Siklus Reproduksi dan Rumah Minang

1541287pKompas.com
Siklus reproduksi di masyarakat Minang membawa dampak bagi tatanan ruang dalam rumah adatnya.

Ada empat aspek penting di kehidupan sosial Minangkabau yang sudah dikenal oleh banyak orang. Inilah yang tergambar dalam penelitian Cecilia Ng, lulusan Australian National University yang mengkhususkan diri pada prinsip-prinsip dasar organisasi ruang domestik pada orang Minangkabau di Sumatra Utara.

Yang pertama, penduduk Minangkabau sendiri terdiri dari beberapa suku, yang kemudian lebih difokuskan pada garis silsilah (sa-payuang). Satu kelompok silsilah ini kemudian dipimpin oleh seseorang yang disebut panghulu.

Yang kedua adalah Minangkabau menganut sistem matrifocal (mengikuti garis keturunan ibu), jadi peran wanita di sini lebih besar dari peran laki-laki.

Ketiga, hubungan yang terjadi karena pernikahan, merupakan cara yang paling signifikan untuk membedakan kelompok-kelompok masyarakatnya. Pengelompokan akan terlihat jelas saat ditelusuri silsilah keluarganya.

Yang terakhir adalah pola gerak anak laki-laki. Anak laki-laki akan terus berpindah tempat sampai dia dewasa. Anak laki-laki yang belum disunat, tidur di dalam rumah ibunya, sedangkan yag telah disunat akan tidur di mushola sampai menikah. Sebelum menikah mereka akan menerima pelajaran tentang Islam dari para tetua. Laki-laki remaja yang tidur di dalam rumah yang sudah ada pasangan suami-istrinya (kakak perempuannya sudah menikah), akan membuat pasangan yang sudah menikah itu malu. Biasanya pihak yang dilamar adalah pihak laki-laki. Karena itu setelah menikah, laki-laki akan pindah ke rumah istrinya.

Organisasi Ruang
Rumah gadang selalu berbentuk persegi panjang. Ada tiga macam ukuran, yaitu yang paling besar adalah rumah dengan 30 kolom, 20 kolom, dan yang paling kecil 12 kolom. Namun ketiga ukuran rumah itu mempunyai organisasi ruang yang sama persis.

Ruang paling pojok kiri adalah anjuang. Ruang ini biasanya sedikit naik dari lantai dasarnya, oleh karena itu sering disebut dengan anjuang nan tinggi. Ruang tidur atau biliak, hanya terdapat pada rumah dengan 30 kolom dan 20 kolom, adalah ruang yang berderet di bagian belakang. Pintu ruang tidur ini terbuat dari tirai dan menghadap ke ruang tengah. Ruang tengah pada rumah 30 kolom terbagi menjadi 3 bagian, yaitu ruang ateh yang tepat berada di depan biliak, ruang tongah, dan ruang topi.

Pada rumah 20 kolom, ruang tengah hanya dibagi menjadi 2 bagian, yaitu ruang tongah dan ruang topi. Kemudian pada bagian kanan belakang rumah adalah dapur, yang biasanya lebih rendah dibandingkan ruang lainnya. Tepat di depan dapur adalah pangkalan, yang merupakan lantai dasar dari seluruh rumah. Masih ada satu ruangan lagi, yaitu ruang dalam, yang terletak di bawah rumah dan digunakan oleh para wanita untuk kegiatan rumah tangga.

Ruang Privat dan Semi Privat
Ruang tengah adalah ruang semi privat. Tamu yang datang ke rumah, duduk di ruang topi dan pemilik rumah duduk di ruang tongah. Ruang tongah ini juga digunakan untuk makan bersama keluarga. Saat ini ruang tongah menjadi ruang yang bersifat pribadi. Bila ada tamu yang datang saat mereka sedang makan, maka makanan akan segera dibereskan.

Ruang tidur bagi para penghuni harus mengikuti aturan yang ada. Pasangan pengantin baru akan tidur di anjuang. Bila ada pasangan pengantin baru lagi, maka pasangan pengantin sebelumnya akan pindah ke biliak yang paling dekat dengan anjuang. Maka anjuang bisa dikatakan adalah ruang untuk awal reproduksi. Penghuni biliak sebelumnya akan pindah ke biliak sebelahnya, begitu seterusnya. Karena urutan pernikahan ditentukan oleh umur, maka biliak yang paling ujung (dekat dengan dapur) ditempati oleh penghuni tertua. Bila sudah tidak ada lagi biliak, maka penghuni tertua tersebut akan pindah ke pangkalan. Sedangkan anak gadis yang belum menikah akan tidur di ruang ateh dan ruang tongah, dekat dengan kolom utama (tonggak tuo).

Ruang publik yang ada dalam rumah ini adalah pangkalan. Para wanita yang sudah tidak bereproduksi lagi akan tidur di pangkalan ini. Di ruangan ini juga merupakan tempat jenasah dimandikan sebelum disemayamkan di ruang tongah.

Pola Ruang Berdasarkan Proses Reproduksi
Dilihat dari penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya denah rumah Minang memang sangat didasarkan pada pola pergerakan penghuni, terutama oleh proses reproduksinya. Ini sangat terlihat pada ruang tidurnya. Perputaran proses reproduksi tersebut membuat ruang-ruang diletakkan berjajar sesuai dengan urutan proses reproduksi.

Wanita yang memang merupakan pusat dari semua proses yang ada di dalam suatu keluarga, ruang tidurnya sangat diperhatikan di dalam rumah Minang ini. Anak perempuan, misalnya, ditempatkan pada ruang tongah dekat dengan kolom utama yang merupakan tempat menyemayamkan jenasah. Penempatan ini menggambarkan bahwa kehidupan dalam keluarga berawal dan berakhir di situ. Kemudian wanita bila sudah menikah akan diberi kamar pribadi (anjuang), yang terletak di ujung rumah, untuk memulai proses reproduksinya, lalu terus bergeser hingga kembali ke tengah lagi.

Jika wanita merupakan pusat kegiatan keluarga, tidak begitu dengan para lelakinya. Lelaki mempunyai orientasi hidup keluar. Karena itu tidak dirancang ruangan khusus untuk para lelaki. Mereka dipindahkan ke mushola mulai dari mereka disunat, karena dianggap tidak akan tinggal di rumah-melainkan akan merantau keluar dan kemudian kembali lagi saat menikah. (lia/tabloidrumah)

~ by Is Sikumbang on April 25, 2009.

One Response to “Siklus Reproduksi dan Rumah Minang”

  1. ambo ka batanyo nama yg labiah dahulu bahaso munang atau bahaso melayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: