Martabat Seorang Penghulu

Written by Amir M.S.

Seorang yang telah diangkat menjadi Penghulu oleh kaum anak kemenakannya, akan berwibawa dan disegani kalau dia sebagai seorang pemimpin lebih bisa memimpin dirinya sendiri yang dapat dicontoh dan ditauladan oleh masyarakat anak kemanakan yang dipimpinnya dalam segala tingkah laku dan perbuatannya.

Penghulu atau pemimpin yang demikian akan merupakan pemimpin yang dicintai oleh anak kemenakan dan masyarakatnya. Maka dalam ajaran adat Minangkabau perlu pemimpin itu dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengangkat martabat dan prestise penghulu tersebut, yaitu :

1. Ingek dan Jago pado Adat

Ingek di adat nan ka rusak

Jago limbago jan nyo sumbiang

urang inget pantang Takicuah

Urang jago pantang ka malingan

Seorang Penghulu hendaklah selalu hati-hati dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya yang akan merusak nama baik seorang penghulu atau pemimpin.

Hendaklah mencerminkan dalam setiap gerak dan perilaku seorang penghulu itu, sifat-sifat yang baik dan sempurna, umpama perkataannya, duduk, minum, makan, berjalan, berpakaian yang selalu dapat dicontoh oleh anak kemenakan dan masyarakatnya. Dia selalu ingat dan hati-hati bahwa dia adalah seorang pemimpin yang senantiasa diperhatikan dan dilihat oleh masyarakat. Baik budi, tutur dan kata yang lemah lembut, berani tanggung jawab dalam segala tindakan, jangan seperti kata gurindam :

Tinggi lonjak gadang galapua

Nan lago dibawah sajo

Baka ibarat ayam jantan

Bakukuak di nan tinggi

Gilo namuah kamanangan

Muluik kasa timbangan kurang

Gadang tungkuih tak barisi

Elok baso tak manantu.

Nan baiak umpamo buluah bambu

Nan batareh nampak kalua

Tapi di dalam kosong sajo

Mamakai cabuah sio-sio

Kecek gadang timbangan kurang

Kacak batih lah babatih

Kacak langan lah bak langan

Ereng jo gendeng tak bapakai

Baso basi jauah sakali

Malu sopan pun tak ado

Bicaro banyak suok-kida

Indak manunjuak ma-ajari

Penghulu yang demikian akan kehilangan harga diri dalam masyarakat dan tidak akan dihormati dan tidak akan berhasil dalam impiannya.

Patitih pamenan adat

Gurindam pamenan kato

Jadi pemimpin kok tak pandai

Rusak kampuang binaso kato.

2. Berilmu, Berfaham, Bermakrifat, Yakin dan Tawakal kepada Allah

Berilmu

Berilmu pengetahuan tentang rakyak yang dipimpinnya, tentang soko dan pusako, tentang korong kampuang dan halaman serta nagarinya. Berpengetahuan tentang hukum adat dan syarak, yang sagggup mengamalkannya dalam penyelesaian sengketa yang terjadi dalam lingkungan kaum dan nagarinya.

Berfaham

Merahasiakan apa yang patut dirahasiakan,

Indak ta-ruah bak katidiang

Indak ba-serak bak anjalai

Kok rundiang ba nan batin

Patuik ba-duo jan ba-tigo

Nan jan lahia di-danga urang

Bermakrifat

Mengamalkan rukun Islam yang lima, dengan tulus dan ikhlas dan selalu ingat kepada Allah swt dan meninggalkan segala larangan agama Islam, begitupun larangan Adat dan Undang-Undang.

Ilmu bak bintang bataburan

Faham haluih bak lauik dalam

Budi nan tidak kelihatan

Faham nan tidak namuah ta-gadai

Luruih bana dipegang sungguah.

3. Kayo dan Miskin pado Hati dan Kebenaran

Seorang penghulu hendaklah mempunyai kesanggupan mengarahkan anak kemenakannya kepada kebenaran. Dia akan berusaha membawanya kepada jalan yang baik dan benar, diminta atau tidak diminta oleh anak kemenakannya. Ia rendah hati dan pemurah dalam segala bentuk yang mengarah kepada kebenaran dan perbuatan-perbuatan yang baik, selalu memberi ajaran-ajaran yang baik dan berfaedah.

Sewaktu-waktu seorang penghulu perlu mempunyai sifat tegas dan bijaksana. Dia tidak akan mengambil suatu langkah dan tindakan sebelum diminta dan diperlukan. Dia tidak akan menyelesaikan suatu sengketa yang seharusnya tidak menjadi kewajibannya atau tidak pada tempatnya.

Elok nagari dek panghulu

Rancak tapian dek nan mudo

Kalau akan memegang hulu

Pandai mamaliharo puntiang jo mato.

4. Murah dan Mahal pado Laku dan Perangai yang Berpatutan

Seorang penghulu pandai bertindak pada saat dan waktunya, melihat kepada tempat dan keadaan, pandai menyesuaikan diri pada setiap tingkatan masyarakat, tidak merasa rendah diri pada pergaulan, hormat kepada orang tua, kasih pada anak-anak. Ia bisa berkelakar sewaktu-waktu dengan anak kemenakan dan masyarakat, mempunyai sifat terbuka dalam segala tindakan kepemimpinannya.

Ia selalu mentaati setiap keputusan yang telah diambil, sangat hati-hati dalam membikin dan mengucapkan janji pada seorang, rajin mengontrol anak kemenakan dalam segala bidang kehidupannya, mempunyai sifat yang tegas dan bijaksana dalam segala hal.

Malabiahi ancak-ancak

Mangurangi sio-sio

Bayang-bayang sapanjang badan

Man-jangkau sapanjang tangan

bajalan surang tak dahulu

Bajalan ba-duo tak ditangah

Hermat cermat dio selalu

Martabat nan anam tidaklah lengah.

5. Hermat dan Cermat Mangana Awa dan Akia

Selalu mengenal sebab dan akibat, dan mempertimbangkan mudharat dan manfaat dalam pekerjaan dan putusan yang akan dibuat. Mempunyai ketelitian yang sunguh-sunguh dalam perbuatan dan tindakan. Memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam masyarakat.

Indak mengelokan galah di kaki

Indak malabiahi lantai bake bapijak

Dek sio-sio nagari alah

Dek cilako hutang tumbuah

Mangana awa dengan akia

Mangana manfaat jo mudharat

Dalam awa akia membayang

Dalam kulik mambayang isi

cawek nan dari mandiangin

Dibao nak urang ka biaro

Takilek rupo dalam camin

inyo dibaliak itu pulo

6. Sabar dan Ridha Mamakai Sidik jo Tabalieh

Seorang penghulu selalu bersifat sabar dan lapang hati, tidak pemarah dan angkuh, pemaaf dalam segala ketelanjuran anak kemenakan dan masyarakat, mempunyai ketenangan dalam menghadapi segala hal.

Ia selalu memegang kebenaran, dan juga tetap mempertahankan kebenaran dan keadilan, bisa meyakinkan orang lain dan masyarakatnya dengan sesuatu yang dianggapnya benar dan baik. Dan dia pun sanggup melaksanakan apa yang dikatakannya baik dan benar itu.

Ia sabar dalam menghadapi segala sesuatu dalam masyarakat, baik kesulitan maupun bahaya yang menimpanya dan anak-kemenakannya. Dan ia senantiasa memusyawarahkan segala sesuatu yang akan diambil tindakan dan apa yang akan dilaksanakan dengan anak-kemenakannya.

Indak bataratak bakato asiang

Bukan mahariak mahantam tanah

Pandai batenggang di nan rumik

Dapek bakisa di nan sampik

Alah bakarih samparono

Bingkisan rajo Majopahik

Tuah basabab ba karano

Pandai batenggang di nan rumik.

Kalau martabat yang enam macam ini telah dapat dihayati oleh seorang penghulu dengan sebaik-baiknya, maka penghulu tersebut akan bisa menjadi penghulu yang benar-benar “gadang basa nan batuah” yang dikehendaki oleh adat Minangkabau dan yang diharapkan oleh anak-kemenakan dan masyarakat yang membesarkannya, dan akan bertemulah kehendak pepatah adat :

Kamanakan manyambah lahia

Mamak manyambah batin

Dengan mengamalkan secara sunguh-sunguh martabat seorang penghulu yang enam macam itu, terjauhilah seorang penghulu dari sifat-sifat yang sangat dibenci oleh ajaran adat, begitupun oleh pencipta adat Minangkabau, yakni ninik Dt. Parpatiah nan Sabatang dan Dt. Katumangguangan.

Nak cincin galang lah buliah

Nak ulam pucuak manjulai

Nak aia pincuran tabik

Sumua dikali aia datang

Dek licin kilek lah tibo

Dek kilek cayo lah datang

Ka jadi sasi bungo jo daun

Adat bajalan sandirinyo

Bumi sangang padi manjadi

Padi kuniang jaguang maupiah

Taranak bakambang biak

Anak buah sanang santoso

Sumber : Buletin Sungai Puar 16 Agustus 1986

~ by Is Sikumbang on September 17, 2009.

One Response to “Martabat Seorang Penghulu”

  1. terimakasih uda is, pengetahuan ini menggelitik saya untuk bertanya..

    saya memiliki teman orang minang yang keluarga intinya dikucilkan oleh ninik mamak nya karena memperbolehkan kakak perempuannya menikah dengan pria dalam satu suku di minang, pernikahan tersebut tidak melanggar hukum dan juga agama islam justru dianjurkan tapi dalam adat hal tersebut adalah salah..
    dalam tulisan sebelumnya ada prinsip bahwa adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,
    pertanyaan yang menggelitik saya adalah apakah sikap dari ninik mamak tersebut sudah tepat dan apakah hukum bagi yang melanggar ketentuan adat tersebut adalah dicoret dari garis keturunan dan dikucilkan?

    penjelasan dari uda is sangat di harapkan, terimakasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: