Mencermati Seni Tradisi Bernafaskan Islam di Minangkabau

Oleh Ediwar Chaniago / Singgalang
MASYARAkat Minangkabau dikenal sebagai penganut sistem kekerabatan yang berbentuk matrilineal (garis keturunan berasal dari pihak ibu) yang hidup secara bersuku-suku dan Islam sebagai agama mayoritasnya. Sistem kekerabatan inilah yang dianggap sebagai salah satu unsur yang memberi identitas kuat terhadap kebudayaan Minangkabau. Adat bagi orang Minangkabau dipandang sebagai suatu kebudayaan yang utuh dan juga sesuatu yang dapat berubah, di dalamnya meliputi cara-cara hidup, tata tertib, kesenian dan filsafat.Pada kebudayaan Minangkabau cukup banyak jenis kesenian yang berkembang, dan tersebar di nagari-nagari. Diantara sekian banyak kesenian yang hidup dan berkembang adalah, seni bernafaskan Islam etnik Minangkabau. Eksistensi kesenian bernafaskan Islam pada masyarakat Minangkabau merupakan salah satu unsur penting untuk kesempurnaan adat. Oleh karena itu, kesenian harus dikembangkan secara piawai dan berkelanjutan oleh masyarakatnya.

Dilihat dari segi sejarah, seni bernafaskan Islam pada awalnya berkembang di surau-surau, yaitu berfungsi sebagai media dakwah dalam pengembangan agama dan ajaran Islam oleh ulama-ulama kepada murid-murid di surau. Kesenian gaya surau yang cukup populer misalnya, salawat dulang, dikie rabano, albarzanji, indang dan sebagainya. Kesenian ini berawal dari lingkungan murid-murid surau dalam mempelajari agama Islam. Lewat kesenian itulah dipantulkan pula ajaran Islam, seperti puji-pujian kepada Allah, sanjungan kepada Nabi dan riwayatnya, sanjungan pada Alquran dan sebagainya.

Peranan kesenian Islam dengan nilai-nilai estetika yang tinggi telah mampu menembus celah pengembangan Islam di Minangkabau. Kesenian surau pengaruh budaya Islam beradaptasi dengan seni yang sudah berkembang terlebih dahulu di Minangkabau. Peristiwa akulturasi menjadi ciri khas seni Islam Minangkabau. Artinya, spirit estetika seni pertunjukan yang berkembang pada masyarakat etnis Melayu Minangkabau merupakan perpaduan dari berbagai estetika seni budaya yang datang dengan estetika yang sudah berkembang sebelumnya.

Kemudian menjadi karakteristik dan membentuk jatidiri seni bernafaskan Islam etnis Melayu Minangkabau. Contoh jelas kebudayaan lain yang mempengaruhi estetika seni nuansa Islam etnis Melayu Minangkabau antara lain Persia, Gujarat, Arab, Aceh, India, Barat, dan budaya populer..

Seni pertunjukan yang mendapat pengaruh besar dari kebudayaan Islam itu memiliki ciri-ciri yang cukup berbeda dengan kesenian yang hidup dan berkembang sebelum berkembangnya Islam di daerah ini. Syair-syair yang dinyanyikan selalu menonjolkan warna Islam dengan jelas. Bila tidak menceritakan riwayat Nabi Muhammad, mungkin menceritakan seluk beluk agama. Contoh jenis kesenian ini amat terlihat pada salwat dulang, indang, dikia rebana, dan bazanji. Jenis kesenian Islam yang memerlukan tari, maka kecndrungan geraknya dalam posisi duduk bersyaf sambil memukul-mukul rebana (kesenian indang, dikie rebana).

Merujuk kepada pendapat para sejarawan, kehadiran agama Islam dan kebudayaannya di daerah ini adalah untuk menyempurnakan adat dan kebudayaan yang sudah tersusun sebelumnya. Sebelum ajaran Islam berkembang baik dan belum menjadi satu-satunya agama orang Minangkabau, masyarakatnya belum lagi menfatwakan apa yang akan dibawa ke akhirat di kala akan mati. Akan tetapi, adat merupakan sesuatu pandangan hidup mengenai pergaulan di atas dunia saja. Sedangkan ajaran Islam dan kebudayannya membentuk hubungan antara sesama manusia dengan Maha Pencipta (Allah) menuju ke akhirat (Nasroen, 1957). Penyeruan umat ke arah penyempurnaan pola hidup di dunia dan menuju akhirat itu akhirnya falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendikan pada agama, dan agama benrsendi pada kitab Allah).

Hakikatnya, selama suku Minangkabau menganut syarak, berarti adat mereka itu selamanya langgeng dan lestari. Dalam syarak terkandung dua unsur pokok, yaitu aqidah dan syari‘ah Islam. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan adat dan syarak akan saling berjalan secara sinkron, sehingga dalam pelaksanaannya tercurai pepatah syarak mengato, adat memakai (agama mengatakan, adat memakai ); dan kukuhnya adat itu terletak dalam keputusan, bahwa adaik nan kawi, syarak nan lazim ( adat yang kawi, agama yang lazim ) disertai lagi dengan adaik babenteng syarak, syarak babenteng adat, sanda menyanda kaduonyo (adat berbenteng agama, agama berbenteng adat, sandar menyandar keduanya ) (Idrus Hakimi, 1993 ).

Berdasarkan pandangan di atas, sudah barang tentu kesenian bernafaskan Islam yang melekat dalam kegiatan kehidupan orang Minangkabau itu diwarnai oleh pandangan hidup tersebut. Kehidupan seni tidak bisa dipisahkan dari segi-segi kehidupan yang lainnya. Seni bernafaskan Islam pada masyarakat Minangkabau berusaha memperhalus rasa dan pikiran, karena itu setiap kegiatan syarak maupun adat hendaknya disegarkan oleh kegiatan seni yang islami.

Mencermati spirit estetika seni pertunjukan nuansa Islam etnis Melayu Minangkabau, seharusnya mampu memaparkan ajaran Islam sesuai menurut etika dan estetika Islam. Segala daya upaya seniman di dalam mencipta ‘keindahan’ hendaknya selalu berlandaskan kepada moral Islam, yaitu nilai-nilai baik dan buruk menurut etika dan estetika Islam. Oleh akrena itu, peranan kesenian ini bukanlah sebagai satu kebutuhan hiburan saja, lebih dari itu mengajak umat kepada kebaikan, dan menghindarkan diri dari kemudharatan.

Kesenian nuansa Islam yang semula sangat kental dengan misi ajaran keagamaan, namun lama kelamaan mengalami perkembangan dengan mamasukkan fenomena budaya zamannya, baik masalah-masalah yang disampaikan, maupun lagu-lagu. Dalam perkembangannya, masih ada kesenian bernuansa islam yang menjaga keseimbangan antara misi dakwah islamiah dan hiburan seperti Dikia Rabano, dan salawat dulang. Namun ada pula yang sudah berubah menjadi seni pertunjukan hiburan, tidak lagi mengutamakan atau menseimbangkan antara penyampaian masalah keagamaan dengan hiburan. Jenis kesenian ini lebih terlihat pada kesenian Indang.

Harapan kita semua, walaupun berbagai perubahan atau pengembangan kesenian bernafaskan Islam di Minangkabau tidak dapat dihindarkan pada era globalisasi ini, namun masalah etika dan estetika adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah seharusnya tetap menjadi indikator perubahan itu.

Penulis adalah dosen STSI Padangpanjang,

Pengamat dan peneliti seni budaya Minangkabau

~ by Is Sikumbang on August 9, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: