Perempuan Minangkabau Dalam Masyarakat Modern Dan Internasional

Oleh : Puti Reno Raudha Thaib

Banyak sudah studi dilakukan dalam usaha mencari sosok, posisi dan peranan perempuan Minangkabau. Bahkan akhir-akhir ini yang sering disebut-sebut dan dibicarakan adalah masalah pemberdayaan (bukan memperdayakan) perempuan. Apalagi bila dikaitkan dengan usaha pemerintah dan masyarakat Sumatera Barat kembali ke nagari, yang berarti bahwa adat budaya Minangkabau akan dikaji ulang untuk diterapkan dalam berbagai kemungkinan kegiatan sosial budaya. Kajian tentang perempuan Minangkabau semakin menggebu lagi karena adanya keinginan dari setiap pemerintah daerah tingkat II mengadakan suatu peraturan daerah tentang sopan santun dan tingkah laku pendukung budaya Minangkabau dalam memberantas berbagai macam bentuk penyakit masyarakat seperti perjudian, perkosaan, dan lainlainnya.
Hal itu berarti pula bahwa kaum perempuan yang sebagian orang mengaggap sebagai biang dari segala kebejatan moral itu akan mendapat kajian lebih dalam lagi dengan porsi dan tujuan tersendiri dan dengan berbagai topik pula.
Terlepas dari setuju atau tidaknya terhadap berbagai hal yang akan dijalankan atau yang sudah berjalan dalam kehidupan perempuan Minangkabau, dari segi positifnya usaha-usaha seperti itu dapat dilihat bahwa; perempuan Minangkabau dari masa ke masa selalu diperhatikan, diteliti, diharapkan dan bahkan dinantikan untuk meraih suatu keinginan, cita-cita atau sekaligus harapan terhadap kehidupan masa depan baik secara individual maupun kaumnya.
Harapan tersebut tidak hanya untuk masa depan masyarakat Minangkabau saja, tetapi lebih daripada itu, masyarakat dunia. Mengkaji perempuan Minangkabau telah dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu kajian yang mungkin lebih menyeluruh walau tidak terlalu mendalam adalah berupa kajiankajian
budaya. Di sini berarti bahwa kajian budaya akan selalu merujuk kepada apa yang ada dan kepada apa yang sudah atau pernah ada dalam masyarakatnya. Apa yang ada itu dikaji melalui karya-karya sastra lama dan baru, kehidupan masyarakat Minangkabau hari ini atau yang baru saja berlalu tetapi tidak
terlalu jauh ke belakang. Dalam suatu kajian budaya, dapat dilakukan secara komparatif, yang berarti mencari bandingan antara apa yang diinginkan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sosial, adat dan budaya orang Minangkabau.
Kajian budaya tentang Minangkabau akan menghadapi berbagai masalah yang satu sama lain mungkin akan dapat saling mendukung tetapi mungkin juga akan saling bertolak belakang. Tidak semua teks di dalam karya-karya sastra atau manuskrip dapat dijadikan rujukan sebagai data dari suatu kehidupan sosial,
dan tidak semua kenyataan sosial pula yang dapat dijadikan pedoman untuk menggeneralisasikan persoalan-persoalan aktifitas budaya. Namun begitu, dari hal-hal yang saling berlawanan itu akan dapat pula ditemukan berbagai hal lain, yang mungkin dapat membantu untuk melihat masalah perempuan Minangkabau khususnya dalam konteks judul di atas.

Minangkabau dalam berbagai aspek kajian
Mengkaji masalah-masalah keMinangkabauan untuk menemukan sosoknya yang jelas, dapat dilakukan dari berbagai sisi, sesuai dengan apa yang ingin dilihat atau ditemukan. Untuk mengetahui keberadaan, posisi dan peranan perempuan Minangkabau, dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan;

1. Perempuan Minangkabau dalam teks karya sastra
Dalam teks karya sastra baik karya sastra lama seperti cerita-cerita kaba, maupun dalam karya-karya sastra yang baru seperti dalam novel, cerita pendek, puisi dan akan dapat ditemukan suatu kenyataan sosial Minangkabau,
sekaligus juga dapat ditemukan bagaimana keberadaan perempuan di dalamnya. Bagi mereka yang bergerak dalam kajian sastra dan teks, kenyataan sosial di dalam kaba merupakan suatu kenyataan yang berposisi sangat kuat, karena kenyataan sosial itu sudah ditulis dan tertulis, tidak hanya di dalam pikiran atau tafsiran orang-orang tertentu saja.
Jika mengikuti jalur ini, melihat perempuan Minangkabau melalui kenyataan sosial yang ada di dalam teks karya sastra lama, maka tampak jelas bahwa peranan perempuan sangat penting dalam pembentukan keluarga matrilinieal.
Kaum perempuan di dalam kaba punya kedudukan yang kuat. Perempuan dapat melakukan apa saja untuk kepentingan marwah keluarganya, seperti pada kaba
Cindua Mato ataupun kaba Sabai Nan Aluih. Dalam kaba Sabai Nan Aluih itu sendiri misalnya, seorang perempuan dapat melakukan pembunuhan untuk membalaskan kematian ayahnya, tetapi di dalam kaba yang sama, juga
ada perempuan yang bersedia mengizinkan suaminya kawin lagi, demi untuk sebuah prestise. Dan banyak contoh lagi.

2. Perempuan Minangkabau dalam sejarah dan tambo
Menemukan Minangkabau dalam sejarah dan tambo, terkadang seperti melihat sebuah benda yang bernama Minangkabau itu dalam dua sisi yang saling bertentangan. Sajarah, yang lebih mengandalkan penafsiran dari suatu
bukti yang ditinggalkan masa lalu, akan berlawanan dengan Tambo yang lebih mengandalkan pada kepercayaan terhadap sesuatu yang ideal dalam
masyarakat Minangkabau. Boleh dikata, sesuatu yang ideal, atau sesuatu yang ingin dicapai manusia Minangkabau ada di dalam tambo. Sedangkan apa yang
pernah terjadi, terdapat di dalam sejarah.
Di dalam tambo ataupun undang-undang adatnya, peranan perempuan tidak disebutkan secara jelas tetapi secara implisit saja. Seakan, tambo dan undang-undang adat tidak membicarakan tentang perempuan sama sekali.
Namun dari sisi lain, tambo harus dilihat dalam dua pendekatan pula, sesuatu yang dapat dibaca (tertulis) dan sesuatu yang dapat diarifi (kepercayaan). Ada sesuatu yang tampak dan sesuatu yang tidak tampak. Sesuatu yang tidak
tampak itu mengenai peranan perempuan, tetapi dia akan jadi jelas bila diarifi. Dapat diarifi, bahwa perempaun Minangkabau di dalam kaumnya adalah pemilik, owner, pelanjut keturunan, walau secara nyata dia tampaknya tidak berfungsi di permukaan. Hal seperti ini dapat dikatakan dengan lebih jelas lagi; perempuan bukanlah seorang aktor yang dapat dilihat beraksi di panggung, tetapi dia adalah sutradara, stage manajer, dan hal-hal penting lainnya di belakang layar. Sedangkan aktoraktornya adalah pada penghulu, ninik mamak, dan kaum
cadiak pandai lainnya. Karenanya orang yang memahami hakekat adat Minangkabau akan mengatakan bahwa kaum perempuan adalah puncak dari segala sesuatu yang ideal dalam masyarakat Minangkabau, tetapi sekaligus dapat pula menjadi biang dari segala keburukan, keruntuhan masyakatnya sendiri.
Di dalam sejarah, peranan perempuan ditulis sebagaimana peranan kaum laki-laki. Ada perempuan yang menjadi raja, tokoh pendidikan, tokoh politik, tokoh agama yang sama sejajar dengan kaum laki-laki. Sejarah tidak memberikan alasan kenapa terjadi kemunculan perempuan demikian, tetapi mencatat bahwa seorang perempuan telah muncul. Oleh karena itu, dengan memahami sejarah saja, maka perempuan dengan laki-laki tidak ada bedanya. Sejarah menjadikan manusia tanpa kelamin, sedangkan kebudayaan memperjelas posisi dan
keberadaan perbedaan jenis itu. Perempuan dan laki-laki di dalam sejarah adalah data-data tanpa kelamin, sedang di dalam tambo jelas sekali perbedaan perempuan dan laki-laki itu, terutama pada posisi dan fungsinya.

3. Perempuan Minangkabau dalam kenyataan sosial
Dalam kenyataan sosial, yang sebenarnya lebih banyak didapatkan keterangannya melalui kajian sosiologi, banyak masalah yang harus disepakati lebih dulu sebelum menetapkan peranan perempuan Minangkabau. Kajian
sosiologi yang pada hakekatnya mengkaji masalahmasalah sosial, gejala, perkembangan dan kenyataan yang ada (walau dengan sampel-sampel terbatas), termasuk juga di dalamnya mengenai peranan perempuan. Hal-hal
yang perlu disepakati itu adalah; batasan-batasan yang jelas tentang Minangkabau itu. Misalnya, yang dikaji itu Minangkabau yang mana? Yang dulu atau yang sekarang? Yang dulu dan yang sekarang itu batasannya bagaimana.
Begitu juga Minangkabau yang dimaksudkan itu Minangkabau yang berada di mana? Minangkabau yang di kampung-kampung, atau Minangkabau yang berada di kota-kota besar atau daerah rantau. Juga harus dijelaskan,
Minangkabau yang dipakai siapa? Datuk-datuk, pengulu, perempuan, atau anak kemenakan? Dari kajian-kajian sosial yang begitu banyak telah dilakukan,
kesimpulan umumnya adalah; bahwa masyarakat Minangkabau sampai sekarang masih menganut sistem matrilineal, dan akan terus mereka pertahankan. Jika kesimpulan itu benar, berarti bahwa peranan perempuan dalam masyarakatnya masih belum akan tercerabut, sebagaimana tercerabutnya kaum perempuan dari kaumnya dalam kehidupan masyarakat modern terutama di kota-kota besar.***

sumber : Unknow

~ by Is Sikumbang on May 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: