Pundi-pundi Naskah Minangkabau

Oleh: Zuriati
Penyebutan terhadap ‘naskah Minangkabau’, terutama merujuk pada naskah yang ditulis dan atau disalin di Minangkabau (Sumatra Barat, minus Mentawai). Naskah-naskah itu ditulis dan atau disalin dengan menggunakan aksara Arab-Melayu dan bahasa Melayu Minangkabau. Naskah yang ditulis dan atau disalin dalam aksara Arab-Melayu dan bahasa Minangkabau tidak banyak ditemukan. Selain itu, naskah-naskah Minangkabau juga disalin dan atau ditulis dalam aksara Arab dan bahasa Arab.

Aksara Arab-Melayu dan bahasa Minangkabau yang digunakan itu dapat dilihat pada naskah yang mengandung teks nonkeagamaan, seperti undang-undang (Minangkabau), kaba, hikayat, syair, silsilah, dan surat pagang gadai. Meskipun begitu, tafsir al-Quran sebagai salah satu teks keagamaan juga ada yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu dan bahasa Melayu-Minangkabau.

Sementara itu, naskah yang ditulis dengan aksara Arab-Melayu dan bahasa Minangkabau sangat sedikit jumlahnya. Dari 21 naskah Undang-Undang Minangkabau, misalnya, hanya 1 naskah yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu dan bahasa Minangkabau. Pada pihak lain, aksara Arab dan bahasa Arab terdapat dalam naskah-naskah yang mengandung teks-teks keagamaan (Islam), seperti al-Quran, kitab fiqih, tata bahasa Arab (nahu, syaraf), kitab tarekat, dan azimat.

Kenyataan bahwa naskah-naskah Minangkabau ditulis dan atau disalin dalam aksara Arab-Melayu dan bahasa Melayu-Minangkabau dapat menunjukkan, bahwa (1) masyarakat Minangkabau tidak memiliki aksara daerah dan (2) bahasa tulis masyarakat Minangkabau adalah bahasa Melayu. Hal itu berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia yang mempunyai aksara daerah. Sebagian besar naskahnya ditulis dan atau disalin dalam aksara dan bahasa daerah masing-masing, seperti Batak, Lampung, Jawa, Bali, Aceh, Ambon, Banjarmasin, Lombok, dan Ternate.

Selain di Minangkabau (Sumatra Barat, minus Mentawai), sebagian besar naskah itu terdapat dan disimpan di luar Sumatra Barat, dalam dan luar negeri. Zuriati (2003) menyebutkan, bahwa di luar Minangkabau, naskah-naskah itu terdapat dan disimpan di Belanda, Inggris, Jerman Barat, Malaysia, dan Jakarta. Kecuali di Jakarta, sekitar 371 naskah tersimpan di empat negara tersebut di atas.

Di Belanda, naskah-naskah Minangkabau itu tersimpan di Leiden, yakni di Perpustakaan Universitas Leiden dan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Di Inggris, naskah-naskah itu tersimpan di John Rylands University Library Manchester (RUL), di Royal Asiatic Society (RAS), dan di School of Oriental and African Studies (SOAS). Di Jerman, naskah-naskah itu tersimpan di Staatsbibliothek Preussischer Kulturbesitz, Berlin. Di Malaysia, ia tersimpan di Perpustakaan Negara Malaysia, Kuala Lumpur. Di samping itu, Chambert-Loir dan Oman Fathurahman (1999) juga mencatat Australia sebagai tempat penyimpanan naskah Minangkabau, tepatnya di Australian National University. Akan tetapi, naskah yang disimpan di sana hanya berupa satu set microfiche dari 15 naskah koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. Sementara, di Jakarta, naskah-naskah Minangkabau itu tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).

Di Sumatra Barat, naskah-naskah itu disimpan di beberapa lembaga formal, lembaga nonformal, dan masyarakat (perorangan dan kelompok). Museum Daerah Provinsi Sumatra Barat, Adityawarman, sebagai lembaga formal, menyimpan sekitar 60 naskah. Berbagai koleksi naskah yang terdapat di museum itu dapat dilihat dalam katalog naskah yang sangat sederhana, yang disusun oleh Museum bekerja sama dengan Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang. Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau, Padang Panjang, juga menyimpan beberapa naskah. Akan tetapi, naskah-naskah tersebut merupakan kopian dari naskah-naskah koleksi PNRI, Jakarta. Di samping itu, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang, juga menyimpan sekitar 25 naskah; dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional, Padang, juga menyimpan beberapa naskah.

Surau yang dapat disebut sebagai satu lembaga nonformal (di Minangkabau) merupakan tempat yang paling banyak menyimpan naskah yang sangat berharga itu. Hampir di setiap surau di Minangkabau ini, terutama surau yang menjadi pusat pendidikan agama (tarekat) memiliki dan menyimpan naskah, seperti Surau Paseban, Koto Tangah, Padang; Surau Batang Kabung, Koto Tangah, Padang; Surau Parak Pisang, Sumani, Solok; Surau Tandikek dan Ampalu, Padang Pariaman; dan Surau Batu Ampa dan Taram, Payakumbuh.

Naskah-naskah yang masih disimpan oleh masyarakat, baik dari kelompok keluarga umum, maupun dari kelompok keluarga ‘kerajaan’, disimpan oleh pewarisnya dan dapat ditemukan, misalnya di Palembayan, Matur, Pariaman, Payakumbuh, Solok, dan Kabupaten Agam. Begitu juga, keluarga kerajaan, seperti Keluarga Raja Istana Pagaruyung di Batusangkar, Keluarga Raja ‘Istana’ Mandeh Rubiah di Lunang, Pesisir Selatan, Keluarga Raja Kerajaan Inderapura juga di Pesisir Selatan, dan Keluarga Raja Kerajaan Balun di Sungai Pagu, Solok Selatan, tercatat sebagai pewaris yang masih menyimpan berbagai naskah di rumah keluarga masing-masing.

Keberadaan naskah-naskah Minangkabau di luar tempat asalnya itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penjajahan dan perdagangan naskah. Naskah-naskah itu terdapat dan tersimpan di berbagai museum dan perpustakaan, yang perawatannya terjaga dan terjamin. Meskipun, keberadaannya itu menimbulkan rasa sedih, rasa prihatin, dan rasa takmenerima pada sebagian orang, masyarakat Minangkabau juga harus bersyukur, karena naskah-naskah itu ‘aman’ di sana. Perawatan yang seharusnya diterima oleh sebuah naskah yang, umumnya, berumur lebih dari seratus tahun itu diperolehnya di sana, seperti ruangan ber-AC dan pengatur kelembaban udara serta bahan-bahan kimia tertentu untuk melindunginya dari rayap.

Pada pihak lain, naskah-naskah yang terdapat di Sumatra Barat, baik yang ada pada koleksi lembaga formal, lembaga nonformal, dan masyarakat tersebut, berada dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Umumnya, naskah-naskah itu disimpan dengan cara ditumpuk pada satu ruangan yang, tentu saja, tidak ber-AC dan tanpa perawatan khusus. Naskah-naskah itu ditumpuk begitu saja, sambil menunggu lapuk dimakan usia. Tentu saja, dalam waktu yang tidak lama lagi, bersamaan dengan umurnya yang sangat lanjut, naskah-naskah itu akan segera lapuk, cerai-berai, dan punah. Sungguh, saya tidak dapat membayangkan, jika naskah-naskah itu tidak ‘ditangani’ segera, satu hingga dua tahun ke depan (paling lama), semuanya akan hancur. Bersamaan dengan itu, kandungan yang ada di dalamnya juga akan hilang, tanpa dapat diketahui isinya. Padahal, naskah-naskah yang mengandung berbagai teks itu merupakan bukti (sejarah) intelektual masyarakat Minangkabau. Akankah pemerintah Sumatra Barat dan masyarakat Minangkabau akan menunggu dan membiarkan hal itu terjadi? Saya kira tidak. Semoga.

(Zuriati, Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang)

sumber : http://www.padangmedia.com/v2/index.php?mod=artikel&j=4&id=43

~ by Is Sikumbang on June 23, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: