Parole Tambo, da Matetika Alam Minangkabau

Oleh : Eko Syahadataini

Dari mana titik pelita
Dari tanglung yang berapi
Dari mana asal ninik kita
Dari puncak gunung merap

Pisau sirauik bari hulunyo
Diasah mangko bamato
Lautan sajo dahulunyo
Mangko banamo pulau paco

Bukti yang paling tidak dapat dibantah dari fakta sejarah Minangkabau yang tertulis dalam Tambo adalah diri manusia Minang sebagai bukti yang hidup. Jika menyigi sejarah Minang dari yang tertulis secara satu pandangan saja, maka titik temu yang akan didapatkan hanyalah mitos-mitos belaka; dan bahwa sesungguhnya kesusteraan yang berkembang dalam Tambo telah menceritakan satu kebenaran. Adat istiadat adalah hasil falsafah yang gemilang sejak Sang Sapurba menjadi pelita di puncak Gunung Merapi.

Bumi Minangkabau tidak pernah terlepas dari bentuk yang dimiliki oleh kesadaran, sebuah bentuk yang essensial baginya. Semua hal berada dalam kesadaran, dan tidak dapat dibuktikan berada sebaliknya.

Perkembangan sejarah Minangkabau dalam Tambo bukanlah sebuah mitos yang hanya memiliki dua persen fakta, tapi semuanya adalah sebuah kebenaran yang baru sedikit terpecahkan. Sekarang tergantung dari sudut dan sisi mana melihatnya. Cobalah memandang Tambo secara weltanschauung yang menyeluruh dalam sebuah zetetis, tidak hanya dari segi mitologi.

Tambo sebagai revelasi falsafah alam Minangkabau dapat dikatakan sebagai sebuah ‘wahyu kodrati’ di mana Tuhan berkomunikasi melalui tanda-tanda-Nya kemudian nenek moyang orang Minang mencatatnya serupa apa yang ia lihat dan alami. Jika dihubungankan dengan teori-teori yang ada, maka Tambo akan terlihat sebagai voluntarisme epistemologis; akal budi praktis lebih unggul dari akal budi teoritis, akal budi praktis akan membawa kita kepada keyakinan metafisis yang tidak dapat dilakukan oleh akal budi teoritis.

Kembali kita mempertanyakan 98% mitos yang tertuang dalam Tambo. Apakah kesusateraan bisa dianggap mitos? “Adat yang tak lapuk kena hujan, dan yang tak lekang oleh panas adalah sebuah kenyataan bahwa tambo adalah dunia akal budi, sebuah dunia bahasa yang tidak akan pecah oleh teori logis praktis belaka.

Benar adanya apa yang ditulis oleh M. Jousta (1957) bahwa asal mula nama Minangkabau berada dalam kegelapan. Benar bahwa Sang Sapurba masih diragukan. Benar bahwa Puncak Merapi dan Pulau Paco berada dalam lingkup absurditas. Tapi kenyataannya adalah adat sebagai Zeitgeist­-nya suku bagsa Minangkabau telah menjelma menjadi falsafah dan akal budi yang diamalkan.

Titik balik terdekat untuk melihat kembali yang paling memungkinkan adalah swarnadwipa di katulistiwa ini, ketika Dapunta Hyang menjadi tokoh Sang Sapurba (abad I-kedatangannya terdapat dalam Prasati Kedukan Bukit dan dalam Kitab Ramayana karya penyair India, Walmiki). Dalam Kitab Sejarah Melayu (Tun Sri Lanang; 1621) tertulis-sebagaimana yang dikutip Mid Jamal (1985) dari Moh Yamin (1951)-bahwa pada suatu malam sebelum tahun 517 Masehi, dua orang wanita bernama Wan Empu dan Wan Malini memandang dari rumahnya di atas Bukit Si Guntang itu bernyala-nyala seperti api, sedang nyala itu rupanya adalah cahaya swarna. Swarna inilah yang telah ‘mengundang’ semakin banyaknya bangsa asing ke katulistiwa.

Menurut Moh Yamin, swarna (emas) adalah perlambangan api. Dapat diambil kesimpulan bahwa “dari mana titik pelita” memang “dari tanglung yang berapi”. Tanglung adalah sungai yang terkena pancaran sinar emas yang akan terlihat seperti api dari jauh.

Jauh sebelum ini (±2000 SM- ±250 SM) percampuran Melayu Tua dan Melayu Muda telah menghuni daerah Minangkabau. Kebudayaan neolitikum yang bercorak matrilineal telah menjadi Zeitgeist di bumi Minangkabau. Kaum ibu (perempuan) telah dimuliakan bahkan jauh sebelum kedatangan Islam.

Pencapaian terjauh dari eksistensi Minangkabau adalah, bahwa zaman tidak pernah mengubah kebudayaan Minang dari dulunya sejak-jika benar menurut beberapa perkiraan peneliti-bah Nabi Nuh surut. Dan pada akhirnya dapat dibenarkan bahwa batang tubuh dan ‘roh zaman’ sejarah Minangkabau adalah suatu ‘Konstanta ZA’. Falsafah Minangkabau tidak pernah terpengaruh oleh yang datang dan tidak berubah oleh yang pergi. Tak lapuk oleh hujan tak lekang oleh panas. Yang berlayar dari laut, yang turun dari bukit, adalah revelasi kodrati yang menjadikan peradaban itu asri dan utuh.

Untuk mengenal sejarah Minang, maka banyak hal yang harus diperbaharui. Banyak hal yang tidak bisa diungkapkan karena memang Tambo merupakan sebuah aporia. Bukan karena kurangnya bukti, tapi karena minimnya orang yang berusaha untuk menguak segala hal yang tersirat dalam tambo. Masih minim orang (peneliti) yang mau dan mampu untuk melihat dari segala sisi sesi kehidupan Minang untuk mengungkapkan dan menyadari sebuah Zetetis. Sedang para penyair pun semakin banyak yang membuat gundah sejarah.

Harus dipertimbangkan dan dipertanyakan kembali, apakah sebuah eksistensi itu hanya harus dilihat dari satu sudut dan patahan saja? Jika ‘logika pesisir’ sebagai metaphor ‘yang datang dari laut’ bagaimana dengan ‘pelita tanglung’ dari merapi? Zetetis tidak akan muncul dari satu pandangan saja. Bagaimana dengan darek, luhak, dan rantau? Atau lebih jauh lagi bagaimana dengan Saylendra dari Mahameru? Bagaimana dengan Dapunta Hyang? Ramayana?

Swanadwipa, telur itik, laut, dan merapi, adalah sejarah yang menjadi mitos, bukan sebaliknya. Sedang Tambo yang membawa kaba menjelma menjadi syair yang tidak berasal dari satu roh bahasa saja, tapi kumpulan roh-roh yang membentuk ‘pelita di merapi’ atau menjadi ‘paco dari lautan’.

Menurut hemat saya, tanglung tidak dialirkan untuk satu teritorial saja, pelita tidak menerangi satu pulau saja, dan Tambo bukanlah kaba untuk wilayah Minang yang telah disepakati ini saja. Inilah ‘wilayah apostrophi’ dalam falsafah ‘alam takambang jadi guru’. Dunia telah merefleksikan Minangkabau begitu juga sebaliknya. Empat milenium adalah waktu yang lama. Sejak dari chaos sampai kujaga dan kubela, Minang tetap satu, yaitu sebuah falsafah dan fakta sejarah yang rumit yang tertuang dalam Tambo.

Sejak kedatangan Hindu, Budha atau Syiwa Budha, dan terakhir Islam, kelanggengan adat nan usali masih tetap asri; “beberapa musim berganti, berapa kali pula masa beralih” (Mid Jamal;1985).

Parole Tambo

Oktavianus dalam bukunya ‘Analisis Wacana Lintas Bahasa’ mengutip pendapat Fromkin tentang bahasa; dalam sejarah peradaban manusia, mitos dan kepercayaan yang dianut oleh kebanyakan masyarakat menyatakan bahwa bahasa adalah sumber kehidupan dan kekuatan”. Kemudian Spradly berpendapat bahwa bahasa dapat membentuk realitas, mengontrol perilaku, merealisasikan tindakkan dan mengubah situasi.

Manusia Minang memang telah bergilir-berubah. Tapi Minang itu sendiri masih konstan untuk menjemput kembali sejarah yang kelam di bawah bayang-bayang kesusasteraan Tambo. Seperti yang dikatakan Ronggowarsito, seorang penyair abad 19, sebagaimana yang dikutip oleh Goenawan Moehammad, bahwa yang kita alami sebenarnya adalah keheningan yang sekaligus kebeningan, kehampaan yang sekaligus berisi.

Apa yang merupakan aposteriori dan apriori sebuah perjalanan panjang (empat milenium) Bumi Minangkabau, harus mencapai titik paling jernih sebuah kebudayaan. Semua benda bereksistensi, karena eksistensi tersirat dalam di dalam definisi benda; suatu benda bukanlah benda kalau ia tidak bereksistensi (Lorens Bagus; 2000). Sedang tambo telah membutikan keberadaannya melalui falsafah, pengaruh yang jelas, dan diri manusia Minangkabau itu sendiri sebagai yang hidup.

Bukti yang paling jelas dari pencapaian sejarah adalah; sejauh ini ambiguitas dalam tambo bukanlah sebuah kenyataan yang tidak mampu diungkapkan, tapi sebuah fakta yang sulit dibahasakan dan diucapkan. Parole itu terasa, tapi seolah tidak dapat disentuh.

Kenapa? Bukan karena keambiguitasan itu memang benar-benar hanya sesuatu yang ambigu, tapi karena belum didapatnya ‘titik paling temu’ terhadap pengkajian tambo. Tambo adalah dogma dramatise yang telah melukiskan bentuk paling murni dari eksistensi mistik Minangkabau. Tambo adalah hal paling imanen sekaligus transenden yang telah menumbuhkan akar-akar kokoh Sejarah Minangkabau. Tambo bukanlah reifikasi tampa referen. Tambo adalah sebuah eksistensi. Hanya saja sejarah masih terbaca kacau.
Benang kusut yang harus diselesaikan. Siapa yang akan melakukan kontinensi?
(jJbrJl; 2008)

http://www.padangekspres.co.id

~ by Is Sikumbang on May 21, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: