KANAI

Oleh : Yusrizal KW
kw_baruDari kata “kanai” saja, banyak arti dan maksud yang kita temukan atau bisa dipahami. Kanai sama dengan kena, yang jika diartikan bersentuhan, tepat pada sasaran, mendapatkan sesuatu, tertimpa, tak bisa mengelak. Kalau dikembang-tuliskan di halaman ini, kata “kanai” bagi orang Minang ini, bisa pula diolah menjadi bangunan kalimat yang artinya satu sama lain berbeda, mengikuti konteks kalimat yang dikomunikasikan.
Bagi kita orang Minang, ada pula ungkapan “takanai”. Main di kata “takanai” ini saja, kita mendapatkan penjabaran arti yang kurang lebih sama dengan kecele, merasa dirugikan, dikadali atau dikerjai. Kita punya teman, percaya habis-habisan, kita serahkan barang berharga kita sama dia, tahu-tahu dia gadaikan. Nah, omelan yang kita sampaikan kepada orang lain sekaitan dengan perilaku teman kita itu, “Takanai den di kawan surang” (Kena saya di teman sendiri.). Sama halnya, membeli barang. Harga mahal, kualitas buruk. Sementara barang yang sama dibeli teman kita, harganya jauh lebih murah. Maka dia akan bilang, “takanai mambali” (kecele membeli).
Rakanai, cenderung dirasakan untuk ungkapkan perasaan dirugikan, dikecewakan atau di abaikan oleh sesuatu yang sebelumnya kita anggap aman-aman saja, baik-baik saja…. Kanai itu tak boleh dua kali, begitu petuah didengungkan. Artinya, keledailah yang sering terperosok pada lubang yang sama. Kalau kita, selalu “kanai”, baik oleh orang yang kita yakini sering lancung ke ujian, pedagang yang timbangannya sering berdusta, pengemis yang ternyata pencuri, artinya kita memang tak menjadikan pengalaman guru yang baik. Kanai, jika artinya adalah bagi kita untuk menegaskan diri kita sebagai korban, tentu hal ini sebagai suatu kesimpulan, kita sedang kemalangan, atau peringatan dini bahwa di dunia ini hidup mesti memiliki kemawasdirian yang tajam.
Nah kalau “kanai hati” itu sama dengan “jatuh hati”. Lho! Ya. Kanai ternyata bisa pula menjadi kata “jatuh”. Biasanya, konteks kanai hati, yang boleh juga diberi arti suka, tertarik, ngebet, berkaitan dengan hasrat atau dorongan dalam diri, juga untuk memiliki. Meluhat jam tangan yang desainnya menarik, kita bergumam, kanai bana hati ambo (jatuh hati benar saya) pada jam itu. Berkenalan dengan gadis cantik, murah senyum, ramah dan rendah hati, kita tertarik. Malamnya, bisa terkenang. Besoknya ketemu lagi, setelah itu, bisa saja kita bergumam, “takanai hati den” (jatuh hati diri ini). Kanai hati, yah, itu juga bermakna tertambat. Yang paling indah, sama-sama kanai hati. Kanai hati, kalau sering dan ke banyak orang, maka yang akan kita dengar, kita disebut sebagai orang yang “panganai hati”.
Kalau seseorang memiringkan telunjuknya kepada kita untuk menyiratkan seseorang yang lagi tertawa sendiri di depan rumahnya, ini juga berarti kanai. Tak jarang, sambil memiringkan telunjuk orang awak bilang, “Nyo lah kanai….” Atau, “Nyo agak kanai….” (Dia agak gila). Untuk dikatakan kanai ini, boleh saja orang gila betulan, boleh juga orang yang kerjanya tidak masuk akal, atau suka sekehendak hati. Kalau ada walikota atau bupati suka tak ikut aturan, bekerja sesuka hatinya, apa yang teringat saja, maka orang menggunjingkannya, iko akibaiknyo kalau urang lah kanai dipicayo mamimpin. Nan inyo se batua. (Ini akibatnya kalau orang “gila” dipercaya memimpin, yang dia saja betul). Nah, di zaman sekarang ini, orang yang “kanai” (dalam artian negatif), semakin banyak, bahkan kalau dihitung dan dianalisis, kita pun bisa gila dibuatnya. Senewen. Gila. Edan.
Kalau dia bilang “indak kanai”, arti yang ditawarkannya bisa saja tidak sesuai atau tidak pas. Konteksnya bisa saja etika, bisa saja keserasian. Kalau kita bertemu dengan kakek usia 75 tahun, kita panggil abang, sementara usia kita 25 tahun, ini “indak kanai” juga artinya. Kalau kita memakai baju seksi tampak pusar dan celana ketat ke rumah guru mengaji kita, pakaian dan cara kita boleh dibilang “indak kanai” atau malah kita dibilang “kanai” sembari memiringkan telunjuk pada kening. Nah, coba kalau apa yang kita lakukan sesuai alur dan patutnya, orang tentu akan berkata, “kanai hati” oleh perilaku dan cara kita menghormati diri.n
http://www.padangekspres.co.id/content/view/2385/59/

~ by Is Sikumbang on April 30, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: