Rasa Kata: PUDUA

Oleh : Yusrizal KW/Padang Ekspres
Orang Minang ada yang menyebut padam dengan “pudua”. Dalam dua bulan terakhir ini, kita akrab dengan kenyataan pudua: listrik mati, pemadaman bergilir. Setiap yang berlistrik di Sumatra Barat ini, jatah pudua pastilah dapat. Bahkan sampai dua atau tiga kali sehari. Sebagai konsumen, dapat jatah tak sedap itu, kadang ada yang pudua kesabaran hingga keluar makian atau omelan.Kata “pudua” menggambarkan sesuatu yang hilang, tiada, melayang dan kelam. Semua arti yang bermakna pada ketiadaan, memang kelam kata bersiratnya. Lah pudua harapan (sudah habis harapan), sama artinya tak ada yang diharapkan pada kegelapan. Pudua adalah kegelapan.

Dalam bermandi cahaya, tahu-tahu gelap menyungkup. Mata kita terbuka, nyalang, tapi hanya kelam yang tampak. Kita merasa ada yang mencuri cahaya. Ada rasa tak enak di hati. Sehingga, kebutuhan mendesak adalah bagaimana mendapatkan cahaya, menyalakan lilin, walau sambil memaki. Hal ini barangkali sebuah perumpamaan untuk realita yang ada di dunia ini, yang terdapat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketika kita butuh orang baik, jujur, cerdas dan amanah memimpin kita, tapi yang kita dapat dan pilih adalah yang sebaliknya, itulah kepuduran yang menikam. Ketika kita butuh seorang guru atau kepala sekolah yang juga baik, jujur, cerdas dan amanah, tapi kenyataannya justru sebaliknya, kita merasa mengantarkan anak kita untuk dididik oleh kegelapan. Kita pun mulai samar, kemudian kelam melihat gambaran masa depan.

Sebagai rakyat jika selama ini listrik terus nyala, BBM terjangkau, harga bahan pokok tak tinggi, pupuk tak mahal, biaya sekolah tak tinggi, untuk kuliah tak memeras kantong, orang miskin tak berkembang pesat, tahu-tahu saat ini sebaliknya, tentulah pudua gambar kita. Tak tahu kepada siapa minta api, tak tahu di tangan siapa nyala cahaya bisa menerangi.

Pudua adalah kenyataan, sebagaimana hidup atau nyala dalam hidup kita. Cahaya sangat penting, bukan berarti pudua tak penting. Kita membutuhkan pudua, karena mungkin: waktu menyala telah sampai akhir (orang hidup sampai ajal), untuk mempercerah energi (kalau lelah kita tidur, memudurkan diri sesaat), yang berjalan mesti berhenti (memudurkan langkah karena sampai tujuan) dan sebagainya.

Untuk itulah, kadang kita juga berpikir, bagaimana jadinya hidup ini kalau tak ada kelam, tak ada pudur atau seperti apa jadinya kalau kita tak ada api, tiada cahaya atau tanpa penerangan. Tentu jawabnya, alangkah aneh dan menyiksanya hidup ini jika kita hanya bertenu siang atau senantiasa bersama malam. Ketika seseorang hadir dalam hidup kita, ia memberi warna bahagia dengan cinta, tahu-tahu dia pergi dan menjauh dari kita, hati kita lengang.

Dalam kecengengan yang padar, kita berkesah, “Pudua palito di hati, sadang bagaluik jo cahayo inyo pai (padam pelita di hati, sedang bergelut dengan cahayo, dia pergi). Dan seseorang mungkin bisa memberi nasehat, sedang terang ingatlah kelam. Bisa pula kita punya istilah. Misalnya, dalam terang rasa-rasakan gelap, dalam gelap, pejam kita pun menawarkan cahaya dari hati dan pikiran.

Ada pula orang marah karena merasa “dipuduakan”. Pembunuhan karakter ya memudurkan nama baik, membuat seseorang merasa tidak bernilai di mata banyak orang. Segala yang buruk tentangnya diberitakan, digunjingkan, disebarkan dengan berbagai cara. Karena itu, ada nasehat untuk orang yang suka menjelekkan orang lain untuk menaikkan pamor positif dirinya (dengan cara negatif).

Untuk itu, ada yang membisikkan sembari mengancam, “Tuan, silakan hidupkan lampu tuan. Tapi lampu orang jangan dipuduakan. Kalau mau terang lampu tuan, lampu orang jangan dibuang….” Itu artinya, untuk meraih sesuatu, kalau ada saingan, jalan yang ditempuh tentu membahagiakan jika saling membantu menyalakan lampu. Karena kebaikan itu cahaya, dia menyala bisa memberi terang ke orang yang di sekitar kita.

Tapi, kadang, kita sering juga terjebak memudurkan sesuatu yang kita nyalakan sebagai cahaya. Karena apa? Karena memang, menyala atau hidup ada karena pudua atau pudur mengambil posisi di mana kita akan menentukan: angguk atau tidak, hidup atau mati!***

~ by Is Sikumbang on November 13, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: