S I P I

kw_baruOleh : Yusrizal KW
Tidak tepat sasaran kadang (bisa) disebut “sipi”. Sesuatu yang luput, itulah sesuatu yang sipi. Keuntungan yang di bawah target dalam berdagang, berarti juga hasil yang sipi. Kalau menembak, tidak tepat benar pada titik utama, hanya tepinya saja yang kena, ya itulah sipi-menyipi atau menyerempet doang. Kira-kira begitu. Bukalah Kamus Umum Bahasa Indonesia, terbitan Depdikbud dan Balai Pustaka, akan ditemukan kata “sipi” yang kalau mau kita kembangkan “rasakatanya” bisa “selebar alam”.
Kalau kita menargetkan sesuatu untuk hasil yang bulat, tapi kenyataan kemudiannya kok hanya seperti bulan sabit, tentulah ini bagian dari kata sipi. Kata sipi ada tentu memiliki energi, dorongan yang bagi kita bisa saja dimaknai untuk upaya maksimal, agar tak menjadi bagian dari arti kata yang memaknai hasil kerja kita. Harus sesuai sasaran. Tepat titik, sesuai perkiraan. Karena itu, perhitungan yang matang, adalah langkah agar hasilnya tidak lagi menyipi-nyipi saja.
Kalau menganggarkan dana, untuk kaum miskin misalnya, ya harus ada ukuran dan kriteria yang jelas. Jika tidak, bantuan bermula dari niat baik, akan salah kantong, salah dampak, yang kalau digunjingkan, lagi-lagi kita menyebut “kok menyipi” jadinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendapatkan hal-hal di luar keinginan, jauh dari yang ditargetkan. Sudah berbusa mulut kita misalnya menerangkan konsep-konsep ideal untuk suatu proyek kerja kepada atasan kita, semua sudah digagas serba terukur, yang harapannya dapat dukungan moril dan materil, namun hasilnya malah “sipi”. Ketika di depan kita dia mengangguk, pas bubaran anggukannya yang dikira mengarah ke konsep atau tawaran gagasan yang butuh action pasti akan didukung baik moril maupun materil, malah jadi “sipi”. Sedetik setelah saling mengatakan siap mendukung, “si beliau” melupakannya.
Dalam memahami banyak hal, kita kadang tak tepat makna maupun implementasinya. Ketika terjadi kegagalan, mestinya sasaran koreksinya adalah diri atau kebijakan diri. Tapi, yang sering terjadi malah berkembangnya kemampuan menuding orang lain, bahkan menyebut sudah takdir Tuhan. Kalau kita bertemu dengan seorang yang pintar, berwawasan luas, bicara serba ideal, kritikannya tajam, ketika itu kita merasa menemukan orang pas.
Jauh dari makna “sipi”. Namun, ketika kita makin akrba dengan dia, memahami keseharian dan perilakunya, kita berkata inilah yang dikatakan sesuatu telah menyipi dari dugaan semula. Sebab, ternyata ia tak lebih sebagai si besar omong, yang dilakukannya jauh dari apa yang ideal diomongkannya. Ia katakan kebaikan di sini, ia langgar apa yang dikatakannya di tempat lain.
Kadang rasa simpati kita tak tepat orang, karena memang kita sering terpesona oleh kulit dan bualan berbusa wangi. Seorang teman, pernah dongkol, ketika suatu kali ia tahu, orang yang dihormatinya itu tipe humanis, tutur kata terjaga, wawasan pun berpunya. Namun, ketika ia tahu temannya yang tercenderung berkesan humanis, punya banyak anak buah bergaji di bawah upah minimum, bahkan di bawah nilai kepatutan manusiawi, sementara perusahaannya besar, teman saya lalu berkata, “Kekaguman saya padanya selama ini ternyata tidak tepat”. Lalu saya mengatakan, tidak tepat sama dengan luput, luput sama dengan “sipi”.
Ketika memilih kata “sipi” untuk kolom “rasakata” ini, saya berpikir sendiri sembari tersenyum. Kata itu ada, jelas mendorong munculnya semangat agar tak jatuh ke hal-hal yang tidak sesuai harapan, di luar kebiasaan normal, menyintai ketepatan niat dan pelaksanaannya. Melakukan apa yang dikatakan atau sesuai kata dan perbuatan.
Namun, di pikiran kita sering merasa paham dan membenarkan, di pelangkahan kita sering menyimpang. Karena memang, kita kadang merasa adalah orang-orang yang selalu menjadi bagian gejala yang memiliki simpulan: tak sesuai harapan. Karena, memang kita lebih suka menyipi daripada memanah secara benar dan fokus arah dan titik capaiannya.***

~ by Is Sikumbang on January 17, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: