibat Perang Paderi. Kaum Adat dan Kaum Agama saling ‘berangkulan’, dan mencoba melupakan perbalahan di antara mereka yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun.

Peristiwa bersejarah itu konon terjadi di puncak Bukit Marapalam, yang menurut beberapa sumber klasik adalah salah satu benteng Paderi di Luhak 50 Kota. Untuk menentukan dimana persisnya lokasi benteng ini, ada cukup data sejarah yang dapat kita rujuk. Salah seorang yang pernah mengujungi Benteng (Fort) Marapalam adalah botanikus Belanda, Lodewijk Horner. Ia bersama rekannya, Solomon Müller, menjelajahi pulau Sumatera (1833-1838) untuk meneliti alam dan tumbuh-tumbuhan tropis Hindia Belanda. Di Sumatra’s Weskust mereka menyisiri pantai Padang hingga Pariaman sebelum membelok ke Luhak Nan Tigo. Catatan ilmiah dan laporan perjalan L. Horner dan S. Müller selama di Sumatera dapat dibaca dalam Reizen en onderzoekingen in Sumatra, gedaan op last der Nederlandsche Indische regering, tusschen de jaren 1833 en 1838 [Perjalanan dan Penelitian di Sumatera yang ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda, antara tahun 1833-1838] (‘s-Gravenhage: Fuhri, 1855). Buku harian L. Horner selama perjalanannya di Sumatera kini tersimpan di Institut Herbarium Leiden, Belanda.

L. Horner mengunjungi Fort Marapalam pada awal Maret 1838, kira-kira 8 bulan setelah benteng Paderi Bonjol berhasil direbut Belanda. Ia menulis: “Omtrent anderhalf tot twee uren van het fort Schenk [of Lintou] bereikt men de hoogte van den bergpas, links van welken het verlaten fort Marapalam nog ongeveer 60 voeten hooger ligt. Het schijnt op de uiterste zandsteen hoogte te liggen; men ziet echter geen gesteente. Verder beneden gaat men over de Tampo, als eene kleine beek. De bergpas Marapalam 11 u. O’: barometer 294”’52; thermometer 180,8. Van deze hoogte geniet men een heerlijk uitzigt naar het westen. Noordelijk verheft zich de Sago nog bijna 3000 voeten hooger. Hij stond echter groottendeels in wolken. Zijne kloven zijn diep ingesneden en hij schijnt zijnen lava over den sangkar-steen uitgegoten te hebben” (L. Horner, “Reizen over Sumatra [1838]”, Tijdschrift van Bataviaasch Genootschaap 10 (1861):367).Terjemahan bebasnya: “Sekitar satu setengah sampai dua jam jauhnya dari Benteng Schenk [di Lintau] kita sampai setinggi puncak pelintasan. Kira-kira 60 kaki lebih tinggi di sebelah kiri puncak itu terletak Benteng Marapalam yang telah ditinggalkan.Ternyata letaknya di atas batuan pasir yang paling pinggir; namuan batuannya tidak kelihatan. Lantas lebih ke bawah kita melewati kali kecil bernama Tampo. Di puncak Benteng Marapalam itu pada jam 11 pagi: tekanan udara 294”’52; suhu 180,8. Dari ketinggian ini kita dapat menikmati pemandangan yang amat menyenangkan ke arah barat. Di sebelah utara menjulang Gunung Sago sampai hampir sekitar 3000 kaki lebih tinggi. Namun gunung itu sebagian besarnya diliputi awan. Lembahnya dalam bergores-gores dan ternyata laharnya disemburkan sampai menutupi sangkar-steen [Batusangkar?].”

Catatan lain yang lebih awal mengenai Fort Marapalam didapat dari laporan Kolonel A. T. Raaf. Ia dan anak buahnya melakukan inspeksi ke tempat itu pada tahun 1822, tak lama setelah Belanda memutuskan ikut campur tangan dalam Perang Paderi. Catatan Kolonel Raaf itu dirujuk oleh sejarawan militer Belanda, H.M.Lange: “Den 6den Mei [1822] werd de weg die over den Marapalam naar de vallei van Lintau voert door den OVERSTE RAAF verkend. Hij bevond dan men langs die zijde ook met groote zwarigheden zou te kampen hebben, wanneer de doortogt met geweld moest gebaand worden. Voor het geval echter dat die doortogt niet door de L Kota’s zoude kunnen plaats hebben, hetgeen nader zou moeten blijken, werd de weg over den Marapalam toch verkieslijker geacht dan die over Ajer-betomba, langs welken men reeds te vergeefs had beproefd in de vallei van Lintau door te dringen. Deze verkenning gaf tot gene vijandelijkheden hoegenaamd aanleiding, hetgeen den Overste nog steeds de hoop deed voeden, dat de door hem voorgeslagen overeenkomst zou worden aangenomen.” (H.M. Lange, Het Nederlandsch Oost-Indisch Leger ter Westkust van Sumatra (819-1845) (‘S Hertogenbosch: Gebroeders Muller, 1852:I, 59-60).Terjemahan bebasnya sebagai berikut: “Pada 6 Mei [1822] jalan ke Lembah Lintau yang melintasi [Benteng] Marapalam diselidiki oleh Overste Raaf. Ia menemukan bahwa kita di sana juga dapat mengalami kesulitan besar kalau harus dipaksakan melewatinya. Namun, seandainya jalan melalui Lima Puluh Kota tidak dapat dilewati, yang belum tentu pasti, jalan melalui Marapalam dianggap lebih baik daripada jalan melalui Air Bertumbuk, karena ternyata jalan melalui daerah ini untuk dapat tembus sampai ke lembah Lintau telah dicoba dengan sia-sia. Penyelidikan ini hampir tidak mengakibatkan permusuhan apapun [dengan Kaum Paderi), dan hal ini masih tetap memberikan harapan kepada sang Overste bahwa persetujuan yang diusulkan olehnya akan diterima [Kaum Paderi].”

Letak Benteng Marapalam juga dicatat dalam peta yang dibuat oleh Frans Junghuhn dalam nukunya Die Battalander auf Sumatra (Berlin: G. Reimer, 1847) (2 jilid). Di dalam peta itu (lampiran) jelas sekali bahwa letak Benteng Marapalam tak jauh dari Batang Tampo, dekat Lintau.

Jadi, cukup jelas sekarang dimana letak Benteng Marapalam, tempat konsep ABS-SBK konon diikrarkan pada tahun 1837. Dari laporan Overste A.T. Raaf dan L. Horner di atas cukup jelas juga bahwa Marapalam adalah salah satu benteng Paderi di Luhak 50 kota, tetapi seusai perang benteng itu telah ditinggalkan.

Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat bagi sejarawan kita yang berminat menulis sejarah dan genealogi ABS-SBK. Selanjutnya tentu perlu melakukan sigian akademik lebih dalam untuk mengetahui siapa (-siapa saja) tokoh yang menggagas dan mendeklarasikan Piagam Bukit Marapalam itu, yang kemudian melahirkan falsafah ABS-SBK. Juga harus diteliti lebih kanjut berbagai aspek yang terkait dengan pendeklarasian Piagam itu. Hasil penyelidikan itu tentu akan banyak manfaatnya bagi memperjelas banyak hal yang masih kabur seputar ABS-SBK yang dibangga (-bangga)kan orang Minang itu.

Suryadi
Dosen & peneliti pada Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Leiden University, the Netherlands
Dimuat di harian Padang Ekspres, Jumat, 28 Desember 2007

~ by Is Sikumbang on April 7, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: