Nilai-Nilai Agama Islam dalam Muatan Ajar di Sekolah-Sekolah, melihat seabad perjalanan hari Kebangkitan Nasional.

NILAI AGAMA ISLAM DAN MUATAN LOKAL
DI SUMATERA BARAT
Oleh; H. MAS’OED ABIDIN

Visi Misi Pendidikan Indonesia ;
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan
“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

MUKADDIMAH
Nilai-nilai agama Islam mendorong ke penguasaan ilmu pengetahuan, seperti adanya anjuran, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an). Anjuran ini mengingatkan pentingnya menjaga proses dan kegiatan belajar mengajar. Pendidikan dan menuntut ilmu adalah satu kewajiban asasi anak manusia.
Dengan ilmu, seseorang akan mengabdikan kehidupannya dengan ikhlas, cerdas, pintar, dan berakhlak, serta berkarya baik (shaleh).
Dengan ilmu dapat dijelmakan hasanah pada diri, kerluarga, dan di tengah umat di kelilingnya.
Pengamalan agama di bidang pendidikan, bertujuan membentuk sumber daya manusia pintar, cekatan, berilmu, mampu, kreatif dan produktif, kait berkait dengan peningkatan kemampuan masyarakat dari sisi ekonomi, mendorong partisipasi di dalam menjelmakan kebaikan untuk diri, keluarga, kemaslahatan dan kemajuan generasi bangsa pada umumnya.
Tujuan ini dapat diraih dengan program pendidikan dan proses pembelajaran terpadu, terintegrasi antara konsep dan aplikasi, disertai peningkatan kesadaran seluruh masyarakat.
Pekerjaan ini perlu semangat (spirit) dan kearifan (political will) di dalam penguatan jaringan pengertian (networking) dan tatanan pendidikan di antara individu, kelompok keluarga, dan lembaga pendidikan.
Bimbingan agama menyebutkan, “menuntut ilmu adalah wajib, bagi setiap lelaki dan perempuan muslim” (Al-Hadist).
Dan pesan Rasul SAW juga mengingatkan, “siapa yang inginkan mendapat keberhasilan di dunia, hanya didapat dengan ilmu, dan siapa yang inginkan akhirat juga dengan ilmu, dan siapa yang inginkan keduanya juga dengan ilmu” (Al-Hadist).

MENGHADAPI FENOMENA GLOBAL
Di tengah kehidupan kini, terasa ada satu fenomena kecintaan budaya luar (asing) menghimpit.
Pengaruhnya ke perubahan perilaku masyarakat, antara lain pengagungan materi (materialistic) secara berlebihan, amat kentara.
Kecenderungan memisah kehidupan dari supremasi agama (sekularistik) makin kuat.
Pemujaan kesenangan indera dan kenikmatan badani (hedonistik), susah dihindari. Hakikinya, perilaku umat mulai menjauh dari nilai-nilai budaya luhur dan nilai-nilai agama.
Sungguhpun masyarakat Sumatera Barat umumnya mempunyai kaedah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, namun terasa mulai terabaikan. Akibatnya terasakan ke cara pemenuhan kebutuhan masyarakat mulai payah, beriring dengan malas menambah ilmu, dan enggan berprestasi.
Hal inilah pada akhirnya mudah mengundang suburnya kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.
Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama membuat penyakit sosial jadi kronis, gemar berkorupsi, lemah aqidah, tipis tauhid, lalai ibadah dan berperilaku tidak Islami.
Paradigma giat merantau dan badagang sambil menuntut ilmu , bergeser ke menumpuk materi dengan mengabaikan ilmu serta lalai menguasai keterampilan. Ketidakberdayaan generasi tampil dari ketertinggalan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lemah minat menyerap informasi dan komunikasi.
Ketertingalan ini pula yang menjadi penghalang pencapaian keberhasilan di segala bidang.
Hilang network, menjadi titik lemah penilaian terhadap generasi bangsa.
Tantangan ini mesti diatasi dengan kejelian menangkap peluang, memadukan nilai-nilai agama Islam ke penguasaan ilmu pengetahuan.
Nilai-nilai agama memacu peningkatan kualitas diri.
Penerapan nilai-nilai Islam diujudkan melalui proses pembelajaran terpadu (integrated), hingga ke tingkat perguruan tinggi.
Penekanan kepada uswah (contoh tauladan), akhlak agama (etika religi), ibadah (syari’at), serta nilai luhur adat istiadat Minangkabau, menjadi kekuatan dari kearifan lokal.
Tidak boleh ada kelalaian dan kemalasan di tengah mobilitas serba cepat, dan modern.
Persaingan tajam dan keras, tidak dapat dielakkan dari laju informasi dan kencangnya komunikasi tanpa batas.
Kemampuan bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, di era globalisasi mengait ke semua aspek kehidupan. Imbasannya akan teratas dengan menguasai iptek, ICT dan akhlak yang teguh.
Integrasi akhlak yang kuat dari pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin) sejalan dengan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas) dalam masalah sosial (umatisasi), tampak di dalam kebersamaan sebagai buah dari taqwa, dan berperilaku responsif serta kritis menatap perkisaran zaman. Pendidikan dengan materi pembelajaran yang padu antara nilai-nilai etika religi (akhlak mulia) dengan konsep ilmu pengetahuan akan memberi kekuatan kepada generasi terdidik untuk dengan mudah menggeluti kehidupan duniawi bertaraf perbedaan, memiliki kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin di seluruh nagari dan di tengah bangsa-bangsa.
Ketahanan umat, bangsa dan daerah, ada pada kekuatan ruhaniyah dengan iman dan siasah kebudayaan.
Intinya tauhid.
Pengamalan ajaran syarak (agama Islam), implementasinya ada pada akhlak. Aplikasinya mampu menata kehidupan berperilaku dengan adat istiadat dalam lingkaran nagari.
Generasi Sumatera Barat secara menyeluruh akan menjadi baik, jika mampu mengembalikan nilai-nilai etika adat (ABS-SBK) dan nilai-nilai agama Islam.
Dalam hubungan bermasyarakat, dapat dilakukan dengan “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain”, (Al Hadist).
Inilah cara pendidikan yang tepat.
Bimbingan Allah SWT dalam Alquran menjelaskan, ” bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan dari langit dan di bumi (QS.7,al-A’raf:96).
Penguatan dan penyebaran informasi dan komunikasi, dimulai dari pendidikan dan pembelajaran yang terpadu.
Beberapa contoh Nilai-Nilai Agama dalam Ilmu Pengetahuan.
1. Nilai-nilai agama Islam mengarahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.
Diarahkan pandangan dan penelitian kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna, menghasilkan buah bermacam rasa.
” Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”
2. Nilai agama Islam juga mengarahkan perhatian memahami alam hewan dan ternak, yang serba guna, dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang, serta dagingnya sumber gizi, dapat dimakan, kulitnya dipakai sebagai sandang. Dengan pembelajaran itu, manusia dapat menjaga, memeliharanya sebagai anugerah Allah.
“Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu, padanya ada bulu (kulit) yang menghangatkan, dan berbagai-bagai manfa’at, dan sebagiannya kamu makan” (QS.16, An Nahl : 5).
3. Nilai-nilai agama Islam juga mengarahkan ke perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.
Dengan demikian lahir beragam ilmu bertalian dengan pengolahan, pemeliharaan, eksplorasi hasil tambang, mineral, ataupun penjagaan sumber-sumber hayati baik flora dan fauna.
“Dan Dia telah menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu dimudahkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang memahaminya.
Dan Dia menundukkan pula apa-apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mau mengambil pelajaran” (QS.16, An Nahl : 12-13).
4. Diarahkan pula perhatian ke lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah).
Demikian itu, tiada lain supaya manusia pandai bersyukur, pandai menjaga dan memelihara, di samping memanfaatkan untuk kemashlahatan umat manusia jua.
5. Demikian pula diarahkan perhatian ke bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.
6. Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari. Pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingannya waktu, yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.
7. Di jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk mencari nafkah hidup. Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.
Artinya mengajarkan manusia tidak boleh lalai dalam memanfaatkan waktu dengan baik.
8. Ditanamkan kesadaran pembelajaran betapa luasnya bumi Allah. Dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit, terjadilah emigrasi, transmigrasi, mobilitas vertikal dan horizontal, transportasi dan komunikasi. .
9. Allah SWT menciptakan bumi jadi mudah untuk digunakan. Beredarlah di atas permukaan bumi, makanlah rezeki dariNya dan kepadaNya tempat kembali.
10. Kalau dihitung segala ni’mat Allah, tidak mampu manusia menghitungnya.
Nilai-nilai agama itu bermuatan pembelajaran karakter agar manusia terdidik menjadi insan yang pandai mengendalikan diri, tidak boros, dan tidak melewati batas, dan tidak berlebihan”.
Nilai-nilai agama Islam bermuatan pembelajaran bahwa alam di tengah mana manusia berada, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah kekuatan, dan khasiat yang diperlukan manusia mempertinggi dan memperkembang mutu hidup jasmani dan rohaninya.
Manusia diharuskan membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah alam sekelilingnya, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada Ilahi.
Manusia harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan.
Manusia mesti menjaga diri agar tidak dibawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.
Sikap itu lahir dari proses pembelajaran dari materi ajar yang berisi muatan nilai-nilai agama Islam.
Manusia dikenalkan dengan bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.
Hasil nyata dorongan tersebut tergantung dalam atau dangkalnya sikap hidup yang dibentuk oleh pendidikan sesuai materi ajar yang digunakan.
Materi bermuatan nilai-nilai agama Islam akan berurat berakar di jiwa umat, yang pada gilirannya mendorong pemupukan tingkat kecerdasan yang dicapai dan keadaan umum di mana mereka berada.
Sebagai masyarakat adat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat bersendikan Kitabullah, maka kaedah adat memberi pelajaran-pelajaran antara lain:

1. Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh
Ka karang rancam ma-aruih
Ka pantai ombak mamacah
Jiko mangauik kameh-kameh
Jiko mencancang, putuih – putuih
Lah salasai mangko-nyo sudah
Bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada.
Bila mengerjakan sesuatu tidak lalai ataupun enggan.
Tidak berhenti sebelum sampai Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

2. Mempedulikan tata cara atau prosedur:

Senteng ba-bilai,
Singkek ba-uleh
Ba-tuka ba-anjak
Barubah ba-sapo
Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito,
Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang,
Karajo baiak ba-imbau-an,
Karajo buruak bahambau-an,
Panggiriak pisau si rauik,
Patunggkek batang lintabung,
Salodang ambiak ka nyiru.
Setitiak jadikan lauik,
Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diharungi. Seiring bidal dengan pantun;

Biduak dikayuah manantang ombak,
Laia di kambang manantang angin,
Nangkodoh ingek kamudi,
Padoman nan usah dilupokan.
Pawang biduak nan rang Tiku,
Pandai mandayuang manalungkuik,
Basilang kayu dalam tungku,
Disinan api mangko hiduik.

Musyawarah adalah inti ajaran Islam.
Tidak boleh membiarkan umat dan generasi meninggalkan prinsip musyawarah. Sikap hati-hati sangat dituntut dipunyai oleh setiap orang sesuai nilai-nilai Islam. Kehati-hatian dalam bertindak pertanda kejernihan berfikir, dan langkah awal meraih keberhasilan dalam segala hal.
Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tanggo.
Pemahaman adat bersendi syarak dan syari’at bersendi Kitabullah mesti ditanamkan.
Umat Islam mesti hidup dengan kecerdasan (rasyid) berpegang kuat ke ajaran Alquran dan sunnah Rasul Allah.
Sadar iman dibuktikan dengan benci kepada dosa dan maksiyat.
Umat akan menjadi lebih kuat, dengan kecerdasan dan iman yang kokoh.
Pendidikan harus dilakukan sungguh-sungguh sebagai anugerah Allah.
Karakter dan moralitas hidup berbangsa akan tampak dalam cinta persaudaraan dan kuat persatuannya.
Sikap jiwa atau karakter umat mesti dibangun untuk menempuh kehidupan yang dikaitkan dengan arif dalam bertindak dan memilih.
Hendak kaya, badikit-dikit (hemat)
Hendak tuah, bertabur urai (penyantun)
Hendak mulia, tepati janji (amanah)
Hendak lurus, rentangkan tali (mematuhi peraturan)
Hendak beroleh, kuatlah mancari (etos kerja yang tinggi)
Hendak nama, tinggalkan jasa (berbudi daya)
Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)
Karena sekata, makanya ada (rukun dan partisipatif)
Karena sekutu makanya maju (memelihara mitra usaha)
Karena emas semua kemas (perencanaan masa depan)
Karena padi makanya manjadi (pelihara sumber ekonomi)
Nilai-nilai Islam mengajarkan bahwa bumi Allah yang terbentang luas ini, menuntut sikap bersungguh-sungguh dalam mengolah dan mengelolanya, dengan rajin dan pintar.
Tantangan berat di manapun akan mampu diatasi oleh generasi terdidik dengan muatan nilai-nilai agama dalam proses pembelajarannya.
Kemampuan itu tumbuh karena mencari redha Allah.
Dengannya, pendapatan meningkat, dan kesejahteraan terbuka luas. Peluang usaha dan mobilitas terjaga dengan kebersamaan.
Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak
Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandan pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak.
Pemanfaatan alam yang terbatas di ranah ini, menjadi lebih bermanfaat bila mampu menata dengan baik serta menempatkan sesuatu menurut keadaan dan musim, serta tidak merusak alam lingkungan.
Alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang di nan rumik. Sudah berkeris sempurna, bingklisan raja Majapahit, Tuah bersebab berkarena, pandai bertenggang pada yang runmit.
Latiak-latiak tabang ka Pinang
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo.
“Letih-letik (sejenis burung pipit) terbang ke Pinang, hinggap di Pinang dua-dua, Setitik air dalam pirin, di sana bermain ikan raya (sejenis ikan nila)”
3. Berorientasi kepada kemakmuran
Rumah gadang gajah maharam,
Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja,
Sabuah si bayau-bayau,
Panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau Lauik,
Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan.
4. Bersikap hati-hati dan penuh perhitungan:
Ingek sabalun kanai,
Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai
Agak-agak nan ka-tingga.
Setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pendidikan membangun umat lahir dan batin material dan spiritual, pasti akan menemui di dalam nilai-nilai Islam itu satu iklim (mental climate) yang subur.
Intinya, diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap perubahan yang berlaku.
Mengabaikan nilai-nilai agama Islam ini, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.
Membangun kesejahteraan bertitik-tolak pada pembinaan unsur manusianya. Masalah perilaku umat mesti dibimbing oleh ajaran (syari’at) agama yang haq. Sesuai dengan syarak mengata, maka adat atau perilaku memakaikan.
Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syarak kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi.
Apabila adat dan syarak tersusun dengan baik, masyarakat akan tenteram (bumi senang, padi menjadi).
Kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi aman dan damai.
Perekonomian masyarakat akan berkembang.

HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH
Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak.
Hilang kendali menjadikan ketahanan bangsa kemah.
Hilangnya panutan pengawal budaya dan pupusnya wibawa keilmuan mengamalkan nilai-nilai agama Islam, menjadikan daya saing anak nagari menjadi lemah.
Lemahnya tanggung jawab masyarakat, berdampak kepada meluasnya tindak kejahatan.
Hilang keseimbangan, enggan berusaha telah melebarkan frustrasi sosial dalam menghadapi berbagai kemelut.
Krisis nilai karena bergeser akhlak, menjadikan tanggung jawab moral mengarah ke tidak acuh (permisiveness).
Perilaku maksiat, aniaya dan durjana, payah membendung.
Pergaulan masyarakat mengalami gesekan-gesekan.
Sikap penyayang dan adil, sesungguhnya yang jadi pengikat hubungan harmonis dengan lingkungan, ulayat, dan ekosistim lebih sempurna.
Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Budaya berakhlak mulia adalah wahana kebangkitan bangsa.
Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Memperkaya warisan budaya dengan aqidah tauhid, istiqamah pada syari’at agama Islam, akan menularkan ilmu pengetahuan yang segar, dengan tradisi luhur.

MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS
Kita wajib membentuk sumber daya umat yang memiliki nilai asas berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.
Bila pendidikan telah menjadi modus operandus membentuk SDM, maka kurikulum ilmu terpadu dan holistik, perlu disejalankan dengan metodologis madani (tamaddun) yang berprestasi di Sumatera Barat.
Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) berasas iman dan taqwa akan membuat ketahanan umat.
Hubungan ruhaniyah ini lebih lama bertahan dari hanya hubungan structural. Domein ruhiyah perlu dibangun sungguh-sungguh.

SIMPULAN MENGUATKAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan secara sederhana adalah membina anak didik agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup menghadapi tantangan hidupnya di masa yang akan datang dengan kecerdasan yang dimilikinya.
Pada saat ini lembaga pendidikan kita belum dapat menghasilkan apa yang diharapkan karena proses pendidikan belum berjalan dengan benar. Di antaranya ;
• Pendidikan terlalu akademis, kurang menghubungkannya dengan kenyataan dalam kehidupan.
• Pendidikan masih saja menekankan pada jumlah informasi yang dapat dihafal, bukan bagaimana menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
• Pendidikan kurang menekankan pada berfikir kritis dan kreatif.
• Pendidikan kurang memberi tekanan pada pembentukan nilai dan sikap yang mencerminkan agama dan budaya serta etos kerja yang baik.
• Orientasi pendidikan pada lulus ujian dan ijazah, bukan pada kemampuan nyata yang dimiliki.
Kepastian kebijakan pemerintah daerah, dengan satu political action yang mendorong pengajaran Nilai-Nilai Agama Islam melalui jalur pendidikan formal dan non-formal.
Political will ini sangat menentukan dalam membentuk generasi masa datang yang kuat.
Beberapa langkah nyata dapat ditempuh ;
a. Memperbaiki proses belajar mengajar sehingga tekanan tidak lagi hanya pada penguasaan jumlah informasi, tetapi bagaimana mencari dan mengolah informasi secara kritis dan kreatif, pembentukan kepribadian dan sikap yang baik.
b. Sekolah perlu memiliki perpustakaan yang menyediakan sumber belajar yang lengkap untuk memperluas wawasan siswa dan tidak mencukupkan hanya pada buku teks.
c. Keberhasilan sekolah di ukur dari kemampuan siswanya memenuhi standar
d. Dorong sekolah untuk bersaing secara sehat dengan mengutamakan mutu.
e. Perlu pembudayaan nilai-nilai budaya Minangkabau yang berakar ke Islam dalam keseharian di sekolah oleh seluruh warga tanpa kecuali.
Pemerintah daerah perlu mengontrol pertumbuhan sekolah swasta melalui penetapan standar yang ketat.
Sosialisasi pengetatan standar mutu sekolah-sekolah secara terus menerus, mesti dilakukan secara konsisten.
Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.
Menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.
Pendidikan generasi bangsa harus mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah dalam upaya mencetak generasi yang bertanggung jawab, dengan mengajarkan nilai-nilai agama Islam.
Strategi pendidikan maju, dan berperadaban, menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

KHULASAHNYA ;
Nilai-nilai Ajaran Tauhid senantiasa menguatkan hati, dengan kekuatan iman dan taqwa, bersikap madani dan mandiri, serta berperilaku akhlak mulia dengan meraih prestasi.
Modal keyakinan tauhid memacu generasi terpelajar untuk bangkit dengan sikap positif.
a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
b. Menggerakkan integrasi aktif,
c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan daerah dan bangsanya.
Sebagai penutup, mari kita lihat perubahan di tengah arus globalisasi hanya sebagai satu ujian, yang mendorong kita untuk selalu dapat berbuat lebih baik.
Ketika bangsa sedang meniti cobaan demi cobaan yang melanda, mari tanamkan keyakinan kuat, bahwa di balik itu, pasti ada tangan kekuasaan Allah SWT, yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik untuk kita, inna ma’al ‘ushry yusraa.
Sebagai bangsa kita mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin Allah Yang Maha Kuasa.
Sikap terbaik dalam menghadapi ujian demi ujian, adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha.
Tingkatkan kekuatan iman dan taqwa.
Amalkan akhlak mulia sesuai adat istiadat bersendi syarak.
Dijaga ibadah dengan teratur.
Kuatkan diri dengan berdoa.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى
“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”
Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa mendapatkan redha-Nya. A m i n.
Padang, di se abad Hari Kebangkitan Nasional, dan Pendidikan Nasional, Mei 2008.
http://hmasoed.wordpress.com/2008/05/03/nilai-nilai-agama-islam-dalam-muatan-ajar-di-sekolah-sekolah-melihat-seabad-perjalana

~ by Is Sikumbang on May 6, 2008.

One Response to “Nilai-Nilai Agama Islam dalam Muatan Ajar di Sekolah-Sekolah, melihat seabad perjalanan hari Kebangkitan Nasional.”

  1. anda apakah ada fenomena berkurangnya minat
    menjalin hubungan dengan lawan jenis pada sekolah2 islam mengingat
    pergaulan dengan lawan jenis dibatasi,…bagaimana interaksi antara masing2 siswa lawan jenis pada sekolah islam mohon pencerahaannya dari anda .terimakasih sebelummya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: