KISOK

Oleh : Yusrizal KW
Kisok! Itu kata punya orang Minang. Ia berarti kuat, atau sesuatu yang menegaskan, baik untuk kiasan maupun ungkapan positif atau negatif, dengan keterangan: kencang, kebut, di atas biasa-biasa saja. Kalau seorang berpesan kepada temannya yang akan berangkat dengan sepeda motor atau nyetir mobil sendiri, pesannya, “Jan kisok” (Jangan ngebut). Atau, kisok-kisok (kebut-kebutan) di jalan, apa yang mau dikejar. Mati. Atau, ada dua nyawa kamu.
Hal itu, disampaikan, karena yang dongkol atau menasehati, tahu betul, salah satu penyebab kecelakaan di jalan raya, orang suka kisok. Ada pula kisok ka kepeang. Nah ini dia. Kisok ka kepenag, tentulah tahu kita arti gamblangnya: kencang ke duit-mata duitan, apa-apa diukur dengan duit. Kata kisok ka kepeang ini, padanan artinya adalah untuk hal yang negatif. Boleh juga dibilang, kalau melihat uang, terbit seleranya. Orang kisok dengan kepeang ini, susah juga dijadikan teman. Dia termasuk ada uang teman disayang. Dalam keadaan berduit, hidup baginya indah. Puja-puji berhamburan kalau dia dihargai dengan uang. Kalau dia jadi pejabat, bukan tak mungkin, ia korupsi, suka menggelembungkan anggaran, dan membuat kegiatan atau laporan fiktif. Karena apa? Uang. Kepeang!
Ada pula yang menyebut kisok ka padusi. Kisok ka padusi ini, tentulah kencang ke perempuan maksudnya. Kalau lihat perempuan, darahnya berdesir. Matanya enggan berkedip. Meluluhkan hatinya, dengan perempuan. Kalau dia pengusaha, banyak duit, kita punya acara kurang dana, maka ada saran, “Bawa cewek cantik ke ruangan dia. Minta duit?” Pasalnya, Pak Pengusaha itu kisok ka padusi-perempuan. Orang kisok ke perempuan ini, memang hancur dan bahagianya di tangan perempuan. Tentu perempuan, yang dalam hal ini, kisok ka kepeang.
Main-main kata “kisok”, sebenarnya, main-main kemungkinan kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Kata “kisok”, kita dengar, kadang seperti suatu lesatan makna. Ia bisa saja untuk ungkapan kekaguman, membelakangi hal yang negative pada ungkapan di atas. Ketika seorang buruh disanjung oleh mandornya, dengan alasan, kisok bekerja, itu artinya dia rajin, kerja keras, istirahat ketika jamnya tiba, selesai sesuai target yang digariskan. Sementara itu, sang mandor, sebal dengan teman si kisok kerja ini. Sebab, buruh satunya lagi itu, kisok merokok dan ngopi. Sebentar kerja, rokok sebatang, sebentar kerja duduk minum kopi dulu. Karena itu, ketika mandor marah, kalimatnya, “Merokok dan ngopi kisok, kerja malas.” Dia pun punya saran, kalau cari pekerja, jangan yang kisok merokok dan ngopi. Habis merokok dan duduk ngopi saja waktu kerjanya. Masak kita gaji orang untuk kerja merokok dan minum kopi saja.
Lain pula halnya, seorang ayah bangga pada anaknya, karena anaknya juara kelas, bahkan juara umum dan banyak pengetahuan. Ketika ada yang bertanya, apa resep sang anak. Sang bapak tentu tersenyum. “Dia kisok belajar. Membaca buku, tiga judul, tamat seminggu. Kisok juga dia membaca,” kira-kira bisa begitu jawabnya, kalau dia mesti menggunakan kata kisok. Kisok adalah pematrian realitas, dimana ada tahap atau ukuran nilai tertentu, yang ditumpangkan di situ. Kisok, kata itu memang tak banyak terdengar di lidah Minang, tetapi dia masih tersimpan elok di ingatan sebagian besar orang Minang, atau kamus bahasa Minang menyimpannya baik-baik dalam salah satu lembarannya.
Ketika mencerna kata kisok, kita juga menemukan serpihan atau pernik makna pada kata, bisa saja berarti sebagaimana ia ada sesungguhnya, atau berkembang dalam tafsir lain, yang tak mustahil ambigu. Kisok, misalnya, bisa saja memiliki arti tentang perilaku yang berlebihan, keluar dari konteks nilai moral. Bahkan, pada saat yang sama, ia terkoreksi, untuk makna dan kata yang lebih positif. Kata “kisok” mau tak mau, kadang bagaikan layang-layang, yang benangnya di tangan kita. Angin membuatnya mendaki dan menampik, atau putus hingga menemukan makna lain. Ketika ia, layang-layang itu misalnya, naik dengan cepat, angin yang kisok membuatnya memiliki benang menegang, pemain layang, mesti mampu menjaga ulur tarik benang, sehingga layang-layang tak putus. Kata, ia layang-layang yang kadang harus dimainkan dengan imajinatif, kadang dengan memegang benang akal sehat, sehingga ia mengikuti angin perubahan sesuai konteksnya, tak menyisih.(***)

~ by Is Sikumbang on May 9, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: