GASIANG

Ditulis : Ivan Adilla
Arti asalnya adalah berputar. Gasiang merupakan permainan tradisional yang berbentuk bulat. Ada beberapa jenis dan cara memainkan gasiang. Pertama adalah gasiang bulat pada kedua sisinya dan lonjong bagian atas dan bawahnya. Gasiang jenis ini dibuat dari kayu yang keras. Jenis kayu yang biasa dipakai adalah kayu yang berasal dari pohon nangka ( Artocarpus Integra ), pohon jambu biji ( Psidium guajava ) atau kayu dari akar pohon lundang. Pada bagian bawah gasiang diberi paku tempat ia berputar, sedangkan di bagian atasnya ada bagian yang menonjol layaknya kepala. Gasiang dimainkan dengan cara mengikatkan tali atau benang di sekeliling lingkaran badan gasiang dan kemudian dilempar dengan kuat sehingga gasiang berputar. Tali yang biasa digunakan adalah bahan dari serat nenas. Daun nenas direndam, kemudian dibelah sehingga berbentuk serat. Serat inilah yag kemudian dibuat menjadi tali.

Gasiang akan berputar di tanah dalam waktu tertentu sampai dayanya untuk berputar habis. Permainan ini biasanya dimainkan dalam lingkaran di tanah oleh beberapa orang. Dalam lingkaran itulah gasiang dilemparkan dan berputar. Permainan berlangsung dengan cara mengadu gasiang. Sebuah gasiang di lempar ke dalam lingkaran, kemudian ada gasiang lain yang dilempar untuk menghantam gasiang yang sedang berputar di tengah lingkaran tadi. Gasiang yang tetap berputar setelah beradu merupakan pemenang, sedangkan yang terhenti, pecah atau terlemparkan ke luar lingkaran dianggap kalah. Tampaknya pada masa lalu permainan gasiang cukup populer dan diminati banyak orang, sehingga hampir selalu ditampilkan untuk acara-cara perhelatan. Popularitas itu terlihat melalui beberapa kaba yang mencatat tentang permainan ini. Kadang-kadang permainan ini disertai dengan perjudian. Hingga saat ini, di daerah pedesaan permainan gasiang bulat ini masih ada dan biasa dimainkan.
Jenis gasiang yang lain berbentuk pipih dan dibuat dari seng . Seng digunting sehingga membentuk bulatan. Di bagian tengah itu kemudian diberi dua lubang untuk memasukkan benang. Cara memainkannya, gasiang diputar sambil menarik-narik benang. Semakin kuat tarikan, semakin kuat putaran gasiang. Gasiang seperti ini juga diadu secara berhadapan oleh dua pemain. Gasiang yang terhenti atau putus benangnya dianggap kalah.
Gasiang tingkurak . Jenis gasiang yang biasa difungsikan sebagai media untuk menyakiti dan menganiaya orang lain secara magis. Gasiang tingkurak bentuknya mirip dengan gasiang seng yang pipih, tetapi bahannya dari tengkorak manusia. Gasiang seperti ini hanya bisa dimainkan oleh dukun, orang yang memiliki kemampuan magis. Sambil memutar gasiang, dukun membacakan mantra-mantra. Pada saat yang sama, orang yang menjadi sasaran akan merasakan sakit, gelisah dan melakukan tindakan layaknya orang sakit jiwa. Misalnya, berteriak-teriak, menarik-narik rambut, dan -yang paling popular- memanjat dinding. Pekerjaan ini biasanya dilakukan pada malam hari. Bila dukun bisa mempengaruhi korbannya, maka korban akan berjalan menemui dukun atau orang lain yang meminta dukun melakukan hal demikan. Di antara isi mantra dukun itu berbunyi, “jika korban sedang tidur suruh ia bangun, kalau sudah bangun suruh duduk, jika duduk suruh berjalan, berjalan untuk menemui si anu…”. Penyakit magis yang disebabkan oleh gasing tingkurak ini lazim disebut Sijundai .
Ilmu magis yang memanfaatkan gasiang tingkurak untuk menimbulkan penyakit sijundai merupakan ilmu jahat yang dijalankan melalui persekutuan dengan syetan. Ilmu ini beredar luas dan dikenal oleh masyarakat di pedesaan Minangkabau pada umumnya. Hal ini misalnya terlihat pada popularitas lagu Gasiang Tingkurak ciptaan Nuskan Syarif yang dinyanyikan oleh Elly Kasim, seorang penyanyi Minang legendaris. Gasiang tingkurak biasanya digunakan membalas dendam. Seseorang datang kepada sang dukun untuk menyakiti seseorang dengan sejumlah bayaran. Ukuran harga yang lazim digunakan adalah emas. Sebagai syarat pengobatan, biasanya dukun meminta emas dalam jumlah tertentu sebagai tanda, bukan upah. Tanda ini akan dikembalikan jika sang dukun gagal dalam menjalankan tugasnya. Tetapi kalau ia berhasil, maka uang tanda ini diambil, dan pemesan harus menambahnya dengan uang jasa.
Selain untuk menyakiti, ada dukun tertentu yang menggunakan gasiang tingkurak untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh hal-hal magis. Yang lainnya, gasiang sering juga dipakai sebagai media untuk mensugesti orang lain menjadi tertarik pada diri kita. Ilmu terakhir ini biasa disebut Pitunang .
Sesuai dengan namanya, bahan utama gasiang tingkurak adalah tengkorak manusia yang sudah meninggal. Gasiang ini hanya bisa dibuat oleh orang yang memiliki ilmu batin tertentu. Pada berbagai daerah terdapat beberapa perbedaan menyangkut bahan tengkorak yang lazim dan paling baik digunakan sebagai bahan pembuat gasing tingkurak. Pada beberapa daerah, tengkorak yang biasa digunakan adalah tengkorak dari seseorang yang mati berdarah, daerah yang lain lebih menyukai tengkorak dari orang yang memiliki ilmu batin yang tinggi khususnya untuk pengobatan, sedangkan daerah yang lain lagi percaya bahwa tengkorak dari wanita yang meninggal pada saat melahirkan merupakan bahan paling baik. Bahkan pada daerah tertentu, seorang informan menyebutkan bahwa tengkorak yang paling baik adalah tengkorak anak-anak yang telah disiapkan sejak kecil. Anak itu dibawa ke tempat yang sunyi, kemudian dipancung. Tengkorak yang masih berdarah itulah yang dijadikan bahan untuk gasiang tengkorak.
Bagian tengkorak yang digunakan adalah pada bagian jidat. Pada hari mayat dikuburkan, dukun pembuat mendatangi kuburan, menggali kubur dan mayatnya dilarikan. Tengkorak yang diambil adalah pada bagian jidat, karena dipercaya pada bagian inilah terletak kekuatan magis manusia yang meninggal. Ukuran tengkorak yang diambil tidak terlalu besar, kira-kira 2 X 4 cm. Saat mengambil tengkorak mayat, dukun membaca mantra khusus sambil menyebut nama si mayat. Setelah diambil, jidat itu dilubangi dua buah di bagian tengahnya. Saat terbaik untuk membuat lobang adalah pada saat ada orang yang meninggal di kampung tempat pembuat gasiang berdomisili. Saat demikian dipercaya akan memperkuat daya magis gasiang. Kemudian pada kedua lubang itu dimasukkan benang pincono, atau benang tujuh ragam. Gasiang dan benang itu kemudian diperlakukan secara khusus sambil memantra-mantrainya. Gasiang itulah kemudian yang digunakan untuk menyakiti orang.
Ada lagi jenis gasiang lain, yang fungsinya hampir sama dengan gasiang tingkurak. Gasiang ini terbuat dari limau puruik ( Citrus hystrix ) dari jenis yang jantan dan agak besar. Pada limau itu dibacai mantra-mantra. Limau purut ditaruh di atas batu besar, kemudian dihimpit dengan batu besar yang lain. Batu itu sebaiknya berada di tempat terbuka yang disinari cahaya matahari sejak pagi hingga petang. Sebelum dihimpit dengan batu, dibacakan mantra. Limau dibiarkan hingga kering benar, setelah itu baru dibuat lobang ditengahnya. Ke dalam lobang itu digunakan banang pincono, atau benang tujuh warna.
Gasiang jenis ini biasanya dipakai untuk masalah muda-muda dan pengobatan. Pemakaian gasiang ini menggunakan perhitungan waktu tertentu yang didasarkan pada pembagian waktu takwim. Untuk kepentingan muda-mudi, waktu yang lazim dipakai adalah waktu Zahrah, sedangkan untuk pengobatan dilakukan pada waktu Syamsu. Untuk tujuan baik, tidak ada pantangan saat menggunakan gasiang. Tetapi untuk hal yang jahat, maka pengguna harus menghindari seluruh hal yang berkaitan dengan jalan Tuhan harus dihindari.
• Kritikus sastra dan dosen Fakultas Sastra Univ. Andalas, ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat; penulis cerita anakSumber : http://www.ranah-minang.com

~ by Is Sikumbang on April 17, 2008.

One Response to “GASIANG”

  1. baru sekarang saya tahu secara mendalam tentang gasiang ini. sebelumnya, saya kira hanya mainan anak2 saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: