MANGKUIH

Oleh : Yusrizal KW
Kalau ada teman sakit, seseorang menyarankan memakai obat kampung. Karena ingin sembuh, tak salah kalau juga dicoba meminum obat tradisional. Paling kurang, kalau obat yang disarankan tidak juga kunjung membuat rasa badan agak enak, maka orang Minang bilang, “Indak mangkuih ubek nan batunjuakan tu mah (Tidak mujarab obat yang ditunjukan itu)”. Yang menunjukkan bisa saja menjawab sambil seloroh, “Obat kampung ini, paling kurang, jika tak menyembuhkan minimal perut kita terasa kenyang, haus pun lepas.” Kata “mangkuih” sebenarnya sama dengan mujarab, menyembuhkan, mempan atau memenuhi target pemulihan. Mangkuih atau mangkus, kata yang menyebabkan kita berpikir (kalau dipikir ya), tentang betapa pentingnya kesembuhan. Bermaknanya pemulihan. Berartinya jawaban yang berbunyi “kembali normal”. Kalau komputer kita kena virus, anti virus yang tak diperbarui, kadaluarsa, tak akan mangkuih membunuh virus.
Mangkuih, disampaikan untuk sesuatu yang sedang terjadi, sakit misalnya, yang bisa saja dengan tips atau obat yang ditawarkan atau sudah dimanfaatkan. Sakit ini, kalau dijabarkan, banyak pula cabangnya. Ada yang namanya demam, sakit hati, sakit otak atau kantong sakit. Kalau demam ke Puskesmas saja, obat yang diberi dokter ditambah istirahat, banyak pula minum air putih, mangkuih juga. Sakit hati, bisa saja menyimpan jengkel. Kalau tak pandai membujuk hatinya, ajakan untuk berbaikan tak bakal mangkuih. Kalau sakit otak, suntuk saja bawaannya. Marah, stres atau malahan keluh-kesah membuat sarang untuk bersikap sabar dan tenang tak mangkuih. Kalau di Indonesia ini, banyak koruptor kakap, pembabat hutan (maling kayu berizin) tak tersentuh hukum, itu artinya obat perbaikan yang dijanjikan pemerintah setelah menang pemilu tak mangkus. Kritikan sekritis dan secerdas apa pun dilontarkan, kalau istilahnya obat yang disarangkan sebagai penyembuh kalau dimakan akan menyehatkan, tapi karena setengah dan pura-pura minum, akhirnya obat mujarab terkesan tak mangkus. Parahnya, ketika kita menyadari, obat apa pun yang diberi dengan petunjuk yang antusias, karena tak berniat teguh untuk perbaikan, maka petunjuk antusias tak mangkus. Nah, coba bayangkan, ketika banyak kebijakan atau “kerja” penguasa yang tak membuat rakyatnya merasa ada yang termudahkan dalam hidup dan nasibnya, maka ketika itulah kita merasa pemerintah tak memiliki resep mangkuih untuk kesejahteraan. Atau resep manjur untuk kehidupan yang (sedikit saja) lebih baik.Ada anak perempuan kita, pakaiannya seksi, pinggang celananya melorot tergantung, kita yakin itu tak sesuai syariat Islam. Mestinya ajaran agama obat mangkus bin mujarab untuk pemulihan sakit candu buka aurat. Tapi, karena tidak diajarkan dengan niat dan cara yang baik, abak dan amaknya di rumah nyaman-nyaman saja, sehingga seakan-akan nilai-nilai mulia tidak mempan untuk perbaikan. Padahal, kita yang sesungguhnya sudah bebal, tak mangkus diinspirasi, akal tak manjur lagi digunakan karena tak sering berpikir untuk membuat suatu keputusan yang elok dan mencerahkan, termasukm untuk diri dan keluarga. Anak jalanan, dikejar dan ditangkap Satpol PP karena mengganggu ketertiban umum. Tindakan itu akhirnya bisa dianggap tak mangkus untuk pemulihan kepentingan atau kenyamanan umum dari anak jalanan, karena tak lama setelah penangkapan itu mereka sudah “kencreng-kencreng” dan tampil lagi di jalanan, bahkan di hadapan orang yang mengejar dan menangkapnya tempo hari. Mangkus, butuh keseriusan, jika tidak terkabul mesti tulus untuk mencari obat atau cara lain.*

http://www.padangekspres.co.id

~ by Is Sikumbang on April 21, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: