C O G A

Oleh : Yusrizal KW
Kalau bertemu dengan kawan lama, dia menyalami kita sembari berkata: “Makin coga saja kawan sekarang nampaknya”, berarti ia mengutarakan hal yang positif maknanya. Coga dalam bahasa Minang, sama artinya dengan gagah, sejahtera, banyak rezeki. Secara sosial statusnya dinilai di atas oleh masyarakat lingkungannya. Atau tampak lebih baik dari sebelumnya maupun orang kebanyakan.
Kalau kawan kita itu mengatakan “makin coga” saja, bisa saja, dia mengatakan kita makin ganteng, makin kaya, kian sejahtera dari waktu sebelumnya yang dia ketahui. Atau, “makin coga” saja, bisa merupakan sapaan basa-basi, sebagai pintu masuk untuk membangun keakraban. Tetapi, kata coga”, jelas, memiliki makna puji, dan orang merasa senang kalau dirinya dikatakan “coga”. Coga diutarakan untuk kita, maknanya tentu dilihat dari konteksnya.
Kalau kita misalnya tidak sedang “lebih” untuk banyak hal, biasa-biasa saja, bisa jadi kata “coga” sebagai penghangat pertemuan, bumbu keakraban, yang jawabannya pun bisa sambil tertawa mengembalikan puji padanya, “Hahaha…., cogalah situ lagi…..”
Kalau kita pergi merantau, dari rantau bisa menolong sanak keluarga karena mendapat (sukses) di rantau, orang di kampung berkata, “Sudah coga dia sekarang. Terbantu keluarganya, terkualiahkan adik-adiknya….” Kalau dibikinkan ibunya rumah oleh anak yang di rantau ini, orang akan berkata, “Sudah coga pula rumahnya sekarang.”
Kata coga untuk si anak, artinya sukses. Kata coga untuk rumah artinya bagus. Jadi, coga bisa menemukan arti-arti lain berdasarkan konteks, sesuai beban yang dipikulnya. Barangkali di sinilah kekuatan kata dalam bahasa Minangkabau. Kata coga ini saja contohnya. Ia pun memiliki kekuatan motivasi ketika dikenakan kepada diri seseorang. Orang yang disebutkan kepadanya “coga’, bisa saja tersipu, tersenyum bahagia, atau makin merasakan dirinya bagian dari diri kita. Dan, bisa juga, terjebak menjadi lupa diri karena begitu seringnya tersanjung dengan kata “coga’. Bahkan, saking merasa coga, tak jarang orang menjadi sombong.
Coga, ketika secara tak sadar merupakan status sosial tertentu, kata itu menjadi milik kalangan orang yang “berpagar”, hanya kalangan tertentu saja yang bisa masuk ke lingkungannya. Kalau tak coga pula kawan atau orang lain, ia tak mau bersahabat atau berkelompok. Di sini, kata coga mengalami pencederaan hakikat, karena ia menjadi benih kesombongan. Padahal, hakikat coga, dari banyak sisi, terlihat lebih baik dalam artian yang sangat positif. Setidaknya begitu menurut penulis rasakata ini.
Coga bisa pula kita maknai sebagai citra diri. Seseorang, dituntut untuk lebih coga senantiasa, memiliki kemampuan atau potensi yang senantiasa mencerahkan dirinya dan lingkungan. Pribadi yang coga, memiliki kecerdasan emosional, empati yang memikat serta pesona spiritual yang mengilhami, alangkah indahnya menjadi lebih baik, menjadi lebih coga dalam hidup.
Kata coga, kata yang bisa pula kita tafsir, sebagai kata yang membutuhkan gerakan jiwa, dimana kebutuhan manusiawi yang rasional bagi manusia yang berakal, adalah ingin terlihat menarik, penting dan bermartabat di mata orang lain. Kalau dia berhubungan dengan fisik, yah terlihat cantik atau enak dipandang. Kalau berhubungan dengan pangkat, ia diraih karena potensi dan prestasi. Kalau dilihat dari harta dan kekayaan, ia bukan dari hasil korupsi. Kalau dia punya anak, anak-anaknya terdidik dengan baik, senantiasa dipandang orang, bahwa kecogaan adalah sesuatu yang melejitkan nilai-nilai menjadi lebih bermakna.
Coga, kata itu menyiratkan, kesejahteraan. Menyiratkan kebermaknaan, bahwa untuk meraih hidup, spirit coga perlu juga dipahami sebagai penegasan dari upaya-upaya maksimal. Penguatan dari apa yang dikatakan, hasil dari sebuah proses yang baik melahirkan kekuatan, kekuatan itu bisa merupakan “coga”.
Coga adalah, ketika pada hari ini, kita merasa biasa-biasa saja mendengar kabar BBM naik, karena pemerintah telah berhasil menyejahterakan rakyatnya, menekan habis-habisan angka kemiskinan. Tetapi, ketika dalam kehidupan yang serba sulit, BBM naik, bahan pokok lainnya naik, manusiawi ketika misalnya, rakyat dalam bahasa yang lain, mengatakan: kita perlu pemerintah yang memiliki kebijakan coga.***
http://www.padangekspres.co.id/content/view/6990/59/

~ by Is Sikumbang on May 26, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: