Kearifan Minangkabau Makin Terkikis

•April 25, 2012 • 2 Comments

 

 

ilustrasi

KEARIFAN lokal Minangkabau saat ini banyak yang tergerus zaman, tak terkecuali upaya penanggulangan bencana. Karenanya ragam kearifan lokal itu perlu dipahami kembali oleh generasi muda dan penerus bangsa.

“Saat ini kita bisa melihat banyaknya kearifan lokal yang telah tergerus oleh zaman yang seharusnya dapat dijadikan bahan pelajaran bagi generasi sekarang, seperti terkait antisipasi dan penanggulangan kebencanaan,” kata Sosiolog dari Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat, Profesor Damsar, Sabtu (21/4).

Dia menambahkan, dalam upaya penanggulangan bencana, sebenarnya tidak boleh hanya sebatas masalah infrastruktur saja. Namun juga harus memberdayakan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat.

Damsir mencontohkan, Rumah Gadang yang dibangun nenek moyang Minangkabau tetap dapat berdiri kokoh meski terjadi gempa. Selain itu, lumbung tempat menyimpan padi dan petuah ‘kalau takuik dilamun galombang jan barumah di tapi pantai’ (kalau takut digulung ombak jangan mendirikan rumah di tepi pantai) merupakan kearifan lokal yang mampu membuat orang-orang zaman dulu bisa bertahan dalam kondisi bencana.

Kearifan lokal semacam itu, menurut Damsir, sudah banyak tidak lagi dipahami generasi sekarang, sehingga perlu diingatkan kembali pada masyarakat. Sebab banyak nilai-nilai yang terkandung dalam nasihat maupun bentuk pembangunan rumah yang telah dititipkan generasi sebelumnya untuk generasi saat ini dan generasi mendatang.

Continue reading ‘Kearifan Minangkabau Makin Terkikis’

Advertisements

Urgensi Ajaran Islam dlm Pelestarian dan Pengembangan Nilai-Nilai Adat dan Budaya bagi Generasi Muda

•April 23, 2012 • 1 Comment

Gambaran budaya Minangkabau berdasarkan ABSSBK  menetapkan  “nan Bana, Nan Badiri sandiri nya” atau “Al Haq” itu hanyalah ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Yang Maha Khaliq,yang telah menciptakan Alam Semesta dan Memberikan Petunjuk/Pedoman Hidup Manusia di tengah peta alam semesta iini. Pengamalan syari’at agama (Islam) dengan keimanan (tauhid) yang benar akan mendorong setiap muslim memahami tentang arti kehidupan.

 

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan …. (Al-Baqarah, 257).

 

Maknanya ada bimbingan TAUHID dalam kehidupan dan menjadi kekuatan  merakit masa depan – di dunia dan akhirat — sejak masa kini.

 

Memerankan nilai-nilai tamaddun  Syariat Islam di dalam adat budaya ABSSBK di Minangkabau (Sumatera Barat) dikuatkan oleh Masyarakatnya terbanyak beragama Islam. Mereka paham agamanya. Mereka selalu pelihara prinsip hidup berakidah dan istiqamah. Ada identitasMinangkabau menjadi  izzah — martabat diri – pada  sikap mujahadah (kesungguhan) dengan sahsiah(personality) yang disebutkan  dalam kato pusako (adat budaya yang sudah diakui sejak lama) dan bakato nan bana (kkebenaran) melalui prinsip musyawarah dengan sikap  saling menghargai dan teguh berdiri sebagai pembela yang benar. Terbujur lalu terbelintang patah. Esa hilang dua terbilang.

 

Continue reading ‘Urgensi Ajaran Islam dlm Pelestarian dan Pengembangan Nilai-Nilai Adat dan Budaya bagi Generasi Muda’

Kato Pusako : A K A (AKAL)

•April 21, 2012 • Leave a Comment

Disadur dari buku KATO PUSAKO karya AB. Dt. Majo Indo

Aka ado ampek bagian

Partamo syariaik namonyo

Kaduo tarikaik namonyo

Katigo hakikaik namonyo

Ka ampek makripaik namonyo

Timbuenyo dari ampek macam

Partamo datang dari pikiran sandiri

Kaduo datang dari urang lain

Katigo datang dari ilham

Kaampek dari usaho, karano dipelajari

Katantuan aka ado tigo bagian

Partamo nan wajib

Kaduo nan jais buliah diyakini, atau indak diyakini

Katigo mustahil atau mungkin jadi

Caro manantukannyo ado ampek caronyo

Partamo karano diliek jo mato

Kaduo karano didanga jo talingo

Katigo karano dicium jo hiduang

Kaampek karano dirasokan jo lidah atau dirasokan dek badan

Ma uji aka ado tigo caronyo

Partamo jo dalie nan datang dari Tuhan

Kaduo jo hadih nabi atau rasul

Katigo mambadiang jo laku alam

Badirinyo aka ado limo ujiannyo

Partamo awa lawannyo akie

Kaduo lahie lawannyo batin

Katigo baiak lawannyo jahek

Kaampek ado lawannyo indak ado

Kalimo iyo lawannyo indak

Nan maha kuaso manjadikan sagalo duo

Partamo ateh bawah

Kaduo langik jo bumi

Katigo bulan jo matahari

Ka ampek lautan jo daratan

Kalimo siang jo malam

Kaanam laki laki jo padusi

Katujuah tinggi jo randah

Kasalapan hino jo mulie

Kasambilan kayo jo bangsaik

Kasapuluah sarugo jo narako

Continue reading ‘Kato Pusako : A K A (AKAL)’

Syair Sunur: Autobiografi Seorang Dagang Minangkabau

•March 14, 2012 • 3 Comments

SURYADI

ABSTRAK
Rencana ini adalah kajian ke atas Syair Sunur, sebuah karya autobiografi
dalam bentuk syair. Ia ditulis Syeikh Daud, seorang ulama dari Rantau
Pariaman di pantai barat Minangkabau, Sumatra Barat. Pengarang ini
dilahirkan di Sunur, sebuah kampung pantai dekat Ulakan, pusat ajaran
tarekat Shattariyah antara tahun 1785 dan 1790. Beliau meninggal sekitar
1855 di Singkel, kota pelabuhan di pantai barat Aceh. Tujuan rencana ini
bukan sahaja mengkaji manuskrip tulisan tangan serta edisi cetak SSn, tetapi
juga merumikan salah satu versinya dan mengkajinya secara kritis. Dengan
berbuat demikian, diharap dapat dibina kembali konteks budaya dan politik
Mi n a n g k a b a u , k h u s u s n y a R a n t a u P a r i ama n s e b a g a i l a t a r b e l a k a n g
penciptaan SSn untuk memahami peranan Syeikh Daud dalam konteks gerakan
pemodenan Islam di Rantau Pariaman pada bahagian awal kurun ke-19.
Kata kunci: Syair Sunur, Syeikh Daud, gerakan Islam, Pariaman

 

 

 

 

ABSTRACT
This paper is a study of Syair Sunur, an autobiography in the form of syair. It
was written by Syeikh Daud, a religious leader from Rantau Pariaman, in the
west coast of Minangkabau in West Sumatra. The writer was born in Sunur, a
coastal village close to Ulakan, center of Shâttariyah Sufi Order (tarekat),
sometimes between 1785 and 1790. He died in about 1855 in Singkel, a port on
the west coast of Aceh. The aim of this paper is not only to examine the
handwritten copies as well as the print editions of SSn, but also to translite-rate
one of them into Latin script and critically edit it. By doing so, it is hoped to be
able to reconstruct the cultural and political context of Minangkabau,
particularly Rantau Pariaman, as the backdrop of SSn to understand Syeikh
Daud’s role in the context of Islamic modernist movement in Rantau Pariaman
in the first half of the 19
th
Century.
Key words: Syair Sunur, Syeikh Daud, Islamic movement, Pariaman84 Sari 23

Continue reading ‘Syair Sunur: Autobiografi Seorang Dagang Minangkabau’

Kursus Adat Minangkabau

•January 5, 2012 • 7 Comments

Kursus  Adat dan Budaya Minangkabau

Kerjasama : LAKM – MAPPAS – RN – CIMBUAK –SMM

Kepada Yth :

Dunsanak yang berbahagia.

ABS-SBK, tentu tidak hanya untuk diperbincangkan

Adat dan Budaya Minangkabau tentu tidak hanya dibaca-baca tanpa kita berusaha untuk paham akan makna.

Untuk itulah,

InsyaAllah kami dari (LAKM-MAPPAS-RN-CIMBUAK-SMM) berencana untuk mengadakan Diskusi lebih tepatnya Kursus Adat dan Budaya Minangkabau yang diasuh oleh Mamak Azmi Dt. Bagindo (Sekretaris LKAM) . Kursus ini akan diadakan pada Minggu ke III tiap bulannya.

Untuk Kursus I ini akan kita adakan

–          Hari/ Tanggal      : Rabu  18 Januari 2012, jam 19.00-21.00

–          Tempat                : Sekretariat LAKM (Lembaga Adat dan Kebudayaan Minangkabau) sekaligus

kediaman Mamak Azmi Dt. Bagindo  Jl . Maramba No.5 Kelapa Gading Jakarta Utara,

–          Topik I                   : Dasar dan Pengertian Adat Minangkabau.

 

Bagi para dunsanak yang berminat silahkan  menghubungi panitia :

  1. M. Habdi (081388673063)
  2. Dewis Natra (HP : 08567521234)
  3. Arief Rangkayo Mulie (081316007756)
  4. Dedi Yusmen Dt RPN Tinggi (HP : 08111770719)

Demikian kami sampaikan, terimakasih atas perhatiannya

Salam

a.n Penyelenggara Kursus Adat dan Budaya Minangkabau

Kerjasama LAKM-MAPPAS-RN-CIMBUAK-SMM

Dewis Natra

KEJAYAAN (PENDIDIKAN) SURAU

•January 2, 2012 • 2 Comments

Oleh: Nelson Alwi (harian Haluan online)

KEBERADAAN surau dan atau sum­­bangsih­nya bagi kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Minang, tak bakal tergerus dari ingatan. Surau pernah berperan besar lagi sangat signifikan. Selain sebagai tempat beri­badah, ia menampung kakek-kakek uzur tiada berdaya, para duda, musafir atau anak dagang. Apalagi anak-anak serta remaja yang hendak menuntut ilmu: dunia dan akhirat.

 

Di surau, seorang anak terutama remaja putra akilbalig tidak hanya diwajibkan mengaji-mendalami Al-Quran atau seluk-beluk agama Islam, tetapi juga dibekali ilmu bela diri pencak silat dan kesenian. Kecuali itu, mereka pun dilatih menyimak dan menuturkan berbagai pengalaman sehari-hari, serta mendiskusikan permasalahan hidup dan kehi­du­pan.

 

Demikianlah arti kebera­daan surau, setidaknya, pada beberapa dekade akhir abad XIX hingga penggalan kedua abad ke-20. Tak heran kalau dari surau kemudian muncul banyak tukang kaba yang piawai berkisah, yang keprofe­sionalan­nya diperhitungkan di berbagai ajang seperti acara alek nagari, pesta perkawinan, khitanan dan juga di stasiun-stasiun kereta api atau di lepau-lepau kopi. Artinya adalah, surau turut serta mengukuh-kembangkan tradisi sastra(wan) lisan Mi­nang­kabau. Bahkan ada yang meng­klaim, bahwa benang merah peralihan dari sastra lisan ke sastra tulis pada etnik yang tak punya aksara ini, bisa ditelusuri melalui sejarah pertumbuhan pendidikan surau. Orang-orang surau, pada kurun tertentu, dengan gemilang berhasil membudidayakan huruf Arab menjelma menjadi aksara Arab-Melayu untuk mengkonkretkan buah pikiran mereka dalam bentuk tulisan atau buku. Dan sebagaimana diketahui, setelah mengenal huruf Latin, sederetan panjang (nama) pengarang asal daerah ini mendominasi paling tidak tiga dasawarsa awal perjalanan kesusastraan Indo­nesia modern.

 

Namun sesungguhnyalah, hampir semua tokoh kenamaan di berbagai bidang mengawali segalanya di dan dari surau. Sebutlah para intelektual (ekonom, ahli hukum, politikus, jurnalis, sejarawan, negarawan maupun diplomat ulung) seka­liber H Agoes Salim, Bung Hatta, Moh. Yamin, Tan Mala­ka, Natsir, Hamka dan lain sebagainya. Demikian pula tokoh pembaharu Sumatera Thawalib seperti H Abdul Karim Amrullah alias Inyiak Rasua (dikenal sebagai Doktor HC pertama di Indonesia) dan Zainuddin Labay El Yunusiy, atau Abdullah Ahmad pendiri perguruan Adabiah ketiganya murni berpendidikan surau dan, untuk sekian lama meng­ajar atau berkiprah di Surau Jambatan Basi Padang Panjang.

 

Continue reading ‘KEJAYAAN (PENDIDIKAN) SURAU’

Kaba Anggun Nan Tongga

•November 15, 2011 • 3 Comments

Kaba Anggun Nan Tongga adalah sebuah cerita atau kaba yang populer di lingkungan masyarakat Minangkabau. Di daerah-daerah berbahasa Melayucerita ini dikenal dengan nama Hikayat Anggun Cik Tunggal.

Kaba ini bercerita tentang petualangan dan kisah cinta antara Anggun Nan Tongga dan kekasihnya Gondan Gondoriah. Anggun Nan Tongga berlayar meninggalkan kampung halamannya di Kampung Dalam, Pariaman. Ia hendak mencari tiga orang pamannya yang lama tidak kembali dari merantau. Sewaktu hendak berangkat Gondan Gondoriah meminta agar Nan Tongga membawa pulang 120 buah benda dan hewan langka dan ajaib.

Meskipun pada awalnya dikisahkan secara lisan beberapa versi kaba ini sudah dicatat dan dibukukan. Salah satunya yang digubah Ambas Mahkota, diterbitkan pertama kali tahun 1960 di Bukittinggi.

Jalan Cerita

Di jorong Kampung Dalam, Pariaman hiduplah seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga, yang juga dipanggil Magek Jabang dan bergelar Magek Durahman. Ibunya Ganto Sani wafat tak lama setelah melahirkan Nan Tongga, sedangkan ayahnya pergi bertarak ke Gunung Ledang.Ia diasuh saudara perempuan ibunya yang bernama Suto Suri. Sejak kecil Nan Tongga sudah dijodohkan dengan Putri Gondan Gondoriah, anak mamaknya. Anggun Nan Tongga tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir berkuda, silat, dan pandai mengaji Quran serta dalam ilmu agamanya.

Pada suatu hari terdengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang Nangkodoh Baha membuka gelanggang untuk mencari suami bagi adiknya, Intan Korong. Nan Tongga minta izin pada Mandeh Suto Suri untuk ikut serta. Pada awalnya Mandeh Suto Suri tidak setuju, karena Nan Tongga sudah bertunangan dengan Gondan Gondoriah. namun akhirnya ia mengalah.

Continue reading ‘Kaba Anggun Nan Tongga’

 
%d bloggers like this: