NAMUAH

Oleh : Yusrizal KW
Amuah atawa namuah, sama dengan mau. Kala kita di Minang ini mendengar, bahwa anak itu panamuah, dalam hal ini “panamuah” berarti penurut. Tidak banyak cincong. Ini larinya ke arti atau makna yang lebih positif. Cepat kaki ringan tangan, mudah membantu dan tidak merengut kalau disuruh, bersedia ditunjukajari, panamuah juga namanya.Namuah, artinya boleh juga disebut “oke banget”, mengangguk iklas. Siap untuk melakukan sesuatu sesegera mungkin. itu namuah juga artinya. Dan ketika seseorang kita ajak, kita rundingkan untuk mendukung cita-cita kita, dia tersenyum, matanya berbinar lalu mengangguk, sembari menjabat tangan kita, lalu dia bergumam, “Mantap”; ini artinya dia namuah menjadi bagian dari kita.
Namuah lupa, ungkapan itu kadang bisa dijadikan semacam kiasan untuk hal-hal yang ketagihan atau sesuatu yang menyebabkan asyik maupun nikmat. Dia bisa saja diistilah-istilahkan sembari berkata lepas tanpa beban. “Kalau begini asyik mainnya, namuah lupa makan dan tidur,” kata seorang ibu yang menyaksikan anaknya keasyikan main Play Station. Namuah bahabiah, artinya bersedia habis-habisan. Untuk apa? Untuk sesuatu yang menawan hati atau untuk hal-hal yang bagian dari impian kita. Untuk anak, orang juga namuah berhabis-habisan. Asal untuk keperluan pendidikan, ada ayah dan ibu, abak dan amak, mau jual barang berharga, menggadai sawah, meminjam uang. Tapi, namuah habis-habisan karena tidak mau “terhimpit” (maksudnya tersaingi), banyak melanda beberapa teman atau saudara kita. Orang mau minjam atau krediti barang, asal barang tetangga atau teman tidak lebih bagus dari kita. Asal pula, orang jangan menganggap teman atau tetangga kita lebih kaya dibanding kita.
Cap amuah, ada pula istilah itu kita dengar. Orang cap namuah atau cap mau, ini untuk pengkategorian orang yang selalu siap diajak dan disuruh. Kadang penyebutan cap mau, lebih kepada kesan negatif. Tidak punya sikap. Kadang dia ibarat baling-baling di atas bukit. Ia menurut saja kemana arah angin kencang. Nah, lain pula kalau dibilang “namuah diadu”. Ungkapan namuah diadu, bisa saja ditafsirkan sebagai penyiratan ketangkasan, berani, memiliki kelebihan. Bisa pula, karena memang suka nekat. Atau otaknya kerbau, kurang pertimbangan, tetapi memiliki kekuatan fisik yang berlebih. Tentu semua ini tergantung dari mana kita melihat. Yang paling menarik, kata orang bijak, orang yang bercap “mau positif”. Namuah nan oke. Ia memiliki kesadaran berubah. Bersedia mendengar. Kalau pemimpin, namuah dikritik, diberi masukan, lapang hati menghadapi persoalan.
Yang paling susah, bentuknya namuah, tetapi sesungguhnya dia tidak namuah. Kita kira dia namuah membantu kita, kiranya tidak. Kita anggap dia selama ini terbuka menerima masukan kita karena setiap dia minta masukan dia tersenyum, mengangguk mantap, seakan dia adalah sosok yang selalu ingin membenahi diri dan sikap positifnya setiap saat. Tagu-tahu, di belakang kita, dia mencemoohkan apa yang pernah kita katakan kepadanya sebagai hal positif. Payah. Namuah, kata itu adalah pekatnya pada “mau”, bersedia, tak melawan perintah, baik nurani atau kebijakan maupun bentukan tatanan sosial yang berlaku. Namuah, suatu hal yang memiliki pemecahan makna, ketika kata itu berdiri pada ajakan di tengah simpang. Simpang itu, namuah melanggar atau namuah mematuhi.*www.padangekspres.co.id

~ by Is Sikumbang on April 8, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: