Syair Sunur: Autobiografi Seorang Dagang Minangkabau

SURYADI

ABSTRAK
Rencana ini adalah kajian ke atas Syair Sunur, sebuah karya autobiografi
dalam bentuk syair. Ia ditulis Syeikh Daud, seorang ulama dari Rantau
Pariaman di pantai barat Minangkabau, Sumatra Barat. Pengarang ini
dilahirkan di Sunur, sebuah kampung pantai dekat Ulakan, pusat ajaran
tarekat Shattariyah antara tahun 1785 dan 1790. Beliau meninggal sekitar
1855 di Singkel, kota pelabuhan di pantai barat Aceh. Tujuan rencana ini
bukan sahaja mengkaji manuskrip tulisan tangan serta edisi cetak SSn, tetapi
juga merumikan salah satu versinya dan mengkajinya secara kritis. Dengan
berbuat demikian, diharap dapat dibina kembali konteks budaya dan politik
Mi n a n g k a b a u , k h u s u s n y a R a n t a u P a r i ama n s e b a g a i l a t a r b e l a k a n g
penciptaan SSn untuk memahami peranan Syeikh Daud dalam konteks gerakan
pemodenan Islam di Rantau Pariaman pada bahagian awal kurun ke-19.
Kata kunci: Syair Sunur, Syeikh Daud, gerakan Islam, Pariaman

 

 

 

 

ABSTRACT
This paper is a study of Syair Sunur, an autobiography in the form of syair. It
was written by Syeikh Daud, a religious leader from Rantau Pariaman, in the
west coast of Minangkabau in West Sumatra. The writer was born in Sunur, a
coastal village close to Ulakan, center of Shâttariyah Sufi Order (tarekat),
sometimes between 1785 and 1790. He died in about 1855 in Singkel, a port on
the west coast of Aceh. The aim of this paper is not only to examine the
handwritten copies as well as the print editions of SSn, but also to translite-rate
one of them into Latin script and critically edit it. By doing so, it is hoped to be
able to reconstruct the cultural and political context of Minangkabau,
particularly Rantau Pariaman, as the backdrop of SSn to understand Syeikh
Daud’s role in the context of Islamic modernist movement in Rantau Pariaman
in the first half of the 19
th
Century.
Key words: Syair Sunur, Syeikh Daud, Islamic movement, Pariaman84 Sari 23

PENGANTAR
Syair Sunur, dikenali selanjutnya dengan singkatan SSn, mempunyai banyak
nama yang berlainan. Antaranya ialah Nazam Sunur, Nalam Sunur dan Syair
Dagang. Ia adalah manuskrip klasik Minangkabau dalam puisi dan belum
banyak diperkatakan. Ahli filologi Malaysia dan Indonesia, termasuk yang
berasal dari Sumatra Barat, belum banyak yang mengetahui salinan SSn. Sebagai
bukti, ia tidak dapat dikesan dari perbincangan Hasanuddin W. S. mengenai
filologi Minangkabau dalam buletin kebudayaan Suratkabar (2002: 12-13).
Tidak disebutnya SSn dalam judul manuskrip yang disenaraikan. Sepanjang
pengetahuan saya, Leni Nora (2000) pernah memperkatakan dan mengalihaksarakan satu salinan SSn berdasarkan edisi cetakan syair ini yang telah
diterbitkan dalam Volkdrukkerij Djatilaan, Padang, sekitar tahun 1920-an (lihat
Salinan-L). Sementara itu, pengkaji lain, termasuk Braginsky (1998a & 1998b)
dan Wieringa (2002) cuma menyentuhnya. Namun, sebuah kajian yang
komprehensif mengenainya sudah dikerjakan penulis ini untuk ijazah Sarjana
Sastera di Universitas Leiden (Suryadi 2002a). Kajian itu menyusur-galurkan
salinan SSn yang ada, baik yang berbentuk manuskrip ataupun yang bercetak.
Dalam tesis itu, telah juga dibincangkan latar belakang sosial dan pengarang
SSn.
Rencana ini adalah pemadatan, maka lebih daripada ringkasan, berdasarkan
tesis tersebut. Sehubungan itu, ingin dinyatakan bahawa beberapa bahagian
dari tesis itu sudah dibentangkan (Suryadi 2000). Selain itu, penulis ini juga
telah memperkatakan pengarang SSn dalam artikel Shaikh Daud of Sunur
(Suryadi 2001a) dan juga sebuah kertas kerja yang lain yang sudah dibentangkan
di Seminar Internasional Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA V)
pada 28 – 31 Julai, 2001, di Padang (Suryadi 2001b).
SALINAN-SALINAN SSn
SSn adalah teks yang pendek: tidak lebih daripada 62 bait. Antara salinan SSn
yang dapat dikenal pasti, ternyata ada perbezaan daripada segi jumlah
keseluruhan bait. Ini disebabkan campur tangan daripada penyalin yang
berlainan. Pada dasarnya, salinan SSn yang dapat dikenal pasti itu boleh
dibahagikan kepada dua jenis: manuskrip dan yang cetak. Sebahagian
masalahnya ialah manuskrip yang berkenaan sering disimpan bersama dengan
teks-teks pendek yang lain dalam satu ikatan manuskrip. Oleh itu, seringkali
SSn diketemui bersama dengan SRH (Syair Rukun Haji) tanpa judulnya sendiri.
Setakat ini, sudah ada sembilan salinan manuskrip dan enam salinan cetak SRH
yang tersimpan di Universiteit Bibliotheek Leiden, Staatsbibliothek zu Berlin
(Freußischer Kulturbesitz, Orientabteilung), Cambridge University Library,
British Library London (Oriental and India Office Collection), Dewan BahasaAutobiografi Seorang Dagang Minangkabau 85
dan Pustaka dan Perpustakaan Negara Malaysia, di Kuala Lumpur dan
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) di Jakarta (Suryadi, 2001a:
103-04 [# 8&9]). Dua buah fotokopinya, iaitu Salinan-L dan Salinan-M juga
disimpan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau
(PDIKM), Padang Panjang, Sumatra Barat, walaupun kelihatan sebagai reproduksi
dari yang ada di dalam koleksi PNRI, Jakarta.
Oleh kerana teksnya pendek, maka diketemui teks tambahan (bladvulling
= pengisi ruang dalam halaman untuk memenuhi bahagian yang kosong). Ini
ternyata dilakukan ke atas Salinan-K (prosa), Salinan-L (syair) dan Salinan-M
(syair). Keterangan ringkas tentang salinan SSn telah diberi dalam jadual di
halaman di sebelah.

Selanjutnya dapat dibaca pada web sumber : http://niadilova.blogdetik.com/files/2011/10/syair-sunur-autobiografi-seorang-dagang-minangkabau.pdf

~ by Is Sikumbang on March 14, 2012.

3 Responses to “Syair Sunur: Autobiografi Seorang Dagang Minangkabau”

  1. Kitabnya yang asli sekarang berada di Leiden ya sanak Is?

  2. Meskipun belum sempat baca dan saya mohon izin mengopinya, makalah Pak Suryadi mestilah menarik karena yang menulis a talented prominent scholar. Ide makalah itu mengingatkan saya akan tulisan “merantau” Pak Muchtar Naim yang konon mau diterbit ulang. Ia menjadi contoh konkret tentang kasus-kasus individual seperti yang pernah ditulis Tsoyashi Kato ttg Ratau Pariaman. Ada juga sebuah naskah lama tentang pedagang lada dari Minangkabau di Lampung yang pernah diterbitkan dalam edisi bhs Belanda. Saya sangat welcome dg topik ini dan mudah2an bisa menginspirasi peneliti muda untuk tipik ini. Saat ini saya dengan kawan dari Palembang, dr Abraham sedang menyiapkan ttg sejarah grass-root ttg kasus-kasus prri di Sumbar. Semakin banyak data konkret ttg sejarah kampung kita semakin memperkaya pula khazanah pembelajaran ttg akasr sosial Minangkabau yang makin ditinggalkan. Salut dan Salam utk Pak Suryadi dan Pak Is Sikumbang.

  3. Perkenalkan nama saya Bahtiar / 08132 8484 289 / bahtiar@gmail.com.

    Masuk ke blog ini karena mencari teman lama saya, NURMANSYAH Alumni Teknik Kimia UGM Angkatan 1989.

    Bagi yang mengetahuinya, mohon saya dikabari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: