Menggairahkan Kembali Kajian Minangkabau dan Peluang Fakultas Ilmu Budaya Unand

Oleh : Humas dan Protokol Unand

unduhan
Minangkabau adalah objek kajian dan perbincangan yang menarik. Bagaikan sebuah sumur yang senantiasa mengeluarkan air, kajian demi kajian dan perbincangan demi perbincangan mengenai Minangkabau tetap hadir sepanjang waktu. Walaupun demikian, kajian historiografis menunjukan, ada perubahan disamping ­keberlanjutan dalam kajian dan perbincangan tentang Minangkabau tersebut. Berikut ini adalah inti sari pemikiran yang disampaikan oleh Prof Dr Gusti Asnan, calon Dekan Fak Ilmu Budaya yang akan dilantik tanggal 1 Agustus 2013 besok, kepada Tim Humas Unand beberapa hari yang lalu.

Kajian atau perbincangan mengenai Minangkabau mulai marak dilakukan sejak perempat kedua abad ke-19. Gairah meneliti dan memublikasikan hasil kajian mereka ini tetap menggebu hingga dekade kedua abad ke-20. Hasil penelitian mereka itu umumnya diterbitkan dalam bentuk artikel dan buku.  Banyaknya karya tulis tersebut terlihat dalam berbagai buku bibliografi yang khusus dibuat mengenai Minangkabau, seperti M. Joustra, Overzich der Literatuur Betreffende Miangkabau (1924), Mochtar Naim, Bibliografi Minangkabau (1975), Rusli Amran, Daftar Artikel dan Buku Mengenai Sumatera Tengah Hingga Awal Abad ke-20 di Perpusatakaan KITLV (1982); Daftar Artikel dan Buku Mengenai Minangkabau di Perpustakaan Nasional RI (1987); Daftar Tulisan Mengenai Minangkabau di KITLV, Pernas RI, Arnas RI (nt), Anas Navis, Bibliografi Minangkabau (190).

Prof Dr Gusti Asnan menjelaskan bahwa sebagai cendekiawan yang meneliti dan memublikasikan karya-karya mereka mengenai Minangkabau saat itu adalah orang asing, dan sebagian lainnya adalah “urang awak”. Namun secara umum dapat dikatakan mereka adalah peneliti dan penulis “amatir”.

Ditambahkan lagi oleh Prof Dr Gusti Asnan, tema yang paling banyak mereka kemukakan adalah perubahan sosial yang terjadi di Minangkabau, terutama akibat konflik dan harmoni yang terjadi pada saat Gerakan/Perang  Paderi pada awal abad ke-19 dan Gerakan Pembaharuan Islam pada awal abad ke-20. Di samping itu juga berbagai perubahan di tengah masyarakat sebagai akibat ekspansi politik, eksploitasi ekonomi, dan  penetrasi budaya Belanda di negeri ini. Menurutnya, berbagai penelitian dan publikasi tersebut dilakukan karena minat pribadi masing-masng penulis. Walaupun demikian, ada juga “campur tangan pemerintah”, setidaknya hal ini terlihat dari didirikannya “Minangkabau Institut” tahun 1922 yang dipimpin oleh M. Joustra.

Prof Dr Gusti Asnan mengungkapkan lagi bahwa karena depresi ekonomi (zaman meleset) di awal tahun 1930-an, kemudian diiringi oleh ketidakstabilan politik dunia (perang Asia Timur Raya dan Perang Dunia II di tahun-tahun terakhir 1930-an-1945), periode revolusi (1945-1949), serta ketidakstabilan politik sepanjang tahun 1950-an dan awal 1960-an, kajian dan publikasi mengenai Minangkabau mengalami penurunan yang cukup drastis. Penurunan yang paling nampak terlihat dari keterlibatan peneliti/penulis asing. Namun, dari yang tidak banyak itu ada perubahan yang cukup menarik, Minangkabau mulai menjadi ladang kajian akademisi asing. Setidaknya ada dua disertasi yang menjadikan Minangkabau sebagai tema utamanya waktu itu, yakni karya H. Bouwman (1949), dan Josselin P.E. de Jong (1960).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa setelah melalui era krisis, maka sejak akhir 1960-an umumnya, dan sejak awal 1970-an khususnya kajian mengenai Minangkabau marak kembali. Maraknya kajian ini terlihat dari semakin banyaknya ilmuwan/akademisi yang menjadikan Minangkabau sebagai objek kajian mereka. Kajian yang mereka lakukan umumnya untuk keperluan pembuatan disertasi di berbagai universitas terkemuka di dunia, baik di Amerika Serikat, Belanda, Australia, Jerman, dan sejumlah negara lainnya. Mereka umumnya orang asing, tetapi ada juga “urang awak”. Bahkan dapat dikatakan “urang awak” inilah  sebagai inspirator kajian mengenai Minangkabau bagi kalangan akademisi ini. “Urang awak” yang dimaksud adalah Taufik Abdullah. Karya yang hampir selalu dirujuk oleh para peneliti Minangabau era itu adalah “Modernzition in the Minangkabau World” (1972).

Sejumlah akademisi yang meneliti dan mempublikasikan karya-karya mereka pada tahun 1970-an dan 1980-an (di samping Taufik Abdullah) adalah Elizabeth E. Graves, Christine Dobbin, Audrey Kahin, Tsuyoshi Kato, Werner Kraus, Akira Oki, Joel Kahn, Kenneth R. Young, Peggy R. Sanday, Mochtar Naim, Amri Marzali (untuk menyebut beberapa nama).

Penelitian dan publikasi kalangan akademisi ini tidak hanya terbatas dalam bentuk disertasi, tetapi juga buku yang secara khusus dibuat untuk keperluan masyarakat luas (dan berbahasa Indonesia). Hampir semua penulisnya “urang awak”, seperti M. D. Mansoer dkk, menerbitkan buku Sedjarah Minangkabau (1970), Fatimah Enar, Sumatera Barat 1945-1949 (1978), Mardjani Martamin, Sejarah daerah Sumatera Barat (1978), Sidi Ibrahim Buchari, Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional diMinangkabau (1981),  Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981), dlsbnya.

Di samping itu, juga ada sejumlah peneliti dan penulis yang sering disebut sebagai peneliti/penulis amatir, seoperti Rusli Amran yang menulis Sumatera Barat Plakat Panjang (1981), Sumatera Barat hingga Plakat Panjang (1985), Perang Kamang (1986), Padang Riwayatmu Dulu (1987), A. Muluk Nasution, Pemberontakan Syarikat Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1926-1927 (19881), A.A. Navis,Alam Terkembang Jadi Guru (1984), dlsbnya.

Kemudian dijelaskan lagi oleh Prof Dr Gusti Asnan, minat terhadap Minangkabau juga diperlihatkan oleh berbagai lembaga pemberi dana (penelitian). Volkwagen Stiftung, Toyota Foundation, Toyota Foundation, Sumitomo Faoundation, dan Ford Foundation adalah sebagian lembaga pemberi dana (penelitian) asing yang aktif membantu kegiatan penelitian dan publkasi hasil penelitian tentang Minangkaau saat itu. Menurut Tsuyoshi Kato dan Henk-Schulte Nordholt, saat itu interes lembaga/negara pemberi dana bantuan penelitian sangat besar terhadap Indonesia (dan Asia Tenggara). Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya saat itu adalah kawasan yang menjadi fokus perhatian “dunia”. Di samping itu pemerintah RI, baik pusat maupun daerah juga ikut memberikan bantuan penelitian yang cukup besar. Ada cukup banyak dana yang dimiliki Indonesia saat itu, karena repubik ini mengalami booming berbagai komuditas ekspor (minyak, batubara, karet, dan hasil hutan).

Di tengah gairah meneliti berbagai aspek sosial, politik dan budaya serta maraknya penerbitan karya-karya mengenai Minangkabau itulah Fakultas Ilmu Budaya – FIB -(dahulunya bernama Fakuats Sastra) Universitas Andalas lahir. Berbagai catatan sejarah mengenai hari-hari pertama kelahiran fakultas ini memperlihatkan betapa ilmuwan/akademisi kelas dunia ikut-serta dan memperlihatkan dukungan mereka pada pendirian Fakultas Sastra Unand saat itu. Sampai beberapa setelah pendirian itu, pakar-pakar sosial-budaya kelas wahid tersebut tetap datang dan memberikan kuliah umum di Fakultas Sastra, atau melibatkan sejumlah dosen serta mahasiswa Fakultas Sastra dalam sejumlah penelitian mereka.

Namun, musim berganti, zaman berubah. Tidak lama setelah Fakultas Sastra berdiri, terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam tatanan politik dunia. Asia Tenggara umumnya danIndonesia khususnya tidak lagi menjadi fokus perhatian dunia. Daerah Indo China mulai aman, rezim-rezim militer (diktator) di kawasan ini bertumbangan, dan pemerintahan demokratis mulai muncul.

Perubahan ini juga berimbas pada perhatian ilmuwan dunia pada Minangkabau, sejak tahun 1990-an tidak banyak lagi disertasi yang dihasilkan akademisi asing yang menjadikan Minangkabau sebagai objeknya. Kalaupun ada, jumlahnya tidak sebanyak tahun 1970-an dan 1980an. Namun, ada sebuah perkembangan yang menarik. Di tengah berkurangnya keterlibatan peneliti asing, muncul banyak disertasi, tesis (dan tentu saja skripsi) yang dibuat oleh ilmuwan/ akademisi “urang awak” mengenai Minangkabau. Bahkan bisa dikatakan, hingga saat kini, jumlahnya mungkin telah melampaui karya yang dihasilkan ilmuwan/akademisi asing. Sebagian disertasi tersebut adalah buah karya dosen FIB-Unand. Para peneliti dan penulisnya bukan saja dosen yang khusus bergelut dengan dunia “keminangkabauan”, tetapi juga dosen dari Jurusan Sastra Inggris misalnya.

Prof Dr Gusti Asnan menjelaskan bahwa perkembangan terakhir ini, pantas diapresiasi. Sebab di tengah “lesunya” gairah peneliti dan ilmuwan asing mengkaji Minangkabau, semangat kita mengkaji apa yang kita miliki tumbuh dengan pesat. Gejala ini perlu dipertahankan dan dikembangkan. FIB-Unand umumnya dan Jurusan Sastra Minangkabau khususnya bisa (dan harus) menjadi wadah pemicu gairah dosen dan para peneliti Minangkabau ini.

Prof Dr Gusti Asnan sangat optimis bahwa potensi kajian Minangkabau ke depan sesungguh sangat menjanjikan. Hal ini sangat terlihat dari munculnya kegairahan orang Minangkabau (baca Sumatera Barat) untuk menjadikan Minangkabau sebagai identitas mereka. Kenyataan ini tentu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan politik identitas yang marak terjadi di Indonesia akhir-aklhir ini. Pemerintahan Provinsi Sumatera umumnya serta pemerintahan kabupaten dan kota di provinsi ini seakan-akan berlomba mengaktualkan nilai-nilai keminangkabauan dalam kehidupan (warga) daerahnya. FIB umumnya dan Jurusan Sastra Daerah khususnya harus menangkap gairah ini, misalnya dengan menjalin kerjasama penelitian dan pengembangan potensi keminangkabauan yang ada di daerah-daerah tersebut.

Di samping itu menurut Prof Dr Gusti Asnan, FIB umumnya dan Sastra Minangkabau khususnya juga harus kreatif mengembangkan kajian keminangkabauan dengan melahirkan inovasi-inovasi baru, misalnya mengumpulkan sebanyak mungkin dan seteruskan digitalisasi koleksi artikel, buku, atau sumber-sumber mengenai sejarah, sastra, dan budaya Minangkabau (sehingga para peneliti bisa langsung mendapatkan sumber-sumber dan data-data yan dibutuhkan di FIB-Unand), atau visualisasi dan menghadirkan berbagai produk budaya Minangkabau dalam bentuk public history, menjalin atau meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak yang sebelumnya telah berkerjasama, baik secara formal dan tidak,  dengan FIB umumnya dan Jurusan Sastra Minangkabau khususnya.

Prof Dr Gusti Asnan sangat optimis setelah melakukan diskusi sengan sejumlah dosen di FIB-Unand, alumni, pemerhati sosial, budaya, dan sejarah Minangkabau bahwa semua gagasan yang dilontarkan ini bisa terwujud. Banyak pihak, setidaknya di daerah ini, yang menginginkan kajian Minangkabau itu bergairah kembali, sebab masih dibutuhkan banyak informasi mengenai keminangkabauan. Karena itu menurut dosen dan peneliti semua bidang sejauh ini, “selayaknya FIB-Unand merespon keinginan banyak pihak ini dengan ikut-serta menggairahkan kembali kajian mengenai Minangkabau”.

 

 Sumber : http://www.unand.ac.id/index.php/id/berita/universitas/2417-mengarahkan-kembali-kajian-minangkabau-dan-peluang-fakultas-ilmu-budaya-unand

Humas dan Protokol Un

~ by Is Sikumbang on October 20, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: