Arti Cantik dan Penampilan Diri dalam Peran Bernagari

oleh: Raudha Thaib

1. Tentang judul artikel
Kata cantik, penampilan diri dan bernagari masing-masing mempunyai makna dan pengertian yang berbeda, yang satu sama lain tidak ada kaitannya. Cantik menyangkut kepada bentuk atau rupa seseorang yang khusus ditujukan pada perempuan terutama yang muda. Perempuan tua walau cantik sekalipun tidak termasuk cantik lagi. Penampilan diri menyangkut kepada sikap dan perilaku seseorang baik laki-laki maupun perempuan ketika berada di antara orang banyak. Bernagari menyangkut kepada sesuatu yang ingin dicapai secara bersama-sama untuk mendapatkan ketenteraman dan kesejehteraan sosial menurut ukuran Minangkabau.

Kalaupun mau dicarikan juga kaitannya antara kata cantik, penampilan diri dan bernagari, ibaratnya sama dengan mengisi sebuah teka-teki silang. Memulai dari sesuatu yang tidak punya kaitan sama sekali antara yang satu dengan lain, namun dia menjadi sebuah rangkaian dalam bentuk tetapi bukan rangkaian makna.

Oleh karena itu, judul makalah yang diberikan oleh penyelenggara; Arti Cantik, Penampilan Diri Dalam Peran Bernagari dapatlah dikatakan unik, kalaupun tidak mau dikatakan sebagai sesuatu yang kabur. Keunikannya adalah; bagaimana mencarikan rangkaian antara masing-masingnya kata itu. Jadi, kalau pembicaraan ini terasa terpisah-pisah, kemudian terasa pula seakan-akan dicari-carikan hubungan satu sama lainnya, itu disebabkan karena keunikan judul, bukan karena kehebatan pemakalahnya.

2. Tentang kecantikan
Dalam kosa kata Minangkabau tidak ada kata cantik. Karena tidak ada kosa kata demikian, secara hukum kebahasaan ataupun mengikut pada sosio-linguistik dapat dikatakan bahwa orang Minang tidak kenal dengan cantik, atau tidak mempermasalahkan benar akan hal kecantikan itu jika dibandingkan dengan masyarakat Jawa, misalnya. Di dalam masyarkat Jawa, ada pakem atau bakuan untuk seseorang dapat dikatakan cantik. Yang ada kata cantiak, atau contiak, yang artinya jauh berbeda dengan kata cantik yang dimaksudkan dalam bahasa Indonesia. Juga ada kata rancak, yang hampir mirip artinya dengan cantik. Tapi dalam kalimat mati karancak an, arti kata rancak menjadi lain pula.

Di dalam pepatah-petitih, maupun mamangan adat Minang, tidak ada disebut kata cantik, atau sebuah kata lain yang bermakna cantik. Kalaulah kata cantik dapat dipadankan dengan kata rancak, maka ungkapan yang ada dalam mamangannya adalah; condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak atau tampak rancak musajik urang, buruak tampaknyo surau awak. Yang ingin saya katakan dalam hal ini adalah; jika merujuk kepada aspek kebahasaan; mamangan atau pepatah petitih adatnya, kecantikan bagi orang Minang bukan sesuatu yang dipermasalahkan, bukan sesuatu yang penting benar, bukan sesuatu yang menentukan apalagi peranannya dalam terbentuk suatu nagari.

Kecantikan, jelas ditujukan kepada kaum wanita. Ukurannya subjektif sekali. Ukuran kecantikan juga mengikuti selera zaman, bangsa atau kaum tertentu. Ketika Leonardo da Vinci hidup, kecantikan itu dilukisnya seperti Monalisa. Jika diukur menurut ukuran kecantikan sekarang, kecantikan Monalisa itu sangat tidak cantik lagi. Begitu juga kecantikan menurut ukuran masyarakat Indonesia masa dulu dan sekarang jauh berbeda. Dulu, di Indonesia yang dikatakan cantik adalah seseorang yang berwajah Indo, keBelanda-belandaan, sekarang yang berwajah keIndia-indiaan atau keMeksiko-Meksioan. Perempuan yang kakinya kecil dikatakan cantik pagi masyarakat Cina tempo dulu. Leher yang panjang dikatakan cantik bagi perempuan Negro pada zaman dulu. Tumit perempuan yang memerah bila menginjakkan kaki dikatakan cantik bagi orang Mesir abad pertengahan.

Oleh karena itu, kecantikan tidak punya ukuran baku, nilai akhir, karena semuanya itu bersifat sangat personal. Mungkin karena sifatnya yang temporer itu, maka adat Minangkabau tidak membuat bakuan tentang sesuatu yang disebut cantik. Jadi, kalau muncul pertanyaan, apa peranan kecantikan dalam bernagari, maka pertanyaan itu terasa lucu dan mengada-ada.

3. Tentang Penampilan Diri
Penampilan diri, atau keberadaan seseorang di tengah-tengah orang lain adalah sesuatu yang selalu diperkatakan. Penampilan yang tidak sempurna akan dapat merusak citra seseorang. Terutama bagi ibu-ibu atau wanita-wanita yang akan melakukan aktivitas luar rumah. Untuk kesempurnaan penampilan diri, berbagai cara dilakukan. Mulai dari nama, jenis aktifitas yang dilakukan, posisi, sampai kepada pakaian. Nama misalnya, seseorang memerlukan legimitasi berupa nama, pangkat dan gelar suami, gelar kesarjanaannya yang telah diraihnya sendiri, gelar hajjah dan lainnya, agar dirinya terasa “berpenampilan” di antara yang lain. Jenis aktivitas juga menentukan; menghadiri acara di istana, bersama menteri atau presiden, gubernur, bupati, camat atau wali nagari. Begitu pula penampilannya sebagai guru, tokoh politik, akademisi, istri orang berpangkat tinggi dan sebagainya. Penampilan diri umumnya dipahamkan demikian. Semua itu tidak ada salahnya, tetapi jelas bahwa semua itu tidak ada kaitannya dengan kecantikan, apalagi dengan usaha untuk bernagari.

Penampilan diri diperlukan oleh setiap orang yang akan menampilkan diri, di manapun, dan dalam konteks apapun juga. Di dalam adat Minang, masalah penampilan diri bagi perempuan tidak pula pernah dijadikan suatu mamangan atau pepatah petitih. Sebab, perempuan tak dilazimkan untuk menampilkan dirinya dalam acara-acara yang umum sifatnya. Penampilan diri bagi perempuan terbatas pada acara-acara tertentu saja. Jadi, kalau dicarikan rujukannya, penampilan diri yang bagaimana yang sesuai dengan adat Minangkabau, maka rujukan itu harus disusun dulu, dicari-carikan alasan dulu.

Kalaupun ada yang mengatakan bahwa penampilan perempuan Minang itu seperti mamangan; unduang-unduang ka sarugo, atau acang-acang dalam nagari atau langkahnyo bak siganjua lalai, pado pai suruik nan labiah dan sebagainya, itu merupakan ungkapan simbolik dari tukang kaba, bukan sebuah patron atau bakuan dalam adat.

Namun sekarang, peranan perempuan sudah jauh berubah. Mereka sudah dapat menjadi tokoh masyarakat, yang harus tampil dengan penampilan yang baik. Penampilan yang baik itulah mungkin, yang perlu dipermasalahkan. Jadi, suatu penampilan yang baik bagi seorang perempuan, tentulah memenuhi kaidah-kaidah kesusilaan, kepantasan dan keindahan. Pakaian seorang artis penyanyi pop yang melakukan show-biz, tentulah tidak layak ditiru oleh seorang perempuan yang akan memberikan ceramah adat misalnya. Atau pakaian adat yang resmi, tentulah tidak sesuai pula bila digunakan untuk berjoget ria dalam acara-acara syukuran kenaikan pangkat suami atau acara perpisahan jabatannya.

4. Tentang Bernagari
Masalah bernagari, ini persoalan lain lagi. Tidak ada kaitannya dengan kecantikan atau penampilan diri. Dalam masalah bernagari, sampai saat ini tokoh-tokoh adat dan pemerintahan masih mencari-cari rujukan, nagari seperti apa yang sesuai untuk diterapkan. Ada tatanan nagari sebelum diekspansi oleh penjajahan Belanda, ada tatanan nagari yang sudah diubah-ubah oleh pemerintah orde baru, ada tatanan nagari yang berada pada setiap kepala para penghulu, ada tatanan nagari yang disusun berdasarkan kepentingan-kepentingan politik praktis.

Di dalam pembentukan dan penyempurnaan sebuah nagari yang sedang bergalau itu, masalah cantik dan penampilan diri seorang perempuan justru dapat merepotkan. Sebuah kisah konyol pernah terjadi. Seorang wali negeri ingin mencari seorang istri. Dengan alasan untuk memajukan nagari lalu diadakan pemilihan ratu kecantikan. Ternyata kemudian, wanita yang terpilih sebagai yang tercantik itu diambil si wali negeri untuk istrinya. Ini buka sebuah anekdote. Yang tersirat disebalik kekonyolan ini adalah; masalah kecantikan atau penampilan diri dari seorang perempuan, masih dianggap sebagai sesuatu yang mempunyai nilai sensual di mata laki-laki. Masih tetap dianggap sebagai komoditi.

5. Hal-hal yang ideal
Sungguhpun masalah cantik dan penampilan diri masih dilihat dalam kerangka kepentingan laki-laki, namun bagi kaum perempuan yang tidak cantik tidak perlu pula berkecil hati. Kecantikan fisik takkan bertahan lama. Laki-laki tak selamanya pula tertarik dengan kecantikan. Ada hal-hal ideal yang perlu dipahami oleh seluruh kaum wanita. Bahwa, kecantikan atau cantik itu tidak hanya terletak pada permukaan, pada bentuk fisik, tetapi lebih utama terletak pada kedalaman, pada jiwa atau pribadi. Seorang perempuan bagaimanapun cantiknya tetapi tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat lingkungannya, tidak dapat mengimplementasikan kecantikannya dengan baik, cantik fisiknya akan tertimbun oleh ketidakcantikan dalam hubungan sosial. Di zaman serba modern ini, kecantikan fisik dapat ditambah kurangi dengan berbagai obat dan operasi plastik, tetapi kecantikan pribadi, tidak dapat ditambah kurangi dengan pembedahan jenis apapun, kecuali oleh pribadi dari individu itu sendiri. Kecantikan fisikal jika tidak disertai oleh pribadi yang terpuji, kecantikan itu akan menjadi kerabang saja, sama seperti orang memakai topeng.

Begitu juga dengan penampilan diri. Penampilan diri seseorang, dalam hal ini perempuan, tidak terletak pada embel-embel yang disandang; nama suami, gelar akademik atau hajjah, merek-merek baju, tas atau perhiasan, tetapi sebuah penampilan diri akan kukuh bila didukung keyakinan akan kepercayaan pada kemampuan diri sendiri. Kecantikan hanya menjadi faktor kesekian saja dalam sebuah penampilan. Penyanyi-penyanyi negro yang hitam, berbibir tebal, rambut keriting cacing tetapi berpenampilan kukuh, lebih memukau bila dibanding dengan penyanyi yang hanya mengandalkan wajah yang cantik, tanpa ekspresi, tanpa jiwa. Penampilan diri datangnya dari dalam, dari pribadi diri seseorang. Wibawa, kharisma, ditentukan oleh keyakinan dirinya terhadap kemampuannya, bukan oleh faktor-faktor luar lainnya.

Tokoh yang berpenampilan demikian sangat diperlukan dalam segala bentuk aktivitas sosial, termasuklah di dalamnya dalam bernagari. Jika ada seorang tokoh perempuan yang cantik dan berpenampilan diri yang baik, kemudian dapat mengikuti kegiatan sosial dengan wajar, tentulah tokoh itu akan menjadi idola, menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya. Sebaliknya pula, banyaknya perempuan cantik yang berpenampilan baik seperti itu, belum dapat dijadikan ukuran bahwa masyarakat itu akan dapat bernagari dengan baik. Perlu kajian lanjutan untuk itu.

Kaitan antara kecantikan, penampilan diri dan peranannya dalam bernagari sama halnya dengan kaitan membesarnya tumbuang baruak di Piaman dengan membesarnya bulan di langit malam. Siapa sebenarnya mempengaruhi? Tumbuang baruak kah yang mempengaruhi besarnya bulan atau sebaliknya.

Raudha Thaib, adalah Budayawan dan Ketua I Bundo Kanduang Sumatera Barat, serta Anggota Dewan Pakar Gebu Minang

Sumber : http://www.padangmedia.com/v2/?mod=artikel&j=2&id=54

~ by Is Sikumbang on July 13, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: