ABIH

Oleh : Yusrizal KW
Abih, habih itu sama dengan habis. Tak ada lagi. Kosong stoknya. Tak bersisa sedikit pun jua. Tak ada yang bisa diketengahkan. Bisa saja ia terjual. Juga bisa karena tertunggang, terbakar, tergadai, atau hilang dimaling orang. Banyak hal membuat kita abih, merasa orang tiada apa pun sama sekali.
Abih, habih atau habis samalah itu. Kalau ada yang berkata, bisa habis dia sama saya. Maksud katanya, bisa menjadi: dikerjai, ditangani hingga babak belur, dimaki-maki, atau malah buruknya dibunuh. Abih, yah…, kata itu, memang bisa ditafsir ke banyak arti. Abih kasabaran, artinya yang ada desakan untuk menghabisi, marah atau tidak ada maaf bagimu lagi. Kita bisa abih di mata orang lain kalau ketahuan tidak jujur, berzina, korupsi, merampok dan melakukan tindakan negatif. Lebih abih lagi, kalau kita adalah tokoh masyarakat. Dari hal itu, kita bisa menyimpulkan hal positif dari kata “abih”. Yaitu, ketika kesadaran kita yang muncul adalah sebagai manusia bermartabat, memiliki budi pekerti dan ilmu pengetahuan, artinya kita dinilai berisi. Diri kitalah yang menampung dan harus menjaga isinya agar tak tumpah, hilang, terbakar. Dan, jika hal itu kita nodai, menimbulkan cela, maka orang menganggap kita “abih….”
Ketika abih mendapatkan dirinya dalam kata “kosong”, di balik itu ada catatan masa lalu. Maksudnya, ia pernah terisi. Beda halnya dengan kosong, bisa saja sejak mula memang tidak ada, perlu diisi. Ia ada karena untuk diisi. Kalau abih, ia pernah memiliki catatan pernah berisi, apakah setengah, penuh atau melimpah. Banyak kilah, kurang lebih bisa dibegitukan, pada kata “abih”. Bermain di kata “abih” kita bisa bersua kata abih kesabaran. Di sini, yang ada adalah, bahwa “sabar” itu sudah terbakar emosi, amarah, sehingga abih dalam diri kita. Jawabannya mungkin marah-marah kepada orang yang membuat kesabaran kita habis, atau menganggap orang yang membuat kesabaran kita habis tak ada apa-apa, karena itu tak perlu menghormatinya.
Kalau kita dengar kata basiabih didengungkan di telinga kita, tentulah, maksudnya boleh kita artikan sebagai “mati-matian”, “habis-habisan”, atau asyik “menghabiskan” untuk suatu tujuan tertentu. Basiabih, juga bisa sebagai pembuktian cinta. Misalnya, dia bersihabis untuk kemajuan anaknya. Semangat rela berkorban untuk hari depan anak yang membahagiakan kita, atau untuk apa saja yang menurut kita baik. Abih manis sepah dibuang. Artinya, menjadi ampas, sepah adalah hal yang tak menyenangkan. Tetapi, kalau ada seorang teman, hanya suka manisnya kita saja, ketika tak ada apa-apanya lagi pada diri kita dia menjauh, nah teman kita itu bisa kita anggap “abih”. Dia maunya manis kita saja, ketika pahit, dia muntahkan kita.
Yang paling menarik, kata “abih” bisa berada pada berbagai posisi. Untuk posisi mengancam, kata itu menjadi, “Jan macam-macam yo, abih waang di den beko (Jangan macam-macam ya, habis kamu sama saya nanti). Di posisi sedang kecewa, dia pun bisa menjadi: Lah abih paja tu di mato den. Den tunjuaknyo jadi katua supaya maraso bamartabat, malengah-lengah sajo nyo. Baru tau den, inyo indak ado apao-apo. Sipuluik lagaknya, badari ditanak.” (Sudah habis dia di mata saya. Saya tunjuk dia ketua supaya merasa bermartabat, cuek-cuek saja dia. Baru tahu saya, dia tak ada apa-apanya. Sipulut gayanya, berderai dimasak). Kalau kata abih dalam posisi baru dikerjain kawan-kawan dekat, maka celetohennya, “Kanai den. Abih juo awak dibueknyo (Kena saya. Habis juga saya dibuatnya), sembari tersenyum dan garuk kepala.
Abih, yah kata itu, menawarkan gelengan lesu. Sesuatu yang membuat kita merasa miskin, atau pentingnya pola menyisihkan sesuatu sebagai cadangan, bermaknanya menabung uang atau kebaikan. Abih, kata itu, memiliki pesan mendalam, karena kita digelitik untuk menalar, ketika perutmu kosong, carilah nasi atau isi dengan yang mengenyangkan dan halal. Tetapi, ketika nilai di hati kita habis, kala perut kita kosong, atau kebutuhan nafsu kita kosong, maka salah satu anjuran dari “abih” adalah, mencurilah, karena bukankah semuanya tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Jika pun bertaruh pahala, perbuatan buruk dan dosa kita telah mengahbiskan semua kebaikan yang bisa menjelma pahala.n

~ by Is Sikumbang on April 24, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: