Janiah

Oleh : Yusrizal KW
Orang Minang menyebut kata jernih adalah janiah. Janiah maupun jernih, artinya sama: bening, tidak muram, tidak keruh. Kalau bertemu dengan air janiah, bening pula rasa hati, bersih pula pikiran dikira-kira. Air jernih, sebagaimana hati atau pikiran jernih, dibutuhkan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena itu, aie (air) janiah, jika ia diminum, kala ia mengalir, yang ditawarkannya adalah kesejukan-kenyamanan. Setiap orang memandang, jika ia air, ingin meminum untuk pelepas dahaga. Ia wajah seseorang, merasa mendapatkan pancaran hati yang bercahaya.
Ada rangkaian kata-kata, keruh minta dijaniahkan, kusut minta diselesaikan. Dari kalimat itu, kita mendapatkan, makna mencari solusi, jalan keluar dari kungkungan masalah. Tentu, kalau kita berfokus pada “minta dijaniahkan”, kita dihela ke arah penyelesaian, bukan makin berendam di air keruh masalah. Muko (wajah) nan janiah, merupakan wujud dari hati yang bening. Hanya orang yang selalu iklas dan bersyukur, berpikir positif, yang hanya bisa memancarkan wajah bercahaya bening. Mereka yang seakan-akan iklas, seakan-akan bersyukur, tentu pancaran wajahnya juga seakan-akan jernih. Untuk memahami, percaya atau tidak muka jernih hati jernih itu ada, dibituhkan pula cara sehat berpikir jernih. Kalau tidak, air keruh kian memperkeruh hal yang sudah keruh.
Bapikia (berpikir) janiah, bisa tergerakkan kalau hati yang mendukung dalam keadaan jernih. Bukankah hati merupakan mata air, sehingga mempengaruhi pikiran. Atau, pikiran jelmaan mata air, sehingga ia positif, hatinya jadi jernih. Kalau hati dan pikiran kita janiah, tentu hidup yang kita jalani akan terasa lebih indah. Tetapi, ketika ada teman nyeletuk sembari berkata, “Bagaimana bisa jernih hati dan pikiran kalau uang di saku tak ada, beras yang akan ditanak sudah habis, kebutuhan serba mahal….” Nah, yang nyeletuk barusan, cara berpikirnya yang belum jernih. Karena orang yang berpikir jernih, akan mudah mendapatkan jalan keluar untuk membuat hati dan pikirannya tenang. Dalam tenang (suasana janiah), seseorang bisa menemukan ide atau memenangkan pertempuran, terutama melawan “hantu” dalam diri.
Banyak masalah yang mendera bangsa Indonesia, negeri tercinta ini. Korupsi menjadi-jadi. Pemimpin bermoral (berhati dan pikiran jernih), kata orang biasa berpikiran jernih, makin langka. Karena itulah, kita seakan terus berenang di tengah kekeruhan persoalan. Air yang mengalir dari sononya, kok rasanya keruh. Kok makin lama makin susah jernihnya. Saya pernah membaca Metafora Hikmah yang ditulis Abi Abdullah At_tarmidzi tentang perumpamaan pemimpin. Kata para ulama salaf, pemimpin itu adalah perumpamaannya mata air yang jernih yang menghasilkan sungai besar. Orang-orang berenang di dalam genangan sungai besar itu.
Sehingga airnya pun menjadi keruh. Tetapi setelah air keruh itu ditimpa air dari sumber mata air nan jernih, ia kembali jernih. Tetapi, ia akan tetap keruh, jika sumber air-si mata air-itu sendiri yang keruh. Tentu, kekeruhan akan mengental. Bagaimana mungkin sungai akan jernih. Solusinya kalau sudah demikian, tak ada cara lain. Kecuali memblokir sungai. Begitu juga pemimpin. Kalau yang terpilih adalah mereka dari kalangan air keruh, bagaimana bisa menggenangkan kehidupan dengan danau kebeningan.(***)

www.padagekspres.co.id

~ by Is Sikumbang on April 24, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: