Barangin

Oleh : Yusrizal KW/padangekspres.co.id

kw_baruAda yang menarik di orang Minang ini. Menggelari atau menyebut orang “barangin”, arti yang ditawarkannya bisa membuat kita mengangguk (kalau memang dia barangin), tersenyum simpul (kalau ungkapan itu sindiran gurau) atau kita sendiri yang dikatakan “barangin” dan mendengarnya malah cengengesan, sembari mengumpat, “Kurang ajar!”

Barangin ternyata sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka asyik dengan diri dan pikiran sendiri. Barangin boleh juga sebutan orang yang nekat (Hati-hati, dia barangin itu…) Suka diasung. Ada pula orang, kalau ada temannya yang tidak punya rasa malu, tidak pernah pakai etika di mana pun dia ada, maka enak saja dibilang, “dia barangin”. Kalau ada yang marah, maka akan ada pula yang menyela, “Biar sajalah, dia barangin…. Kalau marah kita ke dia, kita pula yang barangin namanya….”

Orang-orang yang mendapatkan sebutan barangin, secara tidak langsung, tindakan mereka mendapatkan permakluman. Tetapi, tentu ada pula yang tidak. Gelar barangin, kadang panggilan “sayang” komunitas atau kelompok tertentu terhadap temannya, mungkin, disebabkan sensasi yang pernah ekstrem dilakukannya. Tidak semua panggilan barangin untuk peremehan atau pemastian identitas seseorang. Dalam kehidupan bermasyarakat, pada lingkungan tertentu, umumnya ada yang orang, apakah disadari atau tidak, dikatakan barangin untuk senda gurau.

Orang kita ini kadang terlalu kreatif, kalau tak mungkin dikatakan suka memberi “gelar” buruk sebagai olok-olok di tengah masyarakat. Kalau ada tetangganya yang suka menyalakan tape keras-keras di waktu pagi, tak bisa dimohonkan agar dipelankan karena mengganggu, maka bisa saja kita bilang “dia barangin”.

Kenapa barangin? Orang tak waraslah yang tidak paham hidup saling menjaga kenyamanan sebelah menyebelah atau bertetangga. Begitu juga, kalau ada bos yang suka marah-marah, suka mengatakan ke orang gaji anak buahnya besar dan sejahtera, sering menyebut ke orang lain atau dalam ceramahnya bahwa karyawan adalah aset berharga, padahal orang tahu gaji di tempatnya kecil mencekik, persentase terbesar yang bergaji di bawah upah minimum lebih dari 50 persen, maka sang bos dikatakan oleh anak buahnya “barangin”. Ngomong seenak “anginnya” (kentut) saja. Orang barangin tidak malu membayar orang rendah walau pemasukkannya besar dan berkata omong besar. Kalau diteruskan, apa saja yang bisa dikaitkan dengan “barangin”, tentulah teramat banyak.

Jangan-jangan, kita pun sudah “barangin”, karena hanya terpaku pada kata “barangin”. Tapi, yang jelas, kalau ada orang gila lewat di depan kita dibilang barangin, itu biasa. Cuma, kalau ada orang membiarkan kita melakukan apa saja, dilarang pun tidak, didukung pun tidak, mereka memandang kita dengan sorot mata yang aneh, cepat-cepatlah koreksi diri, jangan-jangan kita sedang digumamkan mereka sebagai “barangin”.

Barangin kalau diindonesiakan, sama artinya berangin, memiliki angin. Tetapi dalam bahasa Minang tidak bisa selugu itu kita terjemahkan. Barangin itu, kadang dipahami lantaran ada yang bocor. Nah, lantaran itu ada pula orang menyebut boco aluih (bocor halus). Yang bocor, tentulah yang berangin. Dia berangin karena ada yang bocor. Orang Minang, ketika menyebut orang barangin atau boco aluih, maksudnya pada jiwa atau otaknya, ada yang kempes. Jadi tidak berpikir normal lagi. Gangguan jiwa. Gangguan perilaku. Gangguan diri yang membuat semua terlihat tak normal.

Menjelang pemilu 2009 ini, saking begitu banyak caleg, ribuan gambar mereka terpajang di mana-mana, pertanyaannya kemudian adalah, siapakah di antara mereka yang akan barangin nantinya? Atau, siapakah orang barangin yang bakal dipilih oleh rakyat, yang nantinya akan melahirkan kebijakan barangin. Tentu, semua bisa terjadi bisa juga tidak. Tapi, yang jelas, selagi ada angin, orang barangin akan tetap ada hehehe.

Bicara “barangin”, sesungguhnya bicara akal sehat. Sejauh mana, kita menuntut diri, agar memahami banyak hal dengan baik, untuk memberi ke banyak hal dengan baik lantaran ingin menerima banyak hala dengan baik pula. Karena, kata barangin, adalah kata yang memaksa kita sebenarnya, agar tidak mengalami kebocoran. Kalau bocor, angin akan berhembus, kadang bisa saja sejuk, tetapi, kebocoran yang buruk akan menimbulkan busuk seperti buang angin: kentut.***

~ by Is Sikumbang on August 26, 2009.

One Response to “Barangin”

  1. barangin samo artinyo jo boco aluih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: