Antara Adat, Syarak dan Kitabullah

Oleh : Buya Mas’oed (Harian Umum Haluan | Jumat, 08 Maret 2013)

 

ImageAllah telah mentak­dirkan kita sebagai satu kaum yang me­nempati dataran ting­gi dan rendah. Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu. Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam – diam mengalir terus. Akhir­nya bermuara di pinggir laut di Batang Masang dan Katia­gan. Ditingkah gemercik air me­nimpa dedaunan dipagi hari. Bila hujan pun tidak turun, embun tetap menyu­burkan tanah. Dikelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak. Diapit gunung menjulang tinggi, dikawal Singgalang dan Mera­pi.  Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi.. Sung­­guh­­pun risau sering meng­ganggu, kampung hala­man selalu menanti. Indah sekali.

 

Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak ke bumi. Mengundang orang yang da­tang berdecak kagum. Kein­dahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh. Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu. Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.

 

Pendidikannya maju. De­ngan negeri ribuan dokter, dan para ahli. Hanya didataran tinggi ini, ditemui Parabek dan Canduang. Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru. Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani. Di samping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

 

Di sini pula didapati satu-satunya Kwek School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik. Dari halaman negeri ini menjadi tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui. Dan ini adalah ba­hagian dari kaba itu.

 

Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula. Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.

 

Nilai-nilai Adat

 

Sebagai masyarakat ber­adat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaidah-kaidah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran ke dalam tatanan hidup masyarakatnya.

 

Masyarakatnya rajin be­kerja, Ka lauik riak maham­peh. Ka karang rancam ma-aruih. Ka pantai ombak ma­ma­cah. Jiko mangauik kameh-kameh. Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah. Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented. Sama se­kali bukanlah kemauan per­seorangan (orientasi personal) semata.

 

Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masya­rakat di tempat mana pro­gram itu akan dilaksanakan seiring dengan pranata sosial budaya (social and cultural institution) yang menjadi batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kese­pakatan bersama dan menja­di kesadaran kolektif di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidu­pan bersama.

 

Pranata sosial masya­rakat beragama di Sumatera Barat yang didiami masya­rakat adat Minangkabau semestinya berpedoman (ber­san­dikan) kepada Syarak dan Kitabullah. Agama Islam yang bersumber kepada Kitabullah (Al Quranul Karim) dan Sun­nah Rasulullah  itu, maka pelaksanaan atau pengama­lannya tampak atau direkam dalam praktek ibadah, pola pandang dan karakter masya­rakatnya, sikap umum dalam ragam hubungan sosial penga­nutnya. Dalam keniscayaan ini, maka kekerabatan yang erat  menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi ber­ba­gai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

 

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsur pera­saan, hati (qalbin Salim) yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh mekar dengan  kesa­daran kearifan dalam kecer­dasan budaya serta memper­halus kecerdasan emosional serta dipertajam oleh kemam­puan periksa evaluasi positif dan negatif  atau kecerdasan rasional intelektual yang dilin­dungi oleh kesadaran yang melekat pada keyakinan (kecer­dasan spiritual) yakni hidayah Islam. Watak yang sempurna dengan nilai nilai luhur (akhlaqul karimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi (nawaitu) yang bersih (ikhlas).

 

Masyarakat  Sumatera Barat dengan Penduduk ter­besar memiliki ciri khas adat Minangkabau berfilososi ABSSBK adalah masyarakat beradat dan beradabKegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (system) pada berbagai tataran (structural levels)

 

Yang paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang akan membentuk Pandangan  hidup dan panduan  dunia (per­spektif), yang akan (a). meme­ngaruhi seluruh aspek kehi­dupan masyarakat kota  dan kabupaten di Sumatera Barat, berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara per­gaulan dari masyarakat itu. (b). menjadi landasan pemben­tukan pranata sosial keorga­nisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dakwah dan bentuk kegiatan yang akan dikembangkan secara formal ataupun infor­mal. (c). menjadi pedoman petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidu­pan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama. (d). membe­rikan ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi remaja di Sumatera Barat dalam meng­hasilkan buah karya sosial, budaya dan berdampak ekono­mi, serta karya-karya pemi­kiran intelektual, yang akan menjadi mesin perkembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.

 

Sebagai contoh, Pemilihan Uni Uda sebagai Duta Wisata Sumatera Barat mestinya harus jelas kriteria yang akan menyandangnya. Uni Uda adalah generasi muda yang mengenal adat budayanya dan mentaati agamanya dengan sifat sifat mulia diantaranya lembut hatinya, penyabar, penyayang kepada sesama, keras dalam mempertahankan harga diri, tegas, teguh dan kuat iman dalam melaksa­nakan suruhan Allah, penda­mai, suka memaafkan dan mampu menjadi pemimpin masyarakatnya.

 

Generasi Muda di Minang­kabau memiliki sifat sebagai digambarkan dalam filosofi adatnya sebagai berikut; “Adopun nan di sabuik rang mudo, tapakai taratik dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu di ereang jo gendeang. Mamakai raso jo pareso. Mana­ruah malu dengan sopan. Manjauhi sumbang jo salah. Muluik manih baso katuju. Kato baiak kucindan murah, pandai bagaua samo gadang. Hormat kapado ibu bapo. Khidmat kapado urang tuo-tuo. Takuik kapado Allah, manuruik parentah Rasulullah. Tahu di korong dengan kam­puang, tahu di rumah dengan ranggo. Takuik di budi katajua. Malu di paham ka tagadai. Tahu di mungkin dengan patuik. Malatakkan sasuatu pado tampeknyo. Tahu di tinggi dengan randah, Bayang-bayang sapanjang badan. Bulieh ditiru dituladan. Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang. Maleleh buliaeh dipalik, manitiak bulieh ditampuang. Satitiak bulieh dilauikkan, sakapa dapek digunuangkan. Capek kaki ringan tangan. Namuah di suruah di sarayo. Iyo dek urang di nagari.”. Inilahharkat generasi muda yang akan menyandang gelar uni dan uda di Ranah Bundo Sumbar.

 

Kaidah dari nilai-nilai adat ini tiada lain adalah penera­pan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya. Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju, dek ameh mangkonyo kameh, dek padi mangkonyo manjadi. Arti yang lebih menukik ada­lah kooperatif. Adalah wajar sekali, kalau bapak koperasi itu lahir dari putra Minang­kabau. Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi. Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan. Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan. Tidak hanya semata tampil beda.

 

Pariwisata yang dikaitkan dengan ekonomi kreatif berarti ada upaya yang jelas dan terang mencapai tingkat ke­mak­muran masyarakat dise­kitar­nya. Makmur tidak milik satu orang. Kemakmuran akan terpelihara bila keama­nan terjamin. Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Da­lam pengembangan setiap usaha diperlukan pemerataan penghasilan. Karena itu perha­tian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting. Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih,    Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.

 

Teranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan mene­mui disini satu iklim kejiwaan (mental climate) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak na­gari dan kampung halaman. Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap pera­daban yang tengah berlaku. Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno di za­man modernisasi ini berarti satu kerugian. Sebab berarti menga­baikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

 

Nilai Agama

 

Masyarakat Minang khu­susnya di Sumatera Barat umatnya seratus prosen Is­lam. Sungguhpun kita me­nyak­sikan satu kondisi terja­dinya pergeseran pandangan masyarakat dewasa ini. Na­mun, perpaduan budaya di Sumatera Barat dengan upaya melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan maka peradaban akan kembali gemerlapan. Berpaling dari sumber ke­kuatan murni dengan menang­galkan prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam dan penduduk Sumatera Barat.

 

Nilai nilai luhur adat budaya menjadi sempurna dengan bimbingan nilai Aga­ma Islam. Kembali kepada watak Islam  tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki. Sebagaimana Firman Allah menyebutkan ;

 

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperha­tikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan mem­bawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.

 

Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan keja­hatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

 

Tuntutan kedepan agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamad­dun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Tidak me­metik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menje­jak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.***

 

http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=21752:antara-adat-syarak-dan-kitabullah&catid=11:opini&Itemid=187

 

~ by Is Sikumbang on March 13, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: