SESUATU YANG TERSIRAT DARI “TAPIAN MANDI”

Oleh : Nasbahry Couto, Pengamat Sosial dan Kemasyarakatan

Orang tua kita di jaman lampau, boleh selalu ingat bahwa tiap suku di Minangkabau bataratak, basawah, baladang, bapandam pakuburan dan batapian mandi. Jika di suatu tempat telah memiliki 4 suku, maka sah dia disebut koto atau nagari. Tapian mandi dapat menjelaskan berbagai hal, pertama bahwa air adalah sumber utama bagi kehidupan untuk membersihkan diri, mandi, atau mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga. Tapian mandi yang dimaksud, berada pada aliran sungai (baik yang besar atau kecil) yang mengalir di sisi sebuah kampung atau bisa pula berbentuk sebuah mata air, yang berfungsi sebagai sumber air minum.
Kedua, tapian mandi dapat juga dilihat sebagai tempat pertemuan sosial yang paling awal, selain dari pada lapau. Sebab pada saat tertentu, misalnya pada sore hari, selepas bekerja seharian di ladang atau di sawah, orang berbondong-bondong ke tapian mandi untuk bebersih diri. Pada saat itulah – walaupun tidak seperti duduk di lapau- berbagai informasi dapat disampaikan, misalnya sawah siapa yang akan dikerjakan besok atau lusa, atau di mana kenduri diadakan. Ketiga, tapian mandi juga melambangkan kekebasan manusia di alam, sebab dia tidak terikat dengan sekat-sekat yang membatasi tubuh dan dan sekat-sekat yang dapat menekan jiwa manusia (rumah = tekanan, alam = kebebasan), sebab rumah (minangkabau) adalah tempat beradat-istiadat = rumah adat. Kalau di Barat lain lagi (may house is may home). Rumah itu adalah hak pribadi.
Tapian mandi menurut versi pelukis Wakidi ( Alm), tahun 1965-an
Konon menurut cerita, mandi di tempat seperti itu dapat menyehatkan badan, dan jiwa yang memungkinkan nenek moyang kita berumur panjang. Sebab mandi seperti itu, airnya banyak mengandung mineral alami, secara tidak langsung diserap oleh kulit mereka. Disamping tubuh menerima air alam, kulit mereka juga akan sering menyerap cahaya matahari menyehatkan badan yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Sebab tidak jarang, untuk mencapai tapian mandi, harus berjalan beratus meter dari rumah gadang, atau harus menuruni curang yang dalam, terutama jika tapian mandi itu ada di bawah ngarai yang dalam. Kedekatan dengan alam dan kebebasan jiwa itu, sekaligus dapat memancing rasa kedekatan mereka dengan penciptaNya. Dijamin bahwa, cara orang beragama jaman dahulu berbeda dengan cara orang sekarang.
Banyak yang tidak sadar bahwa perasaan kedekatan dengan penciptaNya itu, tidak semata timbul dari ceramah agama di mesjid, dari kata-kata bujukan, atau ancaman yang berasal dari mulut manusia. Sekarang, tapian mandi, seperti itu hanya tinggal kenangan. Kita boleh memandangi lukisan-lukisan romantis yang menggambarkan orang Minang mandi di tapian atau tentang anak gadis yang membawa parian (tabung bambu tempat air). Atau lukisan yang menggambarkan bagaimana nenek moyang kita berkumpul di sekeliling tungku tigo sajarangan di atas rumah gadang, berdiang atau memanaskan diri, mengusir rasa dingin dan juga nyamuk, sambil membakar ubi atau pisang untuk mengganjal perutnya.
Gambaran-gambaran seperti ini banyak yang tinggal menjadi kenangan bagi orang-orang Minang kelahiran 60-70 tahun yang lalu. Sebaliknya bagi generasi sekarang, cerita tentang kehidupan masa lalu itu, hanya dianggap gambaran romantis dari generasi lampau tentang kebebasan dan kedekatannya dengan alam, seperti sungai, bukit, gunung, hutan, sawah ladang dan sebagainya. Dalam kenyataannya apa yang diterima oleh generasi penerus (terutama yang hidup di kota besar) lebih banyak kegetiran, kesesakan dan mungkin juga berbagai tekanan yang menimpa mereka

Tigo tungku sajarangan “yang asli” di nagari Belimbing, Kab.Tanah Datar

Orang banyak yang sadar bahwa, hidup di jaman moderen yang serba cepat dan di karbit, telah memisahkan manusia dengan alam. Kebanyakan orang sekarang berumur pendek, karena hidup penuh dengan ketegangan dan hal-hal yang menumbuhkan kegusaran. Coba saja naik angkot atau bus kota, begitu naik kita akan diteror oleh musik yang berdentam-dentam dan manusia yang tidak peduli tentang daya tahan telinga untuk menerima bunyi. Banyak contoh lainnya, dimana kita jauh atau tidak selalu peduli dengan unsur alamiah atau lingkungan. Untuk mandi dan urusan air, ada air PAM yang bercampur dengan kaporit atau entah zat apa lagi.
Kebanyakan orang terkurung dengan pekerjaan yang mereka ciptakan sendiri, misalnya duduk berjam-jam di depan komputer atau jenis kerja lainnya yang dapat memisahkan mereka dengan tetangga, dengan saudara atau dengan alam sekitarnya. Demikian juga dengan mereka yang miskin, tinggal di rumah kontrakan atau rumah cicilan dengan satu atau dua kamar saja. Rumah RSS dengan atap seng seperti dalam kaleng, yang sangat panas. Rumah yang sumpek atau yang dapat membakar suhu atau bahkan juga membakar perasaan mereka sendiri dan berkembangnya rasa ketidak pedulian.
Akibat dari itu semua, setiap memasuki kegiatan baru, seperti bulan puasa, atau hari libur panjang kita melihat ada suatu fenomena bahwa sebagian masyarakat kita ingin membebaskan diri dari suasana rutinitas dan ingin merasakan suasana baru dan kembali ke alam, entah ke lubuk, ke mata air, ke pantai atau ke kuburan yang dapat dianggap sebagai suatu pencerahan kembali. Di mana tindakan ini dapat disebut dengan tindakan alam bawah sadar sosial yang didasari oleh kultur setempat.
Dan memang apapun jenis perilaku manusia jika menghadapi atau terlepas dari suatu situasi apakah atas dasar kelahiran, langkah/nasib, perkawinan, rezki dan maut selalu di awali dan diakhiri dengan yang disebut ritus, upacara, atau perayaan, ataupun perubahan yang akan dihadapi- sebagaimana orang timur lainnya – disikapi dengan suatu tindakan yang bermakna spiritual. Mungkin tindakan seperti ini, atas dorongan untuk kembali ke sesuatu yang asli dan alamiah, kebebasan, sekaligus spiritual. Atau bisa juga kepada kebutuhan untuk meresapi unsur alam itu sendiri: air, tanah, udara cahaya matahari , pepohonan atau suara gemercik air dan desir angin di pepohonan.
Tetapi seperti biasanya, suatu tradisi ingin selalu dirobah karena dianggap merusak atau tidak sesuai dengan adat baru. Kalau perubahan adat Minang versi Mursal Esten (1984) adalah “moderenisasi”, perubahan adat yang dimaksud penulis adalah “:reduksi budaya” (pemiskinan budaya). Misalnya tradisi balimau adalah tradisi masa lampau yang masih hidup, namun bagi kebanyakan yang orang disorot adalah aspek negatifnya. Apakah hal ini dapat dicurigai sebagai suatu kecemburuan terhadap kebebasan ? Memang sudah banyak unsur budaya Minangkabau yang hilang atau sengaja dihilangkan oleh orang Minangkabau sendiri, diantara yang hilang itu adalah “kebebasan” berbicara, yang lain adalah kehilangan “sportifitas”, yang dahulunya tercermin dari adaya “adat selingka nagari” dan balai adat.
Adat sportif atau sportifitas, tercermin dengan adanya gelanggang untuk menentukan siapa yang menang atau kalah jika bertengkar, atau “balai batu “untuk adu mulut jika berselisih. Kita mengambil adat baru (dari luar) untuk menjadi pak turut. Misalnya jika seseorang itu berbeda dalam kelompok dianggap tidak benar, sebab yang benar adalah jika mengikuti apa yang benar menurut orang banyak (yang dalam psikologi sosial disebut dengan “group think”), dalam beberapa hal grup think ini juga menunjukkan gelagat faham kekiri-kirian dan fanatisme ( dimana persamaan adalah segala-galanya).
Kita menjadi pak turut karena takut berbeda, takut dianggap tidak beradat (dalam versi baru). Secara alamiah yang dianggap paling cepat berubah adalah anak muda. Oleh karena itu, kalau ada sesuatu yang salah dalam masyarakat, yang paling cepat dituduh keliru adalah anak muda. Penulis adalah saksi hidup, dimana anak muda selalu menjadi kambing hitam dan dikorbankan dalam hal budaya. Misalnya, sejak tahun 65-an, setiap tahunnya selalu ada tekanan dari pihak konservatif terhadap unsur budaya di Indonesia. Misalnya pada tahun 1966 (penulis lagi SMA) setiap anak muda yang celananya sempit ditangkap polisi, tahun 70-an, musik Beatles dilarang, yang berambut gondrong juga ditangkap polisi dan dipotong rambutnya, atau yang memakai sendal diusir dari ruang kuliah.
Seragam anak SD mesti putih-merah, mesti ini dan itu dsb. Pada tahun 90-an sampai sekarang banyak kelompok anak muda yang tawuran, apakah ini bukan karena akibat depresi yang sangat besar terhadap golongan muda? Seperti hilangnya harapan terhadap masa depan dan sebagainya. Sebagai perbandingan bukankah depresi di dalam rapat DPR pusat juga berakibat tawuran ? Apakah korupsi banyak dilakukan oleh anak muda, pasti golongan tua. Barangkali dapat pula diperbandingkan bahwa, negara-negara yang sekarang bergolak umumnya adalah negara yang masih memiliki tema penyeragaman dalam budayanya. Sedangkan negara lain, yang terbebas dari tema ini, mendapat kemajuan yang pesat baik dalam teknologi maupun ekonomi
Depresi Budaya, Konflik Budaya atau Politik Kekuasaan ?
Dalam hal ini, ada suatu kesan bahwa kebudayaan kita (Indonesia) dalam rangka penyeragaman adalah budaya yang konservatif. Misalnya, kalau perlu yang muda di eliminasi dari kampung. Dengan bujukan dan pengarahan :” Karatau madang dihulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, batuah, paguno balun” Mamangan adat ini menyiratkan, bahwa jika masih muda dianggap tidak berdaya, dan kalau perlu diberdayakan di luar nagari. Atau hanya untuk disuruh-suruh. Jadi mungkin ada benarnya gambaran sosial dalam novel Siti Nurbaya yang nampaknya berlangsung sampai sekarang atau masa yang akan datang.
Dan ada benarnya pula jika anak-anak muda yang pintar kemudian merasa lebih nyaman di negeri orang dari pada pulang kampung, justru kejadian ini tak dialami Bung Hatta (tentu saja karena dia berkiprah di Jawa selepas sekolah di Belanda), coba kalau beliau lahir di jaman sekarang, bisa jadi lain. Hal ini berbeda dengan pandangan orang Barat, selagi muda raihlah dunia dengan bebas, kalau perlu dibuat persekongkolan politik, dimana ujung tombaknya anak muda. Maka jangan heran jika Jan Pieterszoon Coen, jadi Gubernur Hindia Belanda di usia 27 tahun (1617) di Batavia, itu karena kepercayaan terhadap kaum muda. Atau John, F. Kennedy, yang jadi presiden AS di usia, 43 tahun. Dan perlu pula dicatat bahwa yang mendirikan Amerika adalah para koboy, orang muda dan tak beradat (meninggalkan adat asalnya di Eropah), meninggalkan tata-cara kakek-neneknya yang konservatif di Eropah.
Penulis pernah menonton, sebuah Video komedi Barat ” Dennis the Menace, Strikes Again, (Produksi Warner Bross) yang mempertontonkan para kakek dan nenek dipermainkan oleh anak usia 5 tahun dengan segala kekonyolannya. Filem atau video ini mungkin tak kena dengan watak bangsa kita, masa orang tua dipermainkan, dosa dong. Filem berdurasi dua jam ini mungkin hanya dapat dimengerti oleh orang yang memahami budaya Barat, bahwa jika sudah tua (di Barat) diharapkan minggir dari panggung dunia ini, jadi jika sudah kakek nenek, sah saja jadi bahan olokan anak kecil, walau bergelar DR, profesor sekalipun pun, sebab syarat untuk membangun dunia ini, adalah orang yang punya energi dan dinamis, yang diharapkan untuk memeroleh inovasi, pembaruan dan pengetahuan dengan jiwa yang bebas dan kreatif, bukan menjadi kaum puritan, kolot dan cerewet.
Pandangan semacam ini, telah mengakar sejak Jaman Yunani dan Romawi kuno di belahan budaya Barat. Ada yang mengatakan negeri kita (Indonesia) adalah negeri kaum tua, bukan negeri orang muda. Jika Pilkada ( Pemilihan Kepala Daerah) sekarang ini, kebanyakan diikuti orang muda, itu pertanda dunia akan kiamat, atau sebaliknya dipandang dengan sebelah mata. Pandangan seperti ini sudah mendapat penguatan pula dengan munculnya ‘komedi’ iklan di negeri kita dengan tajuk “yang muda, dan yang tidak dipercaya.” (***)
http://www.padangekspres.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2328&Itemid=80

~ by Is Sikumbang on May 25, 2008.

One Response to “SESUATU YANG TERSIRAT DARI “TAPIAN MANDI””

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!http://www.infogue.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: